Menjelajah Masa Lalu di Kota Lama Semarang

Kota Lama adalah potongan sejarah Kota Semarang. Sempat menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan, kawasan yang dipenuhi bangunan kuno bergaya kolonial Belanda ini sempat mangkrak puluhan tahun. Kini, Kota Lama kembali direvitalisasi. Hm, mau jadi apa lagi?

Menjelajah Masa Lalu di Kota Lama Semarang
Pengerjaan jalan di depan Gereja Blenduk dan Taman Srigunting. (inibaru.id/Putri Rachmawati)

Inibaru.id – Bangunan-bangunan bergaya Eropa dengan pintu dan jendela berukuran raksasa menjadi pemandangan pertama saat kita memasuki kawasan Kota Lama Semarang. Berada di sini seperti berada di kota yang sama sekali berbeda dengan Kota Semarang. Yap, kita seolah terlempar ke masa lalu.

Kawasan yang berada di Semarang Utara ini memang awalnya dibangun dan dipakai pemerintah kolonial Belanda. Wilayah yang biasa disebut sebagai Little Netherland ini menjadi pusat pemerintahan, pemukiman, serta kawasan perdagangan pada masa penjajahan Belanda. Maka, nggak heran kalau tata tempat, bangunan, serta suasananya Belanda banget!

Namun, ketika masa penjajahan itu berakhir, kawasan ini ditinggalkan dan menjadi nggak terurus. Beberapa bangunan memang sekarang difungsikan sebagai museum, tempat hiburan, kafe, restauran, dan lain-lain. Namun nggak sedikit yang dibiarkan kosong sehingga lambat laun menjadi lapuk dan usang.

Salah satu gedung yang mangkrak di Kota Lama Semarang (inibaru.id/Faidah Umu)

Kondisi bangunan-bangunan yang nggak terpakai ini begitu tragis. Tembok-tembok bangunan itu mulai runtuh dan dirambati tanaman liar. Ruangan kosong di gedung-gedung itu dijadikan sarang kelelawar. Setelah begitu lama diterpa panas dan hujan tanpa ada perawatan, bangunan-bangunan itu kemudian roboh.

Namun kini, bangunan bersejarah yang nggak terawat itu mulai teratasi dengan program revitalisasi Kota Lama yang tengah dilangsungkan oleh Pemerintah Kota Semarang. Program tersebut dilatarbelakangi oleh UNESCO yang mencanangkan status kota lama Semarang sebagai world heritage.

Kendati demikian, revitalisasi sejatinya bukanlah hal yang mudah dilakukan. Terlebih, Kota Lama merupakan area bisnis, tempat rekreasi, dan tempat event-event diselenggarakan. Ahli konservasi cagar budaya Kriswandono menjelaskan, diperlukan sinkronisasi antara program dengan stakeholder yang bertumbuh di Kota Lama.

Proses revitalisasi jalanan di kota lama membuat kemacetan (inibaru.id/Putri Rachmawati)

“(Revitalisasi) ini akan jadi masalah kalau nggak ada sinkronisasi antara pemerintah dan stakeholder. Nah, ini sudah jadi tugas pemerintah untuk mengomunikasikan kepada masyarakat setempat supaya paham. Lalu, juga harus dijelaskan kota lama mau dibawa ke mana? Dijadikan destinasi wisata atau apa, perlu disiarkan,” ungkapnya kepada Inibaru.id di Semarang belum lama ini.

Kriswandono mengatakan, Kota Lama yang sudah dinyatakan sebagai Kawasan Cagar Budaya (KCB) juga harus menjadi pertimbangan dalam proses revitalisasi ini. Segala perombakan harus berbasis pada cagar budaya. Artinya, nggak bisa sembarangan mengubah bentuk dan warna gedung, jalan, taman, dan segala fasilitas yang ada sana.

Menurut Kriswandono, ada dua hal mendasar yang menyangkut kecagarbudayaan. Pertama, autentitas dan integritas, kemudian yang kedua adalah pemahaman tentang minimum intervention.

Revitalisasi Gedung Marba (inibaru.id/Putri Rachmawati)

Kedua hal itu, tutur Kriswandono, memiliki kesimpulan bahwa segala struktur yang ada di Kota Lama harus dijaga keaslian dan keutuhannya. Lalu, jika harus ada revitalisasi terhadap struktur-struktur tersbut, kalau bisa seminimal mungkin. 

“Jadi, untuk melakukan revitalisasi memang ada caranya, teknik, dan ilmu tersendiri. Memang harus ada ahli dalam program ini, supaya nilai Kota Lama sebagai warisan budaya Kota Semarang nggak hilang,” pungkasnya.

Kota Lama kini memang sudah banyak berubah. Semoga apa yang sekarang dikerjakan pemerintah akan membawa perubahan yang baik ya, Millens. (Faidah Umu/E03)