Mengenal Gaya Arsitektur Neogotik Gereja Gedangan Semarang

Mengenal Gaya Arsitektur Neogotik Gereja Gedangan Semarang
Lantaran khawatir gempa, menara Gereja Gedangan Semarang dibuat nggak terlalu tinggi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Jika nggak melihat dengan teliti saat melintasi Jalan Ronggowarsito No. 11, kamu mungkin nggak bisa melihat Gereja Santo Yusuf dengan gamblang. Pasalnya lokasi gereja berdiri tertutup oleh rimbun pohon. Tapi begitu melihatnya, kamu bakal merasa dibawa ke benua lain; Eropa.

Inibaru.id – Rabu (18/12) sore itu tengah hujan deras, saya berteduh di Sekretariat Gereja Gedangan Semarang, nama lain Gereja Santo Yusuf. Ada dua penjaga, seorang lelaki berkacamata sekitar umur 30-an dan perempuan berambut panjang sekitar umur 20-an. Saya sedikit merasa awkward lantaran memakai kerudung, tapi mereka menyambut saya dengan baik. Lalu mereka mempertemukan saya dengan pastor legend di sini bernama Romo Leonard Smit, SJ.

Langit-langit dan ornamen khas gotik. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Romo Leonard menjelaskan, Gereja Gedangan dibangun dengan gaya neogotik pada 1 Oktober 1870. Hm, pantas saja dari luar gereja ini tampak seperti gereja Eropa bergaya gotik abad pertengahan yang tapi lebih sederhana. Unsur gotik yang masih saya temukan dari luar adalah menara serta ujung pintu dan jendela yang membentuk busur.

Baca juga: Abraham Fletterman, sang Arsitek Belanda yang Sayang Istri dan Perhatian pada Pribumi

Baca juga: Menyingkap Kebenaran Adanya Harta Karun di Rumah Kuno Peninggalan Belanda

Saya terkejut ketika pastor asal Belanda ini mengungkapkan desain gereja digambar oleh seorang arsitek yang “arsitek-arsitekan”. Wah, sulit dipercaya. Lalu seperti apa jika yang mendesain adalah arsitek betulan?

Bangku di dalam gereja bahannya berasal dari Eropa. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

O ya, awalnya pembangunan gereja menggunakan material lokal. Sayangnya, bahannya lembek. Hingga pernah ada kejadian pilar yang roboh karena bata nggak kuat. Duh!

“Lalu mereka mendatangkan batu dari Belanda dan itu mudah. Sebab kapal dari Belanda ke Indonesia mereka terutama mau ambil hasil bumi yang kemudian di sana bisa dijual, tetapi dari sana kapalnya nyaris kosong. Dan kalau you naik kapal yang kosong, ya diombang ambingkan angin. Sehingga mereka membawa barang amat sering untuk bikin gedung yang sulit,” terang Romo Leonard dengan bahasa campuran Indonesia-Inggris.

Jadi sudah jelas kan kenapa batu bata pada gereja ini sangat berbeda dengan batu bata buatan lokal?

Sesekali saya mengamati bagian dalam gereja yang diresmikan pada 12 Desember 1875 ini. Gaya interiornya mengikuti eksterior. Di bagian tengah, bangunannya menjulang tinggi lengkap dengan jendela model busur yang meruncing ke arah puncak dan ruang altar. Kaca jendela berbingkai timah warna-warni yang saya lihat juga menjadi salah satu identitas gaya gotik yang masih dipertahankan. Ya, inilah yang dinamakan neogotik; gaya gotik yang telah diutak-atik. He

Kaca patri dan patung 4 tokoh Perjanjian Lama yang bersejarah. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

O ya, pembangunan gereja sendiri pernah berhenti ketika dana habis. Sebelum Gereja Gedangan Semarang ini selesai dibangun, peribadatan umat Katolik sempat berpindah-pindah. Umat juga pernah menggunakan Gereja Blenduk di Kota Lama yang notabene gereja Kristen.

“Sebelumnya, diatur oleh pemerintah, mereka membagi Gereja Blenduk. Pada hari Minggu ibadah Kristen dulu, lalu siang-siang Katolik memakai gereja yang sama. Agak cepat mereka (umat Katolik) membeli rumah di daerah situ yang lalu dipakai sebagai gereja sementara. Di mana lantai bawah adalah gereja, lantai atas tempat tinggal pastornya,” ceritanya.

Pada masa Jepang, Gereja Gedangan menjadi tempat hunian uskup yang terkenal Soegijapranata, SJ. Uskup pribumi pertama di Indonesia. Jepang nggak berani menahan uskup karena ada perjanjian antara Vatikan dan Jepang.

Wah, menarik juga ya kisahnya, Millens. Pantas saja Gereja Gedangan Semarang masih kokoh hingga sekarang, wong materialnya bukan asal-asalan. Semoga selalu terjaga hingga ke generasi-generasi selanjutnya. (Isma Swastiningrum/E05)