Tukang Parkir Tunadaksa yang Terus Bersemangat demi Sekolahkan Anak

Meski nggak pernah mengeluh dengan keterbatasan yang dimilikinya, pria tunadaksa ini sempat iri pada satu hal, yakni pada mereka yang bisa memboncengkan istrinya dengan sepeda motor.

Tukang Parkir Tunadaksa yang Terus Bersemangat demi Sekolahkan Anak
Agus Slamet, tukang parkir tunadaksa yang terus semanget bekerja (Tribun Jateng/Rifqi Gozali)

Inibaru.id – Kalau kamu pernah mengunjungi Rumah Makan Sari Rasa Garang Asem di Kudus, Jawa Tengah, mungkin kamu pernah bertemu sosok tegar ini. Namanya Agus Slamet, lelaki tunadaksa yang menjadi juru parkir di wilayah tersebut. Dia begitu semangat bekerja, melampaui kekurangan fisiknya yang (maaf) kehilangan kedua kakinya.

Seperti ditulis Detik.com, Sabtu (24/3/2018), kendati memiliki keterbatasan fisik, Agus nggak ragu mengatur kendaraan yang akan masuk atau keluar rumah makan terkenal di Kota Kretek tersebut.

“Saya nggak pernah sekalipun putus asa menjalani hidup ini. Saya sadar jika ini sudah ditentukan,” akunya, tegas.

Keluarga adalah salah satu alasan Agus untuk terus semangat bekerja, terutama kedua anaknya yang masih bersekolah dan membutuhkan biaya. Meski sang istri, Nani Sulisyanti, juga bekerja sebagai pengrajin payet, Agus tetap merasa memiliki tanggung jawab untuk mencari nafkah, meski memiliki keterbatasan.

“Kalau soal hasil, ya, dicukup-cukupkan agar bisa membayar kontrakan rumah Rp 3 juta per tahun, biaya makan, dan biaya sekolah anak,” terang Agus.

Anak pertama Agus kini duduk di kelas X SMA Al Maruf dan anak keduanya duduk di kelas 1 SD Getas Pejaten. Keduanya di Kudus. Agus berharap kedua anaknya bisa bersekolah setinggi mungkin, nggak seperti dirinya yang gagal menamatkan SMP.

Setiap hari Agus bekerja dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Pria yang tinggal di Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, ini mengaku sudah menjalani profesi ini sejak kelas 3 SD. Saat itu, dia juga terdesak kebutuhan ekonomi karena keluarganya juga berasal dari kalangan kurang mampu. Dia juga nggak mau mereka terbebani kondisinya yang nggak memiliki kaki sejak lahir.

Nah, untuk mendukung mobilitasnya saat mengatur kendaraan yang parkir, Agus menggunakan kedua telapak tangan sebagai pengganti kaki. Dia bertahan dengan panasnya aspal yang membakar telapak tangannya. Satu hal yang diyakininya, yakni mencari nafkah yang halal demi anak dan istri.

Agus bukan tipe orang yang gampang mengeluh. Kendati begitu, kadang dia merasa iri melihat orang lain bisa memboncengkan istrinya dengan sepeda motor. Dia berharap pemerintah lebih memperhatikan orang-orang seperti dirinya dengan cara memberikan keterampilan khusus atau peluang pekerjaan tertentu yang lebih cocok untuk orang seperti dirinya.

Yap, semoga semua impian Pak Agus ini bisa segera tercapai ya, Millens! (AW/GIL)