Menilik Fenomena Medsos 'Datang ke Pernikahan Mantan' yang Kian Bikin Resah

Menilik Fenomena Medsos 'Datang ke Pernikahan Mantan' yang Kian Bikin Resah
Ilustrasi - Konten media sosial yang ditujukan agar viral namun sebenarnya kian bikin resah. (Tangkapan layar Twitter @aan__)

Belakangan ini ada protes dari warganet terkait konten seseorang datang ke pernikahan mantan yang ternyata bohongan saja. Bagaimana bisa fenomena ini seperti semakin marak, ya?

Inibaru.id – Belakangan ini di media sosial sering muncul video atau foto yang menunjukkan kalau seseorang datang ke pernikahan mantan pacarnya. Dalam video ini, terkesan sang pemilik akun seperti sedih harus ditinggal orang yang selama ini menjadi belahan hatinya. Tapi, karena konten ini semakin banyak dan terlihat mengada-ada, warganet juga akhirnya ikutan gerah.

Sebagai contoh, belakangan akun Twitter milik @Tirta_saky menanggapi komentar selebtwit @aan__ yang kurang sreg dengan unggahan akun @wapres2024 tentang cerita seorang laki-laki yang datang ke acara pernikahan mantannya. Pemilik akun @aan__ menganggap nggak elok seseorang datang ke acara pernikahan mantan dan menjadikannya konten agar viral.

Tirta Saky ternyata adalah mempelai laki-laki dari video pernikahan tersebut. Yang mengejutkan, video tersebut bohongan karena yang mengaku sebagai mantan mempelai perempuan ternyata adalah sepupu sendiri. Sang sepupu bernama Rachmad Arief bahkan sudah mendapatkan protes dari keluarganya akibat tindakannya yang rela berbohong hanya agar bisa viral.

Ilustrasi - Semakin banyak orang menghalalkan segala cara agar bisa viral di media sosial. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi - Semakin banyak orang menghalalkan segala cara agar bisa viral di media sosial. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Belakangan ini, fenomena ingin menjadi viral memang didambakan banyak orang, khususnya anak muda yang aktif di media sosial. Platform yang dipakai agar bisa viral pun bermacam-macam, dari Instagram, Youtube, Twitter, Facebook, atau bahkan yang belakangan juga ngetren meski nggak etis, Onlyfans.

Menurut pengamat media sosial Enda Nasution, fenomena ini bukanlah hal baru, apalagi sejak media sosial menjadi semacam ajang ekspresi diri di dunia maya.

“Motifnya nggak jauh dari keinginan untuk jadi pusat perhatian. Dengan menjadi ngetop, bisa merasa puas sekaligus mendapatkan penghasilan,” ucap Enda, Jumat (25/1/2019).

Menjadi viral bisa berdampak pada meningkatnya jumlah pengikut. Hal ini bisa membuat tawaran promosi produk atau jasa (endorse) meningkat. Selain itu, psikolog Astrid WEN menganggap karakter media sosial yang lebih menghargai mereka yang membuka diri membuat banyak orang seperti nggak malu menunjukkan semuanya di media sosial.

Sayangnya, hal ini membuat banyak orang rela mengambil jalan pintas untuk mendapatkan ketenaran. Ada yang membuat konten prank, hingga berbohong seperti kasus konten datang ke pernikahan mantan.

Melihat fakta ini, bijak-bijaklah menggunakan media sosial. Jika ingin viral, buatlah konten yang positif, segar, dan bisa memberikan banyak manfaat bagi orang banyak, Millens. (Sin/IB09/E05)