Menghampiri Mereka yang Tetap Nyalakan Asa di Tengah Penutupan Simpang Lima

Menghampiri Mereka yang Tetap Nyalakan Asa di Tengah Penutupan Simpang Lima
Danu tengah membuat api unggun di tengah sunyinya Simpang Lima. (Inibaru.id/ Audrian F)

Simpang Lima ditutup, praktis dagangan mereka sepi. Namun mereka tetap merajut asa. Meskipun dengan segala cerita nelangsa.

Inibaru.id - Danu menghidupkan api unggun di tengah udara dingin dan suasana sunyi Simpang Lima. Kalau biasanya ramai lalu lalang dan riuh masyarakat yang menghabiskan waktu, kawasan itu kini kosong melompong.

FYI, beberapa hari terakhir, Pemerintah Kota Semarang mengumumkan menutup beberapa sektor di tengah kota yang dinilai menjadi sarana berkumpul masyarakat. Alasannya nggak lain untuk mengurangi penyebaran virus corona.

Danu adalah seorang penjaga toilet di Simpang Lima. Dia berasal dari Lombok. Sebelum saya datang pada Selasa (1/4) malam, dia sedang berbaring beralas tikar di depan toilet seraya memandang langit. saat saya hendak membayar, dia sudah berada di depan api unggun yang dia nyalakan.

Warung makan milik Lestari. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Warung makan milik Lestari. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Untuk harian saya mengandalkan uang dari toilet ini. Tapi beberapa hari ini sepi,” kata Danu. Saya mengeluarkan uang dengan nominal besar, laki-laki ini mengaku nggak memiliki kembalian.

Saya melipir ke sebuah warung makan di pujasera yang lampunya tetap menyala. Tampak beberapa orang. Bukan pelanggan warung, ternyata dia adalah Lestari sang pemilik bersama suaminya.

Lestari mengaku tetap buka meski warung-warung di sampingnya tutup. Karena nggak ada pelanggan langsung yang datang, dia hanya membuka pesanan makanan lewat aplikasi ojek.

“Ya saya cuma ini penghasilannya. Kalau ditutup begini kan berat. Pelanggan saya para pekerja-pekerja sekitar. Adanya penutupan ini kan mereka jadi pulangnya lebih awal. Nggak ada yang makan di sini lagi,” pungkasnya.

Ratno tetap berdagang bakso di balik pagar pembatas. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Ratno tetap berdagang bakso di balik pagar pembatas. (Inibaru.id/ Audrian F)

Lain lagi dengan Ratno, pedagang bakso. Dia masih menggelar dagangan meskipun Simpang Lima ditutup.

“Saya bukan berbicara rakyat kecil atau pedagang ya. Terlalu egois menurut saya. Sekarang kalau misal mau menutup, kenapa hanya di pusat-pusat kota?" ungkap Ratno, "Kenapa pasar nggak ditutup yang lokasinya lebih ramai dan kumuh? Kenapa hanya pada jam-jam malam saja? Memang virus bisa memilih waktu dan tempat?”

Menurutnya, pemerintah kota nggak bpleh tebang pilih untuk memutus mata rantai corona. Kalau kawasan Simpang Lima saja yang ditutup, pedagang-pedagang kecil seperti dirinyalah yang dirugikan.

Meski kecewa, Retno mengaku paham dengan kondisi Negara. “Pemerintah juga mungkin belum tentu mampu kalau memberi makan jutaan warga Indonesia ini. Tapi ya itu tadi, jangan tanggung-tanggung kalau mau melakukan tindakan,” tutup Ratno.

Semoga "teriakan" dari orang-orang di sekitar Simpang Lima tadi bisa didengar dan diberi solusi ya, Millens. (Audrian F/E05)