Menguak Misteri di Balik "Rock Balancing"

Sejumlah tumpukan batu yang disusun rapi menghebohkan warga setempat dan santer di media sosial. Adanya tumpukan batu itu dikaitkan dengan kekuatan mistis.

Menguak Misteri di Balik "Rock Balancing"
Rock Balancing. (Instagram.com/rockbalanceindonesia)

Inibaru.id – Susunan batu di Sungai Cibojong, Desa Jayabakti, Cidahu, Sukabumi, yang beberapa hari ini bikin heboh telah dibongkar aparat desa setempat bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) dan MUI. Banyak yang mengaitkannya dengan peristiwa mistis. Namun, belakangan diketahui bahwa tumpukan batu itu merupakan bentuk seni menyusun batu atau rock balancing.

Seni rock balancing, yang juga disebut stoner balancing, adalah seni murni buatan manusia. Pun halnya yang ada di Sungai Cibojong. Sayang, viralnya susunan batu itu justru menimbulkan isu mistis. Warga berbondong-bondong datang dan menganggap ada kekuatan gaib yang membuatnya.

Isu mistis ini nggak hanya santer dibicarakan warga setempat. Warganet pun ikut-ikutan membahas mistisnya batu tersebut. Padahal, kegiatan menyusun batu sering dilakukan banyak orang di berbagai daerah, salah satunya di Cidahu.

Komunitas

Sebuah komunitas bernama Balancing Art Indonesia mengaku sebagai penyusun tumpukan batu tersebut. Di tengah derasnya aliran sungai, para seniman berhasil membuat 90-an karya.

Baca juga:
Tahun Baru Imlek: Barongsai yang Mampu Satukan Perbedaan
Tim-tim yang Akan Bertarung di Semifinal Piala Presiden 2018

“Yang kemarin viral di Sukabumi itu namanya stacking. Level dasar dari seni ini,” kata Suryadi, pendiri Balancing Art Indonesia, seperti dikutip dari Kumparan.com, Minggu (4/2)“Kami punya misi mengingatkan tentang kepedulian terhadap alam semesta.”

Rock balancing merupakan teknik menyusun batu dengan posisi tertentu tanpa alat perekat maupun bantuan lainnya. Susunan itu membuat batu memperoleh keseimbangan alami dan berdiri tegak. Seniman rock stacking yang populer adalah Michael Grab. Grab mampu menyusun menara dari batu dengan hanya mengandalkan gravitasi.

Seperti ditulis Detik.com, Sabtu (3/2), sebagai sebuah seni, rock balancing memiliki beberapa gaya. Rock stacking merupakan salah satu gaya dasarnya. Gaya ini membutuhkan waktu 5-10 menit. Meskipun demikian, rock stacking juga nggak gampang. Kalau disusun dengan tepat, batu besar pun bisa berdiri di atas batu-batu kecil, lo. Wah!

Baca juga:
Deteksi Dini Penyakit pada Sapi dengan Pemindai Wajah Sapi
Tembus 3 Juta Penonton, Sekuel "Dilan" Akan Tayang Tahun Depan

Gaya lain dalam rock balancing adalah classic balance. Dalam teknik ini, seniman tinggal menyusun dua batu secara horizontal yang saling menyangga satu sama lain. Gaya ini cenderung nggak butuh keahlian khusus karena lebih mudah dilakukan.

Ada juga gaya yang disebut gaya bebas. Untuk membuatnya, praktisi dapat memadukan teknik-teknik yang dikuasai untuk menyusun batu sekreatif mungkin.

Nah, akhirnya terungkap juga misteri di balik tumpukan batu yang ada. Gimana, Millens, masih percaya tumpukan batu itu sebagai fenomena mistis? (AYU/GIL)