Menjajal Trotoar di Semarang, Instagenik tapi Banyak Parkir Liar?

Menjajal Trotoar di Semarang, Instagenik tapi Banyak Parkir Liar?
Salah satu jalur pejalan kaki di Jalan Veteran, Semarang tampak instagenik. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Infrastruktur pejalan kaki di Semarang disiapkan sedemikian rupa demi memberikan rasa nyaman bagi para penggunanya. Namun, apakah benar fasilitas itu tepat guna dan tempat? Lantas bagaimana dengan kesadaran pengguna jalan yang lain? Cek dan ricek pengalaman di bawah ini.

Inibaru.id – Kota Semarang disebut-sebut masuk dalam jajaran tujuh kota dengan jalur pejalan kaki terbaik. Semarang bersanding dengan Jakarta, Surabaya, Bandung, Solo, Yogyakarta, dan Bogor dalam hal ini.

Hingga 2017, paling tidak ada 6.000 meter jalur pejalan kaki yang digarap di Semarang. Beberapa di antaranya terutama di daerah pusat kota, jalur tersebut dilengkapi dengan tempat duduk, lampu, dan bola-bola beton di sisi jalan yang dilukis dengan mengangkat kearifan lokal Semarang.

Pada 2019, kota yang saat ini dipimpin Hendrar Prihadi itu makin mematut jalur pejalan kaki. Kali ini, jalur pedestrian dibuat dengan teknik beton berpori supaya air hujan yang jatuh di jalur itu bisa meresap ke tanah. Konon, cara ini salah satu upaya membangun Semarang sebagai green city.

Namun, usaha-usaha ini rupanya masih setengah hati. Minggu (17/3/2019), saya turut dalam tur jalan kaki yang diadakan agen tur Bersukaria Tour. Saat itu, rute yang dilewati adalah Radja Goela. Pemandu lantas membawa kami mengitari Istana Balekambang yang dulu dimiliki orang terkaya di Asia pada masanya yakni Oei Tiong Ham.

Para pejalan kaki tampak menunggu giliran untuk menyeberang di daerah persimpangan Jalan Veteran dan Jalan Kiai Saleh, Semarang. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Ornamen dan desain jalur pedestriannya yang saya lewati memang cukup memanjakan mata, terlebih di daerah Jalan Veteran samping Kantor Polda Jateng. Jalur tersebut nggak memakai ubin tapi dibeton dan dipercantik dengan warna merah yang dominan. Selain itu, bola-bola di sisi jalan juga dihias dengan bermacam lukisan. Instagenik banget deh!

Sepanjang jalan, saya termanjakan dengan fasilitas yang ada, termasuk kursi yang disiapkan berjarak beberapa meter. Fasilitas untuk disabilitas pun terpenuhi. Namun, saat sampai di daerah depan Restoran Pesta Keboen, saya menemukan jalur khusus disabilitas nggak disesuaikan dengan jalanan. Ada satu bagian yang dibiarkan saja lurus meski ada gorong-gorong di tengah-tengahnya. Kendati sudah ditutup, gorong-gorong itu sangat mungkin bisa membuat pejalanan kaki terlebih penyadang disabilitas terperosok.

Selain itu, ada juga beberapa jalan yang hanya mempunyai trotoar di satu sisi. Salah satu contohnya ada di Jalan Kyai Saleh. Di jalan tempat muka depan bekas Istana Balekambang berada itu, nggak ada jalur pejalan kaki. Hanya ada jalur pedestrian di deretan bekas rumah Abrahan Flatterman. Itu pun belum tersentuh perbaikan sama sekali meski letaknya di tengah kota.

Sejumlah sepeda motor tampak parkir di jalur pejalan kaki di daerah Jalan Veteran, Semarang, sedangkan para pejalan kaki sedang melintasi trotoar tersebut. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Hal lain yang kerap saya temui yakni banyak pengguna jalan yang nggak menyadari peran dan fungsi jalur pedestrian ini. Mereka malah seenaknya memarkir kendaraan di jalur tersebut. Salah satu contohnya, saat itu saya temui di trotoar Jalan Veteran. Saat saya lewat, sejumlah motor, mobil, dan minibus parkir di situ dan menutupi trotoar. Kala itu memang sedang ada acara akbar di sekitar Jalan Pahlawan, tapi nggak selumrahnya hanya karena ada acara lantas mobil-mobil itu parkir di trotoar. Mereka bisa menggunakan kantong-kantong parkir yang sudah disediakan, bukan?  

Hm, rupanya menjadi pejalan kaki itu mudah-mudah susah ya! Nah, inilah yang mau disuarakan agen wisata di Semarang, Bersukaria Tour. Lewat program Bersukaria Walk, mereka pengin menyadarkan masyarakat betapa sulitnya menjadi pejalan kaki.

Salah seorang pendiri Bersukaria Tour Fauzan Kautsar mengungkapkan hal ini.

“Kita ada hidden campaign juga tentang gimana jadi pejalan kaki. Memang sih tidak semua orang yang habis sama kita (ikut Bersukaria Walk) nggak semua jadi pejalan kaki. Tapi paling tidak mereka lebih menghargai jalan kaki kaya nggak lewat trotoar, nggak berhenti di zebra cross karena ya susah jadi pejalan kaki. Kebetulan rute ini masih enak nggak lewat jalan besar, banyak trotoarnya juga,” ujarnya.

Kini, tinggal bagaimana sesama pengguna jalan saling menghargai satu sama lain. Perlu ada kesadaran di antara mereka supaya sama-sama mafhum dan nyaman menggunakan fasilitas di jalan. Mulai sekarang jangan mau menang sendiri sampai-sampai merampas hak pengguna jalan lain ya, Millens! (Ida Fitriyah/E05)