Mengenal ‘Nikah Jalan’, Tradisi Poliandri Ala Suku Mosuo di Lereng Himalaya

Mengenal ‘Nikah Jalan’, Tradisi Poliandri Ala Suku Mosuo di Lereng Himalaya
Perempuan suku Mosuo. (Karolinklueppel)

Para perempuan di suku Mosuo dikenal lekat dengan praktik poliandri. Nggak hanya bertanggung jawab penuh atas rumah, mereka dapat menikahi para lelaki yang datang ke rumah. Para perempuan yang mempraktikkannya juga nggak mendapat cap atau stigma buruk.

Inibaru.id – Terletak di lereng pegunungan Himalaya, penduduk suku Mosuo nggak percaya dengan konsep monogami. Ya, mereka menganut sistem matrilineal (menghitung garis keturunan dari pihak ibu) yang memperbolehkan para perempuan memiliki lebih dari satu suami.

Jadi, perempuan yang telah menjalani ritual penanda kedewasaan dapat memilih sebanyak apapun kekasihnya untuk dinikahi. Dulunya, mereka yang tinggal di tepi danau Lugu ini sangatlah miskin dan nggak mampu hidup terpisah dari orang tua.

Para perempuan yang menikah harus tinggal dan bertanggungjawab penuh atas rumah. Para lelaki akan berjalan dari rumah ke rumah perempuan pada malam hari. Jika tertarik, para lelaki itu dibolehkan bermalam di rumah perempuan yang didatangi.

Praktik ini membuat para pasangan nggak tinggal seatap. Namun mereka bebas berkunjung ke rumah pasangan selama diizinkan. Karena itu, praktik ini disebut dengan tradisi ‘nikah jalan’.

Para anggota keluarga akrabsatu sama lain. (Luftika)
Para anggota keluarga akrabsatu sama lain. (Luftika)

Tradisi ini dianggap masuk akal. Nggak ada keributan terkait uang antara pasangan. Para anggota keluarga juga akrab satu dengan yang lainnya meskipun jumlah mereka nggak sedikit. Bahkan dalam pengasuhan keluarga perempuan, perceraian nggak akan mempengaruhi kehidupan anak dan bebas dari stigma masyarakat.

“Ibuku dan saudara-saudaranya terikat hubungan darah. Jadi mereka dapat menjaga ikatan kuat sepanjang waktu,” ungkap Yang Zaxi, salah seorang penduduk suku Mosuo.

Praktik Masa Kini

Pada masa kini, para pasangan akan berkenalan saat prosesi dansa. Sambil berpegangan tangan, para lelaki akan menggelitik tangan sang perempuan. Saat gayung bersambut, sang perempuan akan menggelitik balik tangan sang lelaki.

Mereka kini dapat pasangan dari pesta dansa. (Big5)
Mereka kini dapat pasangan dari pesta dansa. (Big5)

Selanjutnya mereka akan berkencan dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Pada saat itu, hubungan mereka secara resmi akan diumumkan ke seluruh desa.

Sayangnya, tradisi ini dipandang berbeda dan dianggap kacau balau oleh orang asing. Mungkin karena para perempuan boleh bergonta ganti pasangan dan memiliki banyak suami. Namun menurut Yang Zaqhi, hal ini bukan merupakan suatu hal yang buruk.

“Menurutku, 'nikah jalan' ini bukanlah hal yang salah karena sebenarnya mereka tak dirugikan dan tetap bermoral,” ungkapnya.

Ya, meski kebanyakan pernikahan menganut konsep monogami. Namun nggak menutup kemungkinan praktik poliandri juga dapat mendatangkan kebahagiaan bagi pelakunya. Gimana pendapatmu, Millens? (Aku/IB27/E05)