Mudik dan Tradisi Jadi Alasan Anak Muda Keturunan Tionghoa Tetap Bersemangat Rayakan Imlek

Mudik dan Tradisi Jadi Alasan Anak Muda Keturunan Tionghoa Tetap Bersemangat Rayakan Imlek
Hermawan dan Dona, pemuda Tionghoa yang hingga kini melaksanakan berbagai tradisi Imlek. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Tinggal di perantauan membuat Hermawan dan Dona begitu merindukan Tahun Baru Imlek. Bagi dua pemuda peranakan Tionghoa itu, mudik saat Imlek selalu menjadi momen spesial, bahkan hingga sekarang, setelah mereka kembali ke tanah kelahiran, Kota Semarang.

Inibaru.id - Senyum Maredonna Sutantio dan Hermawan Honggo merekah menyambut saya di Gedung Rasa Dharma, siang itu. Saya menduga, ada dua hal yang bikin mereka tersenyum. Pertama, karena Imlek sudah di depan mata, atau kedua, karena ketemu saya? Ha-ha. Bercanda!

Eh, tapi, menyoal Imlek, kedua sahabat itu memang punya kisah yang cukup menarik. Untuk alasan itu pulalah saya menemui keduanya di gedung  yang berada di Gang Pinggir, Kranggan, Kota Semarang, tersebut, belum lama ini.

Kisah menarik itu berkaitan dengan mudik menjelang perayaan Imlek. Perlu kamu tahu, laiknya mudik Lebaran, masyarakat Tionghoa juga melakukan mudik menjelang Hari Raya Imlek.

Mudik, Waktu yang Dirindukan

Maredonna, yang akrab disapa Dona, pernah merantau ke Beijing, Tiongkok. Sementara, Hermawan juga sempat menuntut ilmu ke Jakarta. Sebagai anak rantau, keduanya selalu merindukan momen Imlek untuk bisa pulang kampung ke Semarang dan bertemu keluarga.

Dona merupakan praktisi kesehatan Tiongkok yang sempat tinggal sekitar 10 tahun di Tiongkok untuk sekolah dan bekerja. Dia mengatakan, jarak yang jauh betul-betul menyulitkannya bertemu dengan keluarga, termasuk saat Imlek.

 “Selama 10 tahun di Beijing, mungkin saya hanya hanya lima kali pulang, itu pun nggak selalu pas Imlek,” kenang lelaki berkacamata yang kini telah kembali ke Tanah Air ini.

Selain karena mahalnya tiket mudik, Dona melanjutkan, waktu libur Imlek di Beijing memang cukup singkat, yaitu hanya sekitar 3-4 minggu. Inilah yang kini membuatnya begitu bersemangat menyambut Imlek.

"Senang, bersemangat karena bisa selalu berkumpul dengan keluarga!" akunya, lalu tersenyum.

Berbeda dengan Dona, Hermawan yang kala itu menuntut ilmu di Jakarta, lebih punya keleluasaan waktu untuk mudik menjelang Imlek. Bagi dia, mudik bukanlah masalah, karena banyak transportasi yang bisa dipilihnya.

“Setiap sin cia (bahasa Hokkian untuk Imlek), ya, pulang. Relatif gampang, tapi harga tiketnya pasti naik,” tutur anggota perkumpulan masyarakat Tionghoa, Boe Hian Tong, ini.

Hanya Libur Sehari? Nggak Masalah!

Berbeda dengan Hari Raya Idulfitri yang diperingati besar-besaran bahkan hingga diliburkan beberapa hari, atau Hari Raya Natal yang kerap disambung hingga Tahun Baru, gaung perayaan Imlek di Indonesia memang nggak cukup terasa.

Kendati perayaan tersebut biasanya berlangsung hingga 15 hari, libur Imlek di Indonesia hanya berlangsung satu hari. Bahkan, pada Era Orde Baru, perayaan ini konon sempat nggak dianggap pemerintah.

“Kalau kelamaan libur malah sakit badannya,” kata Dona sambil tergelak. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)<br>
“Kalau kelamaan libur malah sakit badannya,” kata Dona sambil tergelak. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menanggapi hal tersebut, baik Dona maupun Hermawan nggak ambil pusing. Jika hari libur dirasa kurang, Hermawan biasanya memilih mengambil cuti tambahan.

"Bisa ambil cuti, gampang!" ungkap Hermawan.

Sementara, menyikapi hari libur yang cuma sehari, Dona memilih pasrah dan kembali bekerja.

“Kalau kelamaan libur malah sakit badannya,” kelakar Dona, lalu tergelak, yang segera diikuti Hermawan.

Oya, perlu kamu tahu, sebagian pedagang di Pecinan yang kebanyakan merupakan peranakan Tionghoa memang biasanya sudah kembali berjualan pada tengah hari di Tahun Baru Imlek. Ada satu kepercayaan, mereka bisa buka sebentar pada hari itu, lalu tutup lagi setelah dapat pelanggan.

Yang Bikin Kangen Pas Mudik

Seperti Hermawan, Dona mengatakan, dulu yang bikin dirinya kangen pada Imlek tentu saja karena ada angpau. Namun, sekarang, lantaran sudah menikah, keduanya nggak lagi diberi angpau oleh orang tua.

“Batas dapat angpau ketika married, karena udah lepas dari orang tua,” imbuh Hermawan, yang juga mengungkapkan kalau dirinya tetap bersemangat dengan Imlek kendati nggak lagi dapat angpau.

Sebagai gantinya, kata Dona, kini para anak yang memberikan angpau kepada orang tua. Selain itu, anak yang sudah menikah juga bisa memberikan angpau kepada keponakan dan sudara.

“Nggak banyak nggak apa-apa, yang penting memperlihatkan ke orang  tua kalau kita gantian (memberi),” sambungnya.

Setelah dewasa, hal yang paling bikin keduanya antusias saat momen Imlek adalah suasana kumpul keluarga yang memang jarang mereka dapatkan pada kesempatan lain.

Hermawan mengaku, saat paling menyenangkan adalah ketika saling berkunjung untuk bersilaturahmi. Kesempatan itu biasanya dimanfaatkannya untuk menyambung seduluran.

“Kadang ada ponakan baru, jadi saling mengenal. Atau, juga kesempatan biar ndak saling benthik (bertikai),” tuturnya.

Sementara, untuk Dona, hal paling dia nantikan saat Imlek adalah masakan sang ibu.

“Kangen, pengin masakane mama. Itu yang bikin inget sampek sekarang," kenangnya, menghela napas, lalu melanjutkan, "Hal kecil ndak mungkin hilang!”

Ah, momen apapun, keluarga memang selalu jadi tempat pulang yang dirindukan. Hiks!

Mendengar mereka berkisah bikin saya tiba-tiba kangen rumah dan pengin mudik juga! Kamu, apa yang paling kamu rindukan pada momen mudik, Millens? (Zulfa Anisah/E03)

Tags :