Menlu Retno Temui Aung San Suu Kyi di Myanmar Bahas Tragedi Rohingya

"Penerimaan (Suu Kyi) positif. Diskusi lebih dalam dilakukan khusus mengenai isu akses kemanusiaan dan implementasi rekomendasi laporan Kofi Annan," ujar Retno.

Menlu Retno Temui Aung San Suu Kyi di Myanmar Bahas Tragedi Rohingya
Retno Marsudi bersama Aung San Suu Kyi (Foto: Dok Kemenlu)

Inibaru.id - Tragedi kemanusiaan etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar, memicu gelombang protes di negeri ini. Sebagian warga menyelenggarakan berbagai penggalangan dana. Sementara, dari sisi pemerintahan, presiden RI Joko Widodo telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi untuk berangkat ke Myanmar.

Dilansir dari Kumparan, Retno Marsudi pada Senin (4/9/2017) bertemu dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi untuk menyampaikan kekhawatiran masyarakat Indonesia terkait krisis di Rakhine yang membuat Rohingya jadi korban.

Retno adalah menlu pertama yang menyambangi Myanmar untuk menyampaikan keluhan langsung kepada Suu Kyi soal krisis kemanusiaan terhadap Rohingya yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Ratusan warga Rohingya dilaporkan tewas dan lebih dari 87 ribu dari mereka berjalan kaki mengungsi ke Bangladesh, lari dari pembunuhan.

Baca juga: 2,5 Miliar Rupiah Bantuan Dari Warganet Indonesia Untuk Rohingya

Retno dalam pertemuan dengan Suu Kyi juga menyampaikan usulan Indonesia demi menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. Sebelumnya, Retno juga menemui panglima angkatan bersenjata Myanmar Min Aung Hlaing.

Dalam pesan singkat kepada Kumparan di sela perjalanannya menuju Dhaka untuk bertemu pemimpin Bangladesh dalam misi yang sama, Retno menilai, Aung San Suu Kyi menerima usulan Indonesia dengan positif.

Akses Keamanan

Usulan Indonesia diformulasi sebagai 4+1, yaitu mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan.

Satu elemen lainnya yang disampaikan Retno kepada Suu Kyi adalah pentingnya agar rekomendasi Komisi Penasihat untuk Rakhine State yang dipimpin Kofi Annan segera diimplementasikan.

"Penerimaan (Suu Kyi) positif. Diskusi lebih dalam dilakukan khusus mengenai isu akses kemanusiaan dan implementasi rekomendasi laporan Kofi Annan," ujar Retno.

Sebelumnya diberitakan, Menlu Retno bertolak ke Yangon, Myanmar untuk menemui pemimpin de-facto Myanmar yang juga penerima nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi. Tindakan ini dilakukan sebagai aksi “menciptakan perdamaian dunia” Indonesia atas etnis Rohingya yang dinilai mengalami kekerasan dan pengusiran paksa dari tanah kelahirannya.

Baca juga: Konflik Rohingya Meruncing, Berbagai Lembaga Kemanusiaan di Indonesia Galang Donasi

Sekitar 20 ribu orang Rohingya saat ini berada di perbatasan Bangladesh. Akses mereka pun ditutup untuk memasuki negara Asia Selatan. Ada pula yang putus asa dan melakukan tindakan nekat, yaitu menyeberangi Naf, sebuah sungai perbatasan.

Banyaknya foto hoax yang beredar di media sosial Tanah Air semakin memperkeruh suasana di negeri ini. Sebagian foto hoax itu bahkan berhasil menggiring opini publik bahwa kerusuhan itu terjadi bermotifkan agama.

Hal ini terjadi lantaran etnis Rohingya adalah warga Muslim, sementara agama mayoritas di Myanmar adalah Buddha. Padahal, kekerasan yang terjadi di Rakhine itu merupakan puncak dari konflik etnis yang memiliki sejarah panjang di negeri tersebut. (GIL/IB)