Salah Klaim, Syahroni Mohon Maaf dan Klarifikasi Isu Telur Palsu Hanyalah Hoaks

Sempat heboh di media sosial terkait "pembuktian telur palsu", kini justru diketahui bahwa telur yang diklaim palsu itu justru hoaks. Sosok yang membuktikan kebenaran itu mengaku salah dan meminta maaf. Gimana selanjutnya?

Salah Klaim, Syahroni Mohon Maaf dan Klarifikasi Isu Telur Palsu Hanyalah Hoaks
Syahroni didampingi Polri dan peneliti mengklarifikasi isu telur palsu.

Inibaru.id – Syahroni B Daud, pelaku sekaligus penyebar video telur palsu, akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada publik sekaligus mengklarifikasi temuan telur yang sebelumnya disebut palsu. Mengungkapkan penyesalannya, pria 49 tahun tersebut mengaku dirinya nggak memiliki pengetahuan yang cukup ketika memeriksa telur yang didapatnya.

Kecurigaan Warga Jalan Kramat Jaya Jakarta itu bermula ketika melihat bentuk telur yang diperoleh anaknya dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang sebelumnya dia sebut mirip ciri-ciri telur palsu yang dibacanya dari pesan berantai di Whatsapp. Setelah menguji telur itu, Roni lantas pergi ke Pasar Johar Baru untuk menunjukkan hasilnya pada sejumlah pedagang telur.

Demi lebih meyakinkan para pedagang, Roni bahkan ikut mempraktikkan cara menguji palsu atau tidaknya telur sesuai petunjuk yang juga didapatnya dari kelas obrolan Whatsapp.

“Kuning telurnya kenyal sekali. Selain itu, kertas yang dipakai membungkus (membran telur) juga tebal, jadi sesuai ingatan saya, itu sesuai dengan yang palsu,” kata Roni.

Rekaman aksi "pembuktian telur palsu" selama 2 menit 38 itu sempat diunggah orang ke Youtube dan menjadi viral. Namun, saat ditanya siapa yang merekam dan mengunggah video tersebut, Roni mengaku nggak tahu.

Bareskrim Mabes Polri langsung melakukan penyelidikan saat video tersebut menyebar dan meresahkan masyarakat. Berkoordinasi dengan pihak terkait, polisi melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah telur yang beredar di pasaran. Hasilnya menunjukkan bahwa telur-telur tersebut terbukti layak dikonsumsi karena sama sekali nggak mengandung silikon.

Menanggapi hasil uji laboratorium tersebut, Kepala Sub Direktorat II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Asep Safrudin mengimbau warga untuk nggak gegabah menyebarkan isu tanpa menguji kebenarannya lebih dulu. Tindakan Roni menyebar isu telur palsu ini, lanjutnya, tentu merugikan para pedagang telur.

“Kalau ada yang menemukan bahan pangan yang mencurigakan, lebih baik dilaporkan saja ke kantor polisi atau Dinas Ketahanan Pangan daripada memviralkannya tanpa bukti yang akurat,” tegas Asep.

Status Syahroni saat ini masih dalam pemeriksaan polisi. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur pidana, nggak menutup kemungkinan Syahroni akan dijadikan tersangka.

Yap, begitulah hoaks, Millens. Ada baiknya kamu cek dulu kebenaran suatu berita biar nggak berhubungan dengan pihak berwajib. Malu juga kan kalau ketahuan seperti kasus ini. (AS/GIL)