Menyandang Disabilitas, Mbah Semi Hidup Sebatang Kara

Seorang nenek dengan disabilitas di Purworejo hidup sebatang kara. Dia tinggal di rumah reyot peninggalan orang tuanya.

Menyandang Disabilitas, Mbah Semi Hidup Sebatang Kara
Mbah Semi yang hidup sebatangkara di rumah reyot. (Detik.com/Rinto Heksantoro)

Inibaru.id – Masa tua biasanya dihabiskan untuk menikmati hasil jerih payah ketika muda. Berkumpul dengan keluarga menjadi pilihan sejumlah orang. Namun, hal itu nggak berlaku bagi nenek satu ini. Di usia senjanya, dia hanya hidup seorang diri.

Masyarakat setempat memanggilnya Mbah Semi. Warga RT 01/RW 04, Desa Hulosobo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo itu hidup sebatang kara di rumah kayu reyot peninggalan orang tuanya. Nggak ada satupun keluarga yang menemani Mbah Semi menjalani masa tuanya.

Lebih ironis karena nenek yang belum pernah menikah itu menyandang disabilitas. Tangan kanan Mbah Semi lumpuh sejak kecil dan kaki sebelah kanannya juga nggak tumbuh dengan normal sehingga terlihat lebih kecil.

"Ini (lumpuh) sudah sejak kecil. Dulu awalnya demam terus sakit," tutur Mbah Semi, seperti ditulis Detik.com, Rabu (28/3/2018).

Kendati terganggu dengan fisiknya yang terbatas, Mbah Semi tetap bersyukur karena selalu diberi kesehatan. Dia juga mengaku jarang sakit sehingga nggak perlu bantuan orang lain untuk mengurusnya.

Untuk makan, Mbah Semi mengandalkan kebun yang nggak jauh dari rumahnya. Sesekali, Mbah Semi memetik daun singkong di kebun itu untuk dimasak. Nggak jarang, warga sekitar juga memberi makanan kepada nenek ini. Hal itu diungkapkan Kepala Desa Hulosobo Ngatiyah.

"Para tetangga sering ngasih bantuan. Dari pemerintah juga ada bantuan rastra, selain itu juga ada program bantuan dari PKK untuk lansia meskipun cuma setahun sekali. Kalau rumah memang belum diperbaiki, dengan pertimbangan nanti malah nggak kepakai rumahnya kalau sudah tidak ditempati Mbah Semi, karena beliau kan nggak punya anak," tutur Ngatiyah.

Mbah Semi memang sosok yang mandiri ya, Millens. Di tengah keterbatasannya, dia nggak mengeluh dan pantang menyerah menjalani hidup. Semoga sehat selalu ya, Mbah. (ANG/IF)