Mengenang Kepahitan Peristiwa 1998 dengan Rujak Pare

Peristiwa kelam nggak harus dikenang dengan cara mengharu biru. Misalnya Perkumpulan warga Tionghoa ini yang mengenang peristiwa Mei 1998 dengan berefleksi dan menyantap rujak pare sebagai lambang kesedihan.

Mengenang Kepahitan Peristiwa 1998 dengan Rujak Pare
Rujak pare yang disajikan dalam acara Mengenang Mei 1998 sebagai simbol perempuan Tionghoa yang menjadi korban. (inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id- Peristiwa Mei 1998 meninggalkan luka mendalam bagi etnis Tionghoa yang kala itu menjadi korban kerusuhan. Nggak terhitung perempuan Tionghoa jadi korban pemerkosaan keji yang menjadi sejarah kelam di negeri ini. Banyak yang meregang nyawa, banyak pula yang harus bertahan hidup dengan duka. Meski nggak mendapatkan kepastian hukum dari pemerintah, kaum Tionghoa perlahan bangkit. 21 tahun paskasejarah kelam ini, Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang menggelar refleksi “Mengenang Mei 1998” pada hari Sabtu (11/5).

Dengan mengenakan busana putih, peserta lalu disematkan gelang hitam yang menandakan duka. Di aula Rasa Dharma, puluhan peserta yang didominasi oleh etnis Tionghoa ini saling bercerita dan memberikan kesaksian terhadap apa yang mereka alami di tahun 1998. Bukan dendam dan sedih, mereka malah melontarkan berbagai optimisme hidup. Peserta yang hadir nggak hanya berasal dari Semarang, namun  beberapa berasal dari Magelang dan Rembang.

Harjanto Halim saat memberikan testimoni dan sambutan kepada peserta. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menurut Harjanto Halim, Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong, acara ini sebagai pengingat peristiwa bencana kemanusiaan yang terjadi Mei 1998 lalu. “Bukan untuk mengorek luka tapi jangan sampai peristiwa tersebut dilupakan agar tak terulang kembali,” tambahnya. Dibuka dengan berbagai testimoni, acara ini juga menampilkan beberapa anak muda Tionghoa yang mempunyai karya dan berkontribusi dalam masyarakat.

Ling-ling saat menyajikan rujak pare kepada peserta yang hadir. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Acara tahunan yang dimulai pada tahun 2018 tersebut juga dilengkapi dengan hidangan khas berupa rujak pare. Pare yang bercita rasa pahit dipadukan dengan sambal rujak bunga kecombrang. “Kecombrang melambangkan keindahan perempuan Tionghoa, dijadikan satu diuleg. Lalu dimakan dengan pare yang melambangkan kejadian pahit di Mei 1998,” tutur Ling Ling, pembuat rujak pare.

Menurut Harjanto, rujak pare ini menjadi media untuk mengingat peristiwa kelam tersebut agar nggak mudah dilupakan. “Kegiatan jika tak ada makanan khasnya maka akan hilang,” selorohnya. Selain rujak pare, acara ini juga menyajikan jus pare. Alih-alih sangsi untuk mencoba dua hidangan dari pare mentah tersebut, peserta malah penasaran dan antusias dalam mencobanya. “Enak kok,” kata salah seorang peserta.

Peserta yang sedang menikmati nasi ulam, simbol kebhinekaan di Indonesia. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Jauh dari bersedih sedih, nampaknya para peserta bersuka cita tanpa kehilangan makna untuk tetap mengenang peristiwa kelam tersebut. Sambil menikmati rujak dan jus pare, beberapa peserta memberikan testimoni serta resolusi. Di akhir acara, peserta dijamu dengan nasi ulam yang melambangkan keragaman dan persatuan Indonesia.

“Saya berharap semakin banyak teman Tionghoa yang berperan di masyarakat. Acara seperti ini bisa untuk meluapkan isi hati dan berkarya,” tutur Hermawan, ketua panitia acara tersebut. Dia nampak semringah karena acara tersebut mendapatkan sambutan positif dari warga multietnis dan lintas agama.

Senada dengan Hermawan, Harjanto juga punya harapan yang sama. “Selain itu, tradisi makan rujak pare semoga bisa memberikan kesembuhan dan rekonsiliasi,” tambahnya.

Semoga tragedi Mei 1998 nggak akan terulang kembali ya. Yuk jaga terus persatuan bangsa! (Zulfa Anisah/E05)