Menyoal Pembangunan Sungai Bawah Tanah Dalam Debat Pilwalkot Solo, Mungkinkah?

Menyoal Pembangunan Sungai Bawah Tanah Dalam Debat Pilwalkot Solo, Mungkinkah?
Bagyo Wahyono akan membuat sungai bawah tanah. (Merdeka)

Dalam Debat Publik Pilwalkot Solo 2020, calon walikota nomor urut 02 Bagyo Wahyono berwacana membangun sungai bawah tanah di Solo agar Kota Bengawan ini terbebas dari banjir. Mungkinkah dilakukan?

Inibaru.id - Debat Pilwalkot Surakarta Putaran ke-2 memunculkan satu topik yang menarik perhatian publik. Salah satunya yakni ketika paslon nomor urut 02 Bagyo Wahyono-Fx Rahardjo (Bajo) berjanji, untuk melindungi Kota Solo dari banjir, pihaknya akan membuat sungai bawah tanah.

Dalam debat yang disiarkan langsung via TATV itu, Bagyo menjanjikan tiga hal, yakni membangun jalan layang, kereta bawah tanah, dan sungai bawah tanah. Bahkan, dia mengklaim bahwa Solo punya rekam historis dari sungai bawah tanah tersebut.

“Dulu pernah ada sungai bawah tanah zaman keraton, Belanda. Salah satunya nanti akan bisa mengurai kemacetan dan banjir,” ujar dia, Kamis (4/12/2020).

Pernyataan ini pun segera menjadi perdebatan tim Cek Fakta Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jateng. Bertempat di Hotel @Hom Semarang, tim yang terdiri atas para jurnalis dari pelbagai media digital di Jateng itu pun segera mencari data pembanding.

Tim Cek Fakta Amsi Jateng sedang menggelar cek fakta debat pilwalkot Solo. (Amsi)
Tim Cek Fakta Amsi Jateng sedang menggelar cek fakta debat pilwalkot Solo. (Amsi)

Menurut Arthur Palmer dalam Cave Geology, sungai bawah tanah muncul nggak lepas dari terbentuknya gua-gua karst (kapur). Gua itu merupakan bentukan rongga kosong di bawah tanah hasil pelarutan batuan yang soluble dengan ukuran yang cukup besar, sehingga memungkinkan manusia memasukinya.

Sementara, strukur tanah di Kota Solo nggak demikian. Menurut data Rencana Program Investasi Jangka Panjang (RPJIM) Surakarta, sebagian besar tanah di Solo tersusun atas tanah liat berpasir, termasuk dalam jenis regosol kelabu. Kemudian, pada bagian utara terdiri atas jenis tanah grumosol. Sementara, pada bagian timur laut merupakan litosol mediteran.

Dari data itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa wacana calwalkot nomor urut 02 untuk membuat sungai bawah tanah yang besar guna mengatasi banjir tidaklah berdasar. Sebab, sungai bawah tanah umumnya terbentuk di dalam tanah tanah kapur. Sementara, kontur tanah di Solo nggak demikian.

Strukutur tanah karst mungkin dimiliki oleh daerah-daerah sepeti Wonogiri, Gunung Kidul, dan Rembang.

Terkait hal tersebut, calon walikota nomor urut 01 Gibran Rakabuming Raka juga sempat menanyakan kebenaran wacana sungai bawah tanah ini. Namun, dalam perdebatan itu Bagyo bersikukuh bahwa hal tersebut mungkin dilakukan.

“Lo, kamu itu jangan meremehkan. Belanda saja yang negaranya di bawah permukaan laut bisa mengatasi,” sergah Bagyo.

Nah, kalau menurut kamu, Solo bisa bikin sungai bawah tanah nggak sih? (Audrian F/E03)