Mengenal Low Season yang (Kadang) Terlupakan

Kalau kamu terganggu dengan keramaian pengunjung saat berwisata, mungkin low season bisa menjadi waktu yang tepat buatmu. Selain tempat wisata yang lebih longgar, diskon yang ditawarkan juga biasanya cukup menggiurkan. Kok gitu?

Mengenal Low Season yang (Kadang) Terlupakan
Seorang traveler yang sedang mengujungi salah satu objek wisata. (Traveloka.com)

Inibaru.id – Sebagian orang memanfaatkan waktu libur mereka untuk mengunjungi pelbagai tempat wisata. Ini menjadikan tempat-tempat wisata padat pengunjung saat itu. Bagi sebagian orang, situasi semacam ini nggak menjadi soal. Namun, sebagian lainnya memilih membatalkan jadwal traveling mereka begitu tahu betapa ramainya lokasi liburan yang mereka tuju.

Nah, buat kamu yang merasakan ketidaknyamanan traveling pas musim liburan, mungkin low season bisa jadi pilihan tepat buatmu. Hm, apakah itu?

Low season merupakan masa sepi kunjungan pada suatu tempat wisata. Pada periode itu biasanya nggak banyak orang berwisata. Banyak faktor menyebabkan terjadinya low season. Pertama, karena bukan hari libur. Masyarakat Indonesia memang cenderung enggan mengambil cuti atau izin hanya untuk berlibur.  Kita umumnya liburan saat ada hari libur atau musim liburan sekolah. Inilah yang mengakibatkan penurunan jumlah wisatawan.

Faktor yang juga menimbulkan low season adalah musim hujan. Kecenderungan masyarakat nggak suka bepergian saat musim hujan karena basah, becek, dan lain-lain.

Baca juga:
Kepincut Diskon Saat Low Season
Liburan Murah ke LN di "Musim Sepi"

Untuk wilayah Indonesia, low season umumnya terjadi sekitar September hingga pertengahan Desember. Musim ini kemudian berlanjut pada akhir Januari hingga April. Sementara, Desember hingga awal tahun justru menjadi puncak pengunjung karena ada libur Natal dan Tahun Baru.

Pengelola tempat wisata dan hotel umumnya menyiasati hal ini dengan memberikan diskon dan promo kepada para wisatawan. Nah, hal inilah yang dimanfaatkan beberapa traveler. Yemima Amanda, pelancong cewek asal Semarang ini terbilang rajin memanfaatkan promo low season. Menurutnya, banyak keuntungan dengan berwisata saat itu.

“Iya, tiketnya murah dan nggak terlalu ramai. Pas kulineran juga nggak antre panjang,” ujar Mima, sapaan akrabnya.

Hal senada juga dilakukan Amgasussari atau akrab disapa Amga. Perempuan asal Kalimantan itu bahkan mengaku pernah mendapatkan diskon besar saat low season.

“Pernah waktu itu saya ditawari promo, Yogyakarta-Bali cuma Rp 550 ribu, sudah termasuk tiket pesawat pergi-pulang dan penginapan dua malam. Langsung saya ambillah,” terangnya.

Nggak Banyak yang Tahu

Nah, kendati sudah banyak yang tahu dan memanfaatkan low season seperti Mima dan Amga, masih banyak juga lo yang nggak tahu tentang periode sepi kunjungan ini. Seperti kebanyakan orang, mereka ya berwisata pas musim liburan saja, seperti yang dilakukan Christine. Siswi SMK N 4 Semarang itu bahkan nggak tahu ada diskon-diskon besar pas low season.

“(Aku) nggak begitu tahu sih, aku cuma tahu kalo low season itu lagi sepi-sepinya tempat wisata. Kalo tentang promo hotel dan tiket saat low season itu aku nggak tahu, karena aku selalu travelling pas long weekend,” akunya.

Baca juga:
Tips Liburan Nyaman Saat Low Season
Solo Jadi Kota Paling Layak Huni di Indonesia

Yap, wajar sih apa yang dibilang Christine. Ini juga mungkin jadi suara hati kebanyakan dari kita kali ya, Millens. Ha-ha.

FYI, dalam dunia traveling, selain low season ada juga istilah high season dan peak season. High season biasanya jatuh pada musim liburan yang ramai pengunjung. Sementara, peak season adalah puncak dari high season. Umumnya, pada high season, terlebih peak season, harga tiket transportasi, tiket masuk ke tempat wisata, dan hotel cenderung naik.

Hm, pengetahuan baru nih. Jadi, buat kamu yang punya waktu libur atau bisa cuti di luar masa liburan, bisa dicoba nih traveling pas low season. Mau? (TS/IF)