Menyandang Tunaganda, Gino Tetap Semangat Jajakan Dagangannya

Dengan keterbatasan fisiknya, Gino mendorong gerobak berisi jajanan hampir setiap hari. Kendati harus "mendaki" cukup tinggi di tanjakan Gombel, dia tetap semangat demi memenuhi kebutuhan hidup istri dan kedua anaknya. “Kalau nggak usaha sendiri mau minta siapa?” ujarnya.

Menyandang Tunaganda, Gino Tetap Semangat Jajakan Dagangannya
Gino sedang berjualan di depan SPBU Undip di Tembalang, Semarang. (Inibaru.id/Faidah Umu S)

Inibaru.id – Kalau kebetulan mampir atau melintas di SPBU Undip (Universitas Diponegoro) di Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, pada siang hari, besar kemungkinan kamu bakal bertemu sosok pekerja keras ini. Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya, lelaki bernama Gino itu begitu gigih bekerja.

Lelaki 48 tahun itu adalah penjaja camilan keliling dengan rute menanjak di Semarang, yakni sekitar Gombel, Srondol, Sukun Raya, hingga Tembalang. Dengan gerobak dorongnya yang sederhana, dia nggak kenal lelah. Yang bikin trenyuh, Gino tetap berjualan dengan cara itu meski menyandang disabilitas.

Berjualan sejak 2005, pekerjaan yang dilakoni Gino tidaklah muda. Dia menyandang tuna ganda. Tangan kanannya (maaf) lumpuh, sedangkan kedua kakinya kurang normal, Sementara, dia juga mengaku kesulitan berbicara. Kondisi itu bahkan sudah dialaminya sejak kecil.

Bekerja sebagai pedagang menjadi satu-satunya pilihan terbaik bagi Gino. Dengan kondisi fisik tersebut, berjualan mulai pukul 13.00 sampai 17.00 WIB, dia biasanya "hanya" mendapat Rp 50 ribu per hari.

“Dulu kuat dari pagi pukul 07.00 atau 07.30 dan baru pulang pukul 21.00. Namun, sekarang sudah tua dan kondisi kayak gini, ya sudah mulai berangkat siang sampai sore,” tutur Gino kepada Inibaru.id, belum lama ini.

Sebelum berjualan camilan ringan, Gino sempat berjualan koran pada 1987 hingga 1998. Dia lalu berhenti karena uang yang dihasilkannya terus menurun. Setelah beberapa tahun bekerja serabutan, dia memantapkan diri untuk berdagang.

Ayah dua anak ini mengaku, dia harus bekerja karena memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kedua anaknya yang sekarang duduk di kelas XII SMA dan IX SMP harus terus dia biayai supaya mendapatkan pendidikan yang tinggi dan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.

“Kerja ya pasti capek, tapi manusia kan butuh makan dan minum. Anak-anak saya juga sekolah di Pondok Pesantren Darussalam di Magelang. Jadi, ya, (saya) harus kerja. Kalau nggak usaha sendiri mau minta siapa?” ujarnya.

Kendati punya saudara dan adik, Gino mengaku nggak mau menjadi beban keluarga. Selama dia masih sehat dan bisa berjalan walaupun sulit, dia mengatakan akan terus bekerja. Hm, keren dan inspiratif nih!

Sehat selalu ya, Pak Gino! Oya, semoga dagangannya juga terus laris dan tetap bisa melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang hebat nan pantang menyerah!

Nah, kalau Sobat Millens kebetulan bertemu Pak Gino di jalan, jangan lupa dibeli ya jajanannya, enak-enak kok! (Faidah Umu S/E03)