Tahun Baru Imlek: Barongsai yang Mampu Satukan Perbedaan

Setelah pemerintah mengizinkan perayaan Imlek pada 9 April 2001 dan resmi jadi Hari Libur Nasional pada 2003, perayaan Imlek menjadi salah satu tradisi di Indonesia yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat, kendati isu SARA belum bisa benar-benar hilang. Seni dan budayalah yang kemudian diandalkan sebagai pemersatu. Mampukah?

Tahun Baru Imlek: Barongsai yang Mampu Satukan Perbedaan
Barongsai dalam perayaan Imlek. (Tribunnews.com)

Inibaru.id – Kalau hidup pada Zaman Orde Baru (1968-1999), mungkin kamu nggak bakal kenal meriahnya Tahun Baru Imlek seperti sekarang ini, Millens. Yap, waktu itu budaya Tionghoa memang dilarang, termasuk perayaan pergantian tahun masyarakat Tionghoa tersebut.

Namun, itu dulu. Sejak Presiden Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14/1967 pada 2000 dan mengeluarkan Kepres No 19/2001 pada 9 April 2001, Imlek mulai bisa dirayakan di Indonesia. Bahkan, Presiden Megawati menjadikan Imlek sebagai Hari Libur Nasional mulai 2003. Masyarakat pun kini bebas merayakan pergantian tahun tersebut.

Nggak hanya masyarakat keturunan Tionghoa yang heboh, warga setempat yang nggak merayakannya pun turut menikmati keriuhannya.

Nah, menjelang perayaan Tahun Baru Imlek seperti sekarang ini, pernak-pernik Imlek bisa dipastikan sudah dipajang. Sementara, kelenteng juga terlihat telah melakukan persiapan, termasuk penampilan barongsai yang selalu identik dengan tradisi yang biasanya digelar hingga berminggu-minggu tersebut.

Eh, kendati identik dengan budaya Tionghoa, atraksi barongsai nggak semuanya dimainkan warga "keturunan" lo, Millens. Tradisi itu kini semakin melebur ke masyarakat. Jadi, wajarlah kalau ada banyak warga "pribumi" yang juga tertarik bermain barongsai.

Baca juga:
Menguak Misteri di Balik "Rock Balancing"
Tim-tim yang Akan Bertarung di Semifinal Piala Presiden 2018

Roni Trisandi, misalnya. Pemain barongsai yang merupakan pelajar SMK Dr Cipto Semarang ini mengaku tertarik bermain barongsai karena gerakan barongsai yang dinilai atraktif. Jadi, nggak ada hubungannya dengan ras, keturunan, atau kepercayaan yang dia anut. 

Liukan barongsai di atas tonggak dengan iringan genderang menggugah minat Roni untuk mempelajarinya. Dia pun mulai menggeluti salah satu cabang olahraga yang masuk dalam PON XIX ini sejak kelas 7 SMP.

Sejatinya, Roni sudah niat bergabung dengan para pemain barongsai sejak SD, tapi nggak diizinkan. Orang tua Roni takut anaknya cedera. Namun, dia akhirnya bisa meyakinkan orang tuanya. Setelah diizinkan, Roni pun bergabung dengan Sasana Koi Suci Semarang.

Berbaur dengan komunitas yang didominasi masyarakat Tionghoa membuat Roni harus menyesuaikan diri, termasuk saat ada ritual keagamaan sebelum tampil.

“Kalau masalah ritual ya saya ikut ritual ke kelenteng tapi saya berdoa sesuai agama saya,” ujar laki-laki kelahiran 1999 itu.

Bagi Roni, ini nggak masalah. Dia menghormati tradisi yang ada dalam permainan barongsai. Menurutnya, barongsai adalah olahraga sekaligus seni yang harus dijaga. Nah, karena itu dia nggak mempermasalahkan bila terlibat dengan tradisi Tionghoa yang menjadi asal muasal barongsai.

Pelatih Sasana Koi Suci Semarang, Herry Chandra Irawan, pun sependapat dengan Roni. Dia nggak pernah menyoal siapa yang akan bergabung dengan tim barongsai yang dia latih. Menurutnya, barongsai adalah sebuah kesenian, jadi nggak cuma untuk masyarakat Tionghoa.

“Masyarakat kita salah kaprah memaknai barongsai adalah milik kami, padahal barongsai itu salah satu kesenian sekaligus cabang olahraga,” ujar pria yang dikenal sebagai pemerhati barongsai tersebut.

Baca juga:
Deteksi Dini Penyakit pada Sapi dengan Pemindai Wajah Sapi
Tembus 3 Juta Penonton, Sekuel "Dilan" Akan Tayang Tahun Depan

Disambut Baik

Keikutsertaan Roni dan masyarakat lokal dalam komunitas barongsai juga disambut baik wakil ketua Sasana Koi Suci, Gunawan Herry Chandra. Gunawan mengungkapkan, pihaknya nggak mempermasalahkan suku, ras, maupun agama untuk bergabung dalam komunitas.

“Kami membuka pintu lebar-lebar bagi semua orang yang pengin ikut barongsai,” kata laki-laki kelahiran Semarang tersebut. Hm, syahdu!

Ya, begitulah. Jika kita terus memperdebatkan perbedaan dari dua hal berbeda itu, jurang perbedaan tentu bakal terus menganga. Namun, kalau ada satu saja kesamaan dan terus kita pupuk keberadaannya, perbedaan keduanya itu pastilah nggak bakal ada artinya. Setuju, Millens(IF/GIL)