Menyoal Kata 'Anjay' yang Dipermasalahkan Komnas PA, Seberapa Esensial?

Menyoal Kata 'Anjay' yang Dipermasalahkan Komnas PA, Seberapa Esensial?
Ilustrasi: Kata 'anjay' dianggap bisa membuat orang masuk penjara. (Unsplash)

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) merilis pernyataan, menggunakan kata 'anjay' bisa berujung pidana. Seberapa esensial mempermasalahkan kata yang saat ini tengah viral di media sosial tersebut?

Inibaru.id - Belum lama Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) merilis pernyataan terkait kata “anjay”.  Pihaknya meminta penggunaan kata yang merupakan bentuk halus dari kata "anjing" itu dihentikan sekarang juga karena bisa berpotensi pidana.

Pernyataan ini pun viral di media sosial. Nggak cuma warganet, sejumlah kalangan pun turut menganggapnya sangat serius dan berkomentar, mulai dari ahli bahasa, DPR, hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Sebelumnya, Ketua Komnas PA Arist Merdeka mengatakan kata “anjay” merupakan bentuk kekerasan verbal. Ini didasarkan UU RI No 35 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak. Menurutnya, penggunaan kata yang sebetulnya nggak hanya bermakna harfiah sebagai umpatan itu bisa berujung pidana.

“Lebih baik jangan menggunakan kata ‘anjay’. Ayo kita hentikan sekarang juga!” seru Arist, yang juga menjelaskan bahwa makna "anjay" juga harus dilihat dari berbagai sudut pandang.

Menurutnya, kata “anjay” nggak mengandung unsur kekerasan verbal kalau digunakan sebagai pengganti ucapan salut dan bentuk kekaguman atas suatu peristiwa. Sementara, kata tersebut dapat mengandung kekerasan verbal apabila digunakan untuk merendahkan martabat seseorang.

Berlebihan

Anggota Komisi III DPR RI F-PPP Arsul Sani. (Jpnn/M Fathra Nazrul Islam)
Anggota Komisi III DPR RI F-PPP Arsul Sani. (Jpnn/M Fathra Nazrul Islam)

Anggota Komisi III DPR RI F-PPP Arsul Sani menanggapi pernyataan Komnas PA ini sebagai tindakan yang berlebihan atau lebai. Pidana karena kata “anjay”, lanjutnya, malah bisa menimbulkan masalah kriminalisasi yang berlebihan.

"Untuk hal-hal yang belum jelas apakah itu merupakan tindak kekerasan verbal, sebaiknya jangan sedikit-sedikit dinilai bisa dibawa ke ranah pidana. Nanti hukum pidana kita benar-benar menjadi 'over-kriminalisasi'," ujar Arsul, yang menganggap Komnas PA nggak berhak melarang, cuma mengimbau.

Sementara, Wakil Ketua Komisi III DPR F-Gerindra Desmond J Mahesa menganggap tindakan Komnas PA ini hanyalah bentuk mencari popularitas. Dia meminta pihak Komnas PA untuk fokus saja pada tugasnya melindungi anak ketimbang mengurusi penggunaan kata “anjay”.

Selain anggota DPR, ahli bahasa pun turut angkat bicara. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Abdul Khak menilai, sejatinya bahasa bersifat netral. Menurutnya, penggunaan “anjay” pun harus dilihat dari niat sang penutur.

"Misalkan saya bilang anjing, itu hewan berkaki empat, netral. Nah, lalu kita gunakan, tergantung penggunaannya. Kalau saya pakai mengumpat, ya mengumpat, jadinya Anda tersinggung," ungkap Khak.

Berawal dari Lutfi Agizal

Pernyataan Komnas PA terkait pelarangan kata
Pernyataan Komnas PA terkait pelarangan kata "anjay" (Twitter)

Lutfi Agizal menjadi perbincangan warganet setelah mengatakan kata "anjay" bisa merusak moral bangsa. Pernyataan yang diunggah pacar Salshadilla Juwita Indradjaja, putri dari artis Iis Dahlia, di media sosial itu pun segera menuai banjir komentar, termasuk dari kalangan selebritas.

Kejadian ini dipercaya bermula ketika Lutfi menyindir hubungan Rizky Billar dan Lesti Kejora. Kendati nggak secara gamblang menyebutkan nama publik figur tersebut, warganet menganggapnya demikian. Lalu, Lutfi mengunggah konten tentang "anjay di kanal Youtube-nya.

Kemudian, muncullah sebuah surat yang juga viral dari Komnas PA terkait kasus "anjay" yang dilaporkan Lutfi Agizal. Sementara, nggak banyak warganet mengetahui bahwa Komnas PA dengan KPAI adalah dua organisasi yang berbeda.

"KPAI masih berproses menangani persoalan yang diadukan ini," kata Retno Listyarti, selaku Komisioner KPAI, menyangkal adanya keterlibatan KPAI dalam surat tersebut.

Duh, duh, ini sebetulnya ada apa, ya, Millens? Ada yang bisa kasih tahu nggak duduk persoalan sebenarnya ada di mana? Ha-ha. (Det/MG33/E03)