Erupsi Bertubi-tubi Sinabung setelah “Tidur” Panjang

Gunung Sinabung pernah “tidur” panjang lebih dari 400 tahun. Namun, setelah bangun, ia kini terus "mengamuk". Yang terakhir, gunung jenis stratovolcano itu menyemburkan isi perutnya hingga beberapa kilometer tingginya.

Erupsi Bertubi-tubi Sinabung setelah “Tidur” Panjang
Letusan Gunung Sinabung pada Senin (18/2/2018) mencapai berkilo-kilo meter di atas puncak gunung. (Reuters.com)

Inibaru.id – Letusan dahsyat Gunung Sinabung pada Senin (18/2/2018) lalu membuat seluruh dunia terpana. Abu vulkanik menyembur tinggi, membumbung dari kawah letusan dengan ketinggian hingga lebih dari lima kilometer. Letusan yang terjadi pada pukul 08.53 WIB itu juga disertai luncuran awan panas hingga 4,9 kilometer ke arah selatan dan tenggara serta 3,5 kilometer ke arah tenggara dan timur.

Awan panas bersuhu antara 600-800 derajat Celsius juga terlihat menuruni lereng gunung. Saat itu, angin bertiup ke barat dan selatan. Letusan selama 607 detik itu disertai suara gemuruh kencang yang terdengar hingga ke kota tetangga, di antaranya Brastagi.

Baca juga:
Bambang Pamungkas Akan Menyanyikan Tembang Pucung dalam “Srikandi Nekat”
"Yowis Ben", Film Bayu Skak yang Bakal Bikin Kamu Kenal Kota Malang

Kepala Pusdatin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa ini merupakan kali pertama sejak 2015, Gunung Sinabung mengeluarkan letusan disertai gemuruh. Letusan tersebut bahkan sempat membuat sejumlah kecamatan di sekitar Sinabung gelap gulita laiknya malam hari.

(Gettyimages.com/Endro Rusharyanto)

Begitu pekatnya abu vulkanik yang dimuntahkan Sinabung sehingga mentari pagi itu bahkan nggak mampu menembusnya. Setidaknya ada lima kecamatan yang mengalami kegelapan sementara tersebut. Nggak cuma gelap, kelima kecamatan di Kabupaten Karo itu juga dihujani abu dengan parah.

“Jarak pandang hanya sekitar 2-5 meter. Yang paling parah ya di 5 kecamatan itu,” ujar Martin Sitepu, Kepala BPBD Karo, seperti ditulis Viva.co.id, Selasa (20/2), "Kelimanya adalah Kecamatan Simpang Empat, Payung, Tiga Nderket, Naman Teran, dan Munthe."

Selain gelap, lanjut Martin, batuan kecil juga menghujani kecamatan tersebut. Namun, lantaran sudah dikosongkan sebelum situasi memburuk, nggak ada korban jiwa di sana.

"Tapi, pada siang hari warga sudah mulai beraktivitas kembali," terangnya.

Tidur Panjang

Sinabung yang tetiba menggeliat pada 2010 lalu sempat menggegerkan Indonesia. Bersama Gunung Sibayak di dekatnya, gunung setinggi 2.451 meter itu memang berstatus gunung berapi aktif. Namun, gunung yang berlokasi di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tersebut sudah nggak pernah meletus sejak 1600. 

Inilah yang membuat Sinabung dikategorikan sebagai gunung strato tipe B. Nggak ada yang menyangka Sinabung pada akhirnya bangun dari tidur panjangnya pada 27 Agustus 2010. Letusannya kala itu dikategorikan dalam tipe freatik yang diikuti jatuhan abu vulkanik. Nah, karena terus-menerus aktif, status Sinabung pun kemudian diubah menjadi tipe A.

Anak-anak sekolah dasar memandangi awan raksasa dari letusan gunung. (Ap.org/Sarianto)

Anak-anak SD memandangi awan raksasa dari letusan gunung. (Ap.org/Sarianto)

Letusan terakhir Sinabung sebelum Senin lalu terjadi pada September 2013. Letusan pertama terjadi pada 15 September dini hari, disusul letusan pada sorenya. Kemudian, pada 17 September kembali terjadi dua kali letusan pada siang dan sore hari. Baru pada 29 September status Sinabung diturunkan dari Awas menjadi Waspada.

Baca juga:
Cara Bermedsos yang Menguntungkan
Untuk Kali Pertama Film Korea Raih Penghargaan BAFTA

Seperti ditulis Liputan6.com (2/10/2017), dari 2013 hingga Oktober 2017, setidaknya sudah ada 2.314 kali erupsi terjadi, dengan letusan tertinggi kolom abu mencapai 11 kilometer. Secara keseluruhan, sebanyak 28 jiwa meninggal dunia akibat awan panas Sinabung.

Dari 2017 hingga kini erupsi Sinabung juga masih terus terjadi, termasuk yang terakhir pada Senin lalu dengan kekuatan cukup tinggi.

Jadi, Sinabung, kapan kau bakal tidur lagi? (AYU/GIL)