Menjadi Anak Muda Piawai di Semarang Smart City

Menjadi Anak Muda Piawai di Semarang Smart City
Keseruan 'Semarang: Smart Anak Mudanya, Smart City-nya' yang digelar Media Group Network (MGN) di Gedung Radjawali Semarang Culture Center pada Rabu (25/5). (Inibaru.id/ Siti Khatijah)

Nggak cuma bisa menggunakan gawai dan segala teknologinya, anak muda yang mumpuni adalah mereka yang piawai memanfaatkan kecanggihan smart city untuk kebaikan diri, lingkungan, dan bangsanya.

Inibaru.id - Lebih dari 300 pasang mata tampak fokus menyaksikan Gambang Semarang yang ditarikan di panggung teater yang megah di Gedung Radjawali Semarang Culture Center pada Rabu (25/5/2022). Tarian rancak itu menjadi sajian pembuka yang pas untuk gelaran Roadshow Media Group Network (MGN) yang tengah mampir ke Kota Lunpia.

Bertajuk "Semarang: Smart Anak Mudanya, Smart City-nya", perhelatan yang diperuntukkan bagi anak muda ini dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dan Walikota Semarang Hendrar Prihadi. Tampil menyapa ratusan anak muda asal Semarang, keduanya tampak mengenakan busana kasual.

Penampilan itu serasi dengan jajaran penggawa Media Group, mulai dari CEO Media Group Network M Mirdal Akib, Direktur Pemberitaan dan Editor in Chief Metro TV Arief Suditomo, serta dua jurnalis senior Metro TV Aviani Malik dan Wahyu Wiwoho.

Turut hadir memeriahkan pergelaran yang berlangsung mulai pukul 15.00 WIB itu penampilan band all star Media Group dan komedian tunggal asal Kota ATLAS Sadana Agung Sulistya.

Menjadi Pintar di Kota Pintar

Walikota Semarang Hendrar Prihadi berharap, Semarang bisa terus menjadi kota yang mengakomodasi anak muda untuk berkembang dan memanfaatkan kecanggihan teknologi. (Inibaru.id/ Siti Khatijah)
Walikota Semarang Hendrar Prihadi berharap, Semarang bisa terus menjadi kota yang mengakomodasi anak muda untuk berkembang dan memanfaatkan kecanggihan teknologi. (Inibaru.id/ Siti Khatijah)

Menjadi anak muda pintar di kota pintar menjadi tema utama acara yang merupakan hasil kerja sama MGN dengan Pemkot Semarang tersebut. Digelar nggak kurang dari tiga jam, ratusan peserta yang didominasi mahasiswa ini terlihat antusias menyimak pemaparan para pembicara.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi yang tampil di urutan pertama mengungkapkan, Pemkot Semarang hingga ini masih terus mengembangkan berbagai inovasi, khususnya dalam bidang pelayanan, menuju smart city. Namun, paparnya, hal itu nggak akan berjalan baik jika para anak mudanya nggak memiliki sikap positif, kritis, dan inovatif.

“Jadilah anak muda yang jempolan, yang berkompetisi dalam hal positif demi masa depan yang berkualitas,” harapnya.

Lelaki yang akrab disapa Hendi tersebut menambahkan, anak muda zaman sekarang mempunyai peran penting untuk masa depan karena memiliki jumlah yang lebih banyak ketimbang generasi pendahulu dan sesudahnya.

"Inilah kenapa anak muda seperti kita yang melek digital harus menggunakan segala kemajuan teknologi ini dengan bijaksana agar Semarang menjadi rumah yang nyaman untuk masyarakat yang pintar," tegas dia.

Menjadi Anak Muda yang Baik

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengharapkan generasi muda saat ini selalu melihat segala fenomena yang ada dengan lebih dalam. (Inibaru.id/Siti Khatijah)
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengharapkan generasi muda saat ini selalu melihat segala fenomena yang ada dengan lebih dalam. (Inibaru.id/Siti Khatijah)

Lalu, bagaimana cara menjadi anak muda masa kini yang baik? Lestari Moerdijat menjelaskan, anak muda penerus bangsa seharusnya yang nggak hanya melihat suatu fenomena di permukaan. Fenomena itu, imbuhnya, harus dikaji lebih dalam menggunakan persepsi dan pemikiran sendiri.

"Dengan cara ini, kita akan mampu menghasilkan keputusan yang tepat," ujar Rerie, sapaan karibnya, yang sore itu tampil mengenakan busana hitam berbalut syal panjang berwarna jingga.

Politikus Partai Nasdem itu kemudian menambahkan, pada situasi yang penuh kemajemukan ini sudah wajar jika kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda pandangan, era, dan cara menyelesaikan masalah. Namun, jangan sampai keberagaman yang kerap muncul di dunia digital ini menghancurkan bangsa. 

“Anak muda adalah generasi pembelajar dan pemikir yang seharusnya mampu melihat semuanya lebih dalam," terang perempuan kelahiran 30 November itu serius. "Teknologi memang kian canggih, tapi ingat kemanusiaan tetaplah yang menjadi pengendali.”

Well, dari penuturan itu, tugas anak muda memang terlihat nggak gampang ya, Millens? Namun, nggak perlu parno! Menurut Rerie, kalau semua peran tersebut jalani dengan sepenuh hati, semuanya akan terasa ringan, kok.

"Kalau dijalani murni untuk tujuan kebaikan, kita nggak akan merasa sendirian," tandasnya.

Nggak Ada Kebaikan yang Sia-Sia

CEO Media Group Network M Mirdal Akib menceritakan bahwa pemuda sejak dulu selalu mempunyai peran penting dalam perjuangan Tanah Air. (Inibaru.id/ Siti Khatijah)
CEO Media Group Network M Mirdal Akib menceritakan bahwa pemuda sejak dulu selalu mempunyai peran penting dalam perjuangan Tanah Air. (Inibaru.id/ Siti Khatijah)

Apa yang dikatakan Rerie bukanlah isapan jempol belaka. Hal ini ditegaskan oleh M Mirdal Akib yang tampil sebagai pemungkas acara. Menurut lelaki berkacamata yang biasa disapa Mirdal ini, seseorang yang berjuang ke arah kebaikan nggak akan pernah sia-sia. Ya, nggak ada kebaikan yang sia-sia.

Mirdal pun kemudian mencoba mengingatkan perjuangan para pemuda Indonesia zaman dulu yang buahnya terus dituai hingga sekarang. Dia mengungkapkan, sejak dulu negeri ini nggak pernah luput dari peran pemudanya, mulai dari era Budi Oetomo, Sumpah Pemuda, hingga Proklamasi Kemerdekaan.

Berkat perjuangan mereka, imbuhnya, negara kita bisa menjadi bangsa yang lebih baik. Menurut lelaki asal Makassar tersebut, pemuda selalu hadir pada titik kritis bangsa ini.

"Jadi, kini saatnya kita juga hadir untuk turut membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar,” serunya seraya mengepalkan tangan tinggi-tinggi.

Hm, sadarkah kamu bahwa kita sekarang adalah orang yang akan menggenggam Indonesia pada dua dekade ke depan, Millens? Maka, milikilah mimpi besar, mimpi tentang Indonesia yang maju secara teknologi, pendidikan, dan moralitasnya.

Lantas, sebaiknya dimulai dari mana? Tentu saja salah satunya bisa dari kota tempat tinggal kita, Kota Semarang. (Siti Khatijah/E03)