Milenial Jepara Berharap Ada Pelajaran Khusus HIV AIDS dan <em>Sex Education</em>
Masih banyak generasi milenial Jepara yang belum memahami HIV AIDS. (Inibaru.id/ Isyah M)

Milenial Jepara Berharap Ada Pelajaran Khusus HIV AIDS dan Sex Education

Banyak milenial Jepara yang nggak tahu kalau daerahnya menjadi kabupaten dengan angka HIV AIDS tertinggi di Jawa Tengah. Mereka pun berharap ada pelajaran khusus seputar AIDS dan kesehatan reproduksi agar pemuda pemudi Kota Ukir tahu betul bahayanya.

Inibaru.id - Menjadi kabupaten dengan jumlah penderita AIDS tertinggi di Jawa Tengah nggak menjamin penduduk Jepara memahami penyakit mematikan ini. Bahkan, generasi muda Jepara masih minim pengetahuan akan HIV AIDS. Nggak sedikit dari mereka yang laget ketika tahu bahwa Bumi Kartini paling banyak penderitanya.

Seifaa Azalea Efendy menjadi salah seorang milenial yang terkejut. Perempuan 16 tahun ini mengaku baru tahu Jepara peringkat satu dalam kasus temuan pengidap HIV AIDS, saat upacara di sekolahnya.

"Waktu itu ada Pak Polisi yang jadi pembina upacara. Saat itu ia memberi amaat tentang HIV AIDS di Jepara itu teratas. Kami sempat bertanya-tanya. Ya intinya di situ kami diberikan pengetahuan agar tidak melakukan seks bebas, guna menghindari penyakit itu," kata pelajar SMAN I Jepara, Sabtu (30/11).


Seifaa A Efendy (kanan) bersama rekannya Adinda Nabila (kiri). (Inibaru/ Pranoto)

Namun demikian, dia mengaku nggak mendapatkan pendidikan seks remaja secara khusus di sekolahannya. Ihwal tersebut, dia dapatkan biasanya terselip dalam pelajaran biologi. Karena penasaran, terkadang dia mencari literatur atau berita di internet.

Baca juga: Pengidap HIV AIDS di Jepara Membludak, Kenapa?

Baca juga: Jangan Khawatir, HIV AIDS Nggak Menular Lewat Sentuhan Fisik Ringan


"Setahu saya itu, nularnya lewat seks bebas, darah, air susu ibu, gitu. Maka dari itu, kita harus bersikap dan menjaga pergaulan. Nah kalau saya harapannya ada sosialisasi khusus. Tidak hanya melarang-larang, tapi juga kasih tahu alasannya apa," jawabnya tegas.

Hal itu diungkapkan pula Adinda Nabila. Menurutnya, belum ada pelajaran khusus terkait HIV AIDS ataupun sex education. Bahkan di lingkup keluarganya, hal itu menjadi sesuatu yang tabu.

Sex education bisa jadi salah satu bekal menghindari seks bebas yang berpotensi tertular HIV. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

"Orang tua tidak pernah menyinggung juga, karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu," paparnya.  

Remaja lain, Muhammad Yusuf Edo Saputro, berkata serupa. Di sekolahannya, SMAN I Bangsri belum ada pelajaran khusus tentang reproduksi remaja atau HIV AIDS.

"Belum ada sih kalau khusus itu. Kami baru mengusulkannya, mudah-mudahan segera ada," tutur dia.

Edo berkata, pengetahuan terkait HIV AIDS justru diketahuinya dari BKKBN. Namun, banyak di antara teman-temannya, yang masih belum paham.

Dia beranggapan ketidaktahuan ini membuat banyak mitos lahir. Di antaranya, kalau bersalaman, berdekatan atau kena keringat dari penderita HIV AIDS akan tertular. Padahal penularannya nggak segampang itu.

"Kalau saya tahunya memang dulu Bangsri banyak penderitanya. Tapi setelah kecamatannya di pecah jadi Kembang dan Bangsri, ternyata paling banyak di Kembang, terutama di Desa Kancilan. Bahkan ada yang lucu, kalau ada teman yang dari Desa Kancilan teman-teman itu kok kayaknya menjaga diri (jaga jarak), padahal kan tidak apa-apa," ungkapnya.

Karena itu, menurutnya pelajaran mengenai HIV AIDS sangat penting untuk meluruskan informasi dan membentengi masyarakat dari faktor-faktor penyebab.

Hm, betul juga ya apa yang disampaikan Edo, pelajaran khusus memang diperlukan biar semua orang paham bahaya penyakit ini. (Pranoto/E05)