Menghargai Air, Menghargai Kehidupan

Menghargai Air, Menghargai Kehidupan
Peranan air bagi kehidupan. (Pexels.com)

Kerap kali, orang-orang "membuang-buang" air saat ketersediaannya melimpah. Namun, kalau sudah menipis, barulah diirit-irit.

Inibaru.id – "Tanpa air, manusia, tanaman, dan hewan nggak bakal hidup." Pasti kamu sudah sering mendengar kalimat itu ya, Millens. Namun, sudahkah kamu melakukan usaha untuk menjaga kelestarian air?

Saat musim hujan, air akan sangat melimpah. Masyarakat dengan mudah mendapatkan air. Kondisi ini berbeda dengan apa yang terjadi saat musim kemarau. Bila kemarau melanda, air termasuk barang yang langka. Nggak jarang, masyarakat mesti merogoh kocek lebih dulu untuk menikmati air.

Pengalaman ini pernah dirasakan Meta Gesti Rahayu saat air di rumahnya nggak mengalir selama berminggu-minggu. Dia mengaku cukup menyesal karena saat air melimpah, tanpa sadar dia membuang-buang air.

“Dulu saya kalau mandi suka nggak ingat waktu. Bisa lama banget dan bergayung-gayung, bahkan sampai menghabiskan setengah bak,” kata Meta.

Namun, kebiasaan itu berubah saat dia merasakan betapa sulitnya mencari air untuk mandi. Saat itu, pengajar Bahasa Jepang asal Kedungmundu, Semarang ini bahkan terpaksa hanya mandi sekali dalam sehari. Air bekas mandi itu pun nggak dibuang, tetapi ditampung kembali untuk menyiram jamban sehabis buang air.

“Saya pernah nggak mandi selama tiga hari. Ada air pun cuma berani saya pakai buat basahin badan pakai tangan, terus disabun, baru dibilas. Keluarga saya pernah minta air ke tetangga yang punya sumur, tapi ya gitu deh, orangnya pasang muka judes. Gara-gara itu ibu saya akhirnya beli air galon. Pokoknya badan rasanya sudah nggak karuan semua,” ujar Meta.

Dari situ, kesadaran Meta untuk menghemat air muncul. Meta mengaku, kini dia lebih memperhatikan hal-hal kecil misalnya jika sedang menyalakan keran, Meta lebih memilih menunggunya hingga penuh. Ini tentu saja untuk menghindari air terbuang percuma.

Selain Meta, Dian Iriani pun pernah merasakan pengalaman serupa. Perempuan kelahiran Semarang, 11 Mei 1993 ini membeberkan bila dirinya dulu termasuk orang yang boros menggunakan air.

“Kalau cuaca sedang panas banget saya suka kalap pakai air, tapi kalau sedang mode hemat ya cukup 1-2 gayung. Asal basah saja,” tutur Dian.

Dian baru tersadar akan pentingnya air saat dirinya menganyam bangku perkuliahan.

“Pas kuliah baru tahu rasanya kekurangan air sampai pipis pakai air galon. Itu juga bikin saya ingat air mineral kemasan yang sering nggak saya habiskan. Rasanya nyesel gimana gitu. Sejak itu, saya jadi mikir air ternyata berharga banget,” tambah Dian.

Nggak hanya di rumah, dia juga mengaku lebih peka dengan penggunaan air di tempat kerjanya. Jika menjumpai keran bocor, pengajar di sebuah bimbel ini buru-buru mencari ember atau bak untuk menampung air yang terbuang. Menurut Dian, ketimbang terbuang sia-sia, air tersebut bisa digunakan untuk keperluan lain seperti mencuci baju dan peralatan dapur. Ini juga berlaku pada air tumpahan pendingin ruangan (AC) di kantornya, lo.

“Iya, saya tampung. Biasanya saya pakai buat siram tanaman di kantor atau saya taruh di kamar mandi supaya dipakai OB (Office Boy) ngepel,” tambahnya.

Yap, air memang sangat dibutuhkan manusia. Jadi, jangan buang-buang air meski sedikit ya, Millens. Lebih baik, kamu gunakan air sisa itu untuk kebutuhan yang lain sehingga lebih bermanfaat. (Artika Sari/E04)