Motor Dicuri tapi Tetap Antar Go-Food, Lelaki Ini Dapat Rp 90,6 Juta

Motor Dicuri tapi Tetap Antar Go-Food, Lelaki Ini Dapat Rp 90,6 Juta
Anton Budi pengemudi ojek daring dan Fitro Dharma Hermawan pelanggan ojek daring. (Kompas/Vitorio Mantalean)

Tetap mengantarkan pesanan makanan pelanggan meski motornya baru dicuri, Anton justru mendapatkan pengganti yang lebih banyak. Dia mendapatkan uang hasil penggalangan dana Rp 90 juta yang dikumpulkan pelanggannya.

Inibaru.id – Pengemudi ojek daring, Anton Budi, yang sempat kehilangan sepeda motor tapi tetap mengantarkan pesanan makanan pelanggan akhirnya mendapatkan rezeki nomplok. Nggak tanggung-tanggung, Anton justru mendapatkan uang senilai Rp 90,6 juta.

Laman Kompas, Selasa (28/5/2019) menulis, Anton kehilangan sepeda motornya lima hari lalu. Fitro Dharma Hermawan, lelaki yang memesan makanan padanya merasa iba sehingga memutuskan untuk melakukan penggalangan dana lewat platform daring demi menggantikan sepeda motor Anton yang hilang. Nggak disangka, dalam waktu yang sangat singkat dana yang terkumpul mencapai angka yang cukup fantastis.

Nggak hanya uang hasil donasi, Anton bahkan mendapatkan rezeki tambahan. Go-Jek memberikan sepeda motor pengganti karena menganggapnya telah melakukan pekerjaan yang luar biasa.

“Saya nggak tahu soalnya saya gaptek. Tahunya cuma telepon dan memakai WhatsApp. Macam mimpi saja di siang bolong. Padahal uang yang saya butuhkan nggak sebanyak itu. Saya berterima kasih banyak sama Mas Fitro,” ucap Anton.

Fitro pun mengunggah kisah Anton di media sosial. Dia terkesan dengan kegigihan Anton yang tetap mengantarkan pesanannya dengan berbagai cara.

“Soalnya di dalamnya minuman es, jadi kalau kelamaan nggak diantar rasanya bisa berubah. Lagipula, dapur saya kan ngebul di Go-Jek. Jadi saya harus komitmen dan tanggung jawab sama pekerjaan,” lanjutnya.

Selain menjadi pengemudi ojek daring, Anton juga pekerja sebagai buruh kontrak di perusahaan makanan dan minuman. Baginya, menjadi pengemudi ojek daring bisa memberikan tambahan pendapatan demi menafkahi istri dan anak.

“Saya ngontrak di Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Biasanya Rp1 juta per bulan. Saya ada tiga kontrakan buat anak, saya dan istri, dan tempat jualan kelontongan istri. Anak saya juga mau masuk kuliah jadi butuh biaya,” ceritanya.

Saat tahu bahwa dirinya mendapatkan uang Rp 90 juta, hal pertama yang dipikirkan Anton adalah nasib anak-anaknya.

“Saya ingin anak saya mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Jangan seperti orang tuanya yang jadi buruh. Jadi yang utama ya buat anak-anak sekolah,” pungkasnya.

Semoga Pak Anton saja bisa mewujudkan keinginannya untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya, ya Millens. (IB09/E04)