Meski Tingkatkan Kebersihan, Pedagang Kecil Nggak Benar-Benar Terapkan Physical Distancing

Meski Tingkatkan Kebersihan, Pedagang Kecil Nggak Benar-Benar Terapkan Physical Distancing
Giyanto, penjual rujak nggak menerapkan physical distancing saat melayani pembeli. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Harus berjualan di tengah pandemi corona untuk memenuhi kebutuhan, beberapa pedagang kecil di Kota Semarang ini nggak benar-benar terapkan physical distancing. Satu-satunya pencegahan yang mereka lakukan adalah sering cuci tangan setelah bertransaksi.  

Inibaru.id - Untuk mengurangi penularan virus corona, pemerintah mengimbau masyarakat menerapkan physical distancing. Namun nampaknya hal ini kurang diterapkan oleh pedagang kecil yang ada di Kota Semarang. Saat saya berkeliling pada Rabu (1/3) pagi, saya nggak melihat ada jarak antara pedagang dengan pembeli. Yap, proses jual beli berlangsung seperti biasanya.

Pagi itu saya menenui Giyanto, penjual rujak di sekitar SMP 13 Kota Semarang yang tengah melayani pembeli. Dia nampak memotong-motong berbagai buah dengan menggunakan tangannya sebagai tatakan. Meskipun bikin saya agak meragukan kebersihannya, tapi tiga pembeli datang silih berganti melarisi dagangannya.

Dalam bertransaksi, Giyanto juga terlihat nggak menjaga jarak dengan pelanggannya. Yap, seperti nggak ada yang berubah. Saat saya menanyakan perihal physical distancing padanya, Giyanto terlihat nggak paham dengan anjuran pemerintah tersebut.

“Saya biasa aja dalam menjaga jarak,” tutur Giyanto.

Namun pada situasi sekarang, Giyanto mengaku jadi sering cuci tangan setelah melayani pembeli.

Hal senada juga disampaikan oleh Eni Angraeni. Perempuan satu anak ini mengaku takut dengan penyebaran corona di Kota Semarang. Namun karena kebutuhan sehari-hari, dia nggak bisa mengikuti imbauan pemerintah untuk bekerja dari rumah saja.

Chacha memakai masker dan hand sanitizer saat berjualan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Chacha memakai masker dan hand sanitizer saat berjualan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Sama dengan Giyanto, Eni juga nggak punya trik khusus untuk menjaga jarak dengan pelanggan. Dia juga mengaku lebih sering cuci tangan ketika berjualan.

“Habis melayani pembeli saya cuci tangan,” tuturnya.

Hal yang lebih melegakan saya dapatkan saat saya membeli capuccino cincau di sekitar Sampangan, Semarang. Berada jauh dari tempat Giyanto dan Eni berjualan, Chacha terlihat lebih menjaga kebersihan. Perempuan muda ini terlihat mengenakan masker medis dan menyediakan sebotol kecil hand sanitizer yang diletakkan di antara dagangannya.

Chacha mengaku semenjak corona menjadi pandemi, bos di tempatnya bekerja menyediakan hand sanitizer untuknya.

“Kalau pemiliknya ngasih saya hand sanitizer. Kalau masker ini saya beli sendiri,” suara Chacha agak tertahan di balik masker.

Sesaat setelah pesanan saya siap, Chacha menyerahkan pesanan ke saya dan kulit kami sempat bersentuhan.

“Setelah melayani penjual saya selalu cuci tangan mbak,” ungkap Chacha yang bikin saya lega.

Jujur saya agak khawatir dengan kualitas kebersihan makanan para pedagang ini karena saya nggak melihat ada sabun serta sumber air yang mengalir untuk cuci tangan. Namun saya tetap berpikiran positif terhadap mereka.

Yuk, tetap jaga kebersihan di manapun berada. Setuju, Millens? (Zulfa Anisah/E05)