Menyimak Kehidupan Pribadi Ganjar dalam Novel "Anak Negeri"

Lantaran tertarik dengan kisah Ganjar Pranowo, Gatotkoco Suroso memilih untuk menulisnya dalam bentuk novel. Pada Senin (29/1/2018), novel itu diluncurkan.

Menyimak Kehidupan Pribadi Ganjar dalam Novel "Anak Negeri"
Ganjar Pranowo dan istri ditemani Gatotkoco Suroso, penulis novel, dalam peluncuran Novel "Anak Negeri". (Inibaru.id/Ida)
Inibaru.id - Mendung nggak menghalangi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk menghadiri peluncuran novel biografi Anak Negeri. Acara yang dilaksanakan di Desa Kunti, Kecamatan Andong, Boyolali, pada Senin (29/1/2018), itu mengupas tentang perjalanan Ganjar dari kecil hingga menjadi gubernur.
 
Gatotkoco Suroso, penulis novel tersebut, mengangkat sosok Ganjar lantaran tertarik dengan kehidupan pribadi pria kelahiran Karanganyar itu. Proses penulisannya membutuhkan waktu dua tahun. Dalam kurun waktu itu, Gatot, sapaan akrabnya, napak tilas kehidupan Ganjar mulai dari Karanganyar.
 
Terlahir sebagai anak polisi membuat pribadi Ganjar lebih disiplin. Selain itu, kehidupan masa kecilnya juga jauh dari kecukupan. Begitulah penuturan Gatot dalam bukunya, yang segera diamini Ganjar.
 
"Ya. Tinggal di kaki Gunung Lawu sana, hidup saya sederhana banget," ujar laki-laki berambut putih itu.
 
 
Politikus PDIP itu mengatakan, keluarganya bahkan sempat terlilit hutang. Namun, inilah memacu dirinya untuk menjadi orang yang sukses dan berguna bagi masyarakat.
 
Sebagian riwayat Ganjar itu terangkum dalam novel Anak Negeri. Di samping banyak bercerita tentang dirinya, Ganjar juga juga membagikan buku setebal 344 halaman itu ke sejumlah peserta yang yang hadir. Salah satunya adalah Ana.
 
Mendapatkan novel tentang orang nomor satu di Jateng tersebut, Ana mengaku senang. 
 
"Saya senang sekali, nggak nyangka bisa dapat buku langsung dari Pak Ganjar. Ada tanda tangannya pula," ujar siswa SMK Muhammadiyah 2 Andong, Boyolali, itu.
 
 
Selain peluncuran novel, acara yang berlatar belakang pemandangan sawah ini juga diwarnai dengan pelbagai pertunjukan. Salah satunya tarian dari Komunitas Lima Gunung yang menjadi penutup acara.
 
Seperti kebanyakan orang yang dituliskan riwayatnya dalam karya sastra, semoga kisah itu selalu dikenal orang sebagai kisah penggugah inspirasi ya, Pak Ganjar. Oh ya, nggak lupa Tim Inibaru.id mengucapkan selamat. Salam hangat!  (IF/GIL)