Mirip India, Inilah 'Twin Town' Indonesia, Desa yang Dihuni Puluhan Anak Kembar  

Mirip India, Inilah 'Twin Town' Indonesia, Desa yang Dihuni Puluhan Anak Kembar  
Ilustrasi: Kelahiran banyak anak kembar di Desa Jonggrangan hingga kini belum diketahui alasannya. (Buzzfeed/Vintageduckphotography)

Di India, ada dua desa yang dikenal memiliki ratusan pasangan kembar. Nah, di Indonesia, kamu juga bisa menemukan desa yang dihuni banyak anak kembar, yakni Desa Jonggrangan, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah.

Inibaru.id – Desa Qingyuan yang berada di lereng Pegunungan Chongqing, Tiongkok, dikenal dunia lantaran hampir setiap kelas sekolah dasar di sana diisi sepasang anak kembar. Bagi kita, mungkin ini aneh, tapi nggak untuk penduduk "desa kembar" yang dihuni sekitar 39 pasang anak kembar itu. 

Namun, ini belum seberapa. Di India, ada dua desa yang dijuluki "twin town" karena dihuni ratusan pasang orang kembar. Yang pertama adalah Mohammedpur Umari yang dihuni 100-an pasang anak kembar. Lalu, ada Kodinhi, desa 2.000 keluarga yang dihuni 400-an pasang anak kembar. 

Menyoal desa yang dihuni anak-anak kembar, Indonesia juga memilikinya. Bertandanglah ke Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan jangan heran kalau berpapasan dengan orang-orang yang punya tampang mirip.

Yap, desa dengan populasi 4.300 orang ini memang dihuni puluhan pasang anak kembar. Dari total 10 dukuh di desa yang berada nggak jauh dari pusat kota Klaten ini, setidaknya ada lima dukuh yang mempunyai anak kembar. Salah satu dukuh, yakni RW 001, bahkan dihuni 10 pasang anak kembar. Nah!

Dari keterangan pemda setempat, ada sekitar 20 pasang anak kembar identik di Desa Jonggrangan. Sebagian besar dari mereka berjenis kelamin sama. Yang tertua berusia lebih dari 50 tahun, sedangkan yang paling muda tiga tahun.

Belum Diketahui Penyebabnya

Desa yang dihuni puluhan pasangan kembar, Desa Jonggrangan di Klaten, Jawa Tengah. (Lengser.wordpress)
Desa yang dihuni puluhan pasangan kembar, Desa Jonggrangan di Klaten, Jawa Tengah. (Lengser.wordpress)

Jika penduduk Desa Qingyuan mengklaim air sumur tua menjadi alasan banyak warga desa memiliki anak kembar, penduduk Desa Jonggrangan justru nggak punya mitos apa pun terkait kelahiran kembar yang banyak terjadi di sana. Yang mereka tahu, fenomena itu baru terasa pada 2000-an. 

Perlu kamu tahu, dalam dunia kedokteran, kembar dibagi menjadi dua, yakni kembar identik dan fraternal. Anak yang lahir kembar identik berarti berasal dari satu sel telur (monozigotik), sedangkan kembar fraternal lahir dari dua sel terlur yang berbeda (dizigotik).

Pada kembar identik, zigot yang dibuahi membelah menjadi embrio berbeda, lalu berkembang dan mereka berbagi rahim. Sementara, peristiwa kembar fraternal yang dibuahi dua sperma berbeda, berkembang sendiri-sendiri.

Peristiwa ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari usia ibu, jumlah anak yang sudah dimiliki sebelumnya, negara tempat tinggal, dan faktor genetika. Anak kembar fraternal sangat mungkin memiliki fisik berbeda, sedangkan kembar identik sangat mungkin mirip.

Gimana Biar Nggak Salah Sebut?

Pasangan kembar dari Desa Jonggrangan. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
Pasangan kembar dari Desa Jonggrangan. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Memiliki satu tetangga yang kembar mungkin masih bisa dengan mudah diidentifikasi. Namun, kalau dalam satu desa ada puluhan warga yang memiliki wajah identik, gimana membedakannya.

Mungkin, inilah yang dialami warga Desa Jonggrangan. Tanpa penanda yang spesifik, memang sangat sulit membedakan pasangan pasangan kembar identik. Nggak cuma fisik, mereka juga kadang memiliki kesamaan perilaku lantaran berasal dari sel terlur yang sama.

Namun demikian, warga mengaku nggak kesulitan membedakan para pasangan kembar itu. Meski identik dan bisa bikin banyak orang kesulitan membedakannya, beberapa orang dari mereka bisa dibedakan dari bekas luka di tubuh. Ada juga yang dibedakan dari daging tumbuh pada bagian telinga.

Sementara, sebagian orang yang punya fisik sangat mirip biasanya akan membuat perbedaan tertentu, misalnya dengan mengecat rambut untuk membedakan dia dari kembarannya. Hm, unik juga ya, Millens!

Wah, buat kamu yang jarang melihat orang kembar, silakan datang ke desa ini. Ehm, atau, kalau pengin punya keturunan kembar, boleh juga cari jodoh di sana! Ha-ha. (Goo/IB09/E03)