Mengenal Budaya di Kampung Tematik

Kehadiran kampung wisata memberikan berbagai keuntungan bagi masyarakat setempat. Salah satunya mengenalkan budaya setempat kepada para pengunjung.

Mengenal Budaya di Kampung Tematik
Sejumlah anak berlatih memainkan jaran kepang di Kampung Jawi. (Lihatfoto.com/M. Rendra)

Inibaru.id – Kampung tematik yang ada di Semarang nggak hanya mengandalkan spot-spot yang Instagramabel lo. Ada beberapa kampung tematik yang menyuguhkan konsep lain seperti kebudayaan. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Selain meningkatkan perekonomian masyarakat, kampung tematik itu dapat menggaungkan kembali kebudayaan di tengah generasi millennials. Hmm!

Kampung Batik merupakan salah satu kampung tematik di Semarang yang mengenalkan budaya berupa batik Semarang. Terletak di Desa Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, kampung ini sudah menyandang nama "Kampung Batik" sejak zaman penjajahan. Namun, ini tampak ironis karena nggak seorang pun yang memproduksi batik di situ.

Kegelisahan itu dirasakan Eko Haryanto, penggagas batik Semarang di Kampung Batik. Dia lantas termotivasi untuk berbisnis batik Semarang.

“Waktu 2006, istri saya ikut workshop mengenai batik Semarang. Nah, setelah ikut workshop saya berpikir, kok kampung ini bernama 'batik' tapi nggak ada yang bikin batik. Kemudian, saya belajar batik Semarang sebelum akhirnya memutuskan untuk membuat batik Semarang tahun berikutnya,” tutur Eko.

Eko mengaku nggak mudah mengenalkan batik Semarang kepada masyarakat. Ini lantaran batik Semarang kalah pamor dengan batik di kota-kota lain seperti Pekalongan dan Solo. Namun, Eko nggak patah semangat untuk terus memproduksi dan mengenalkan batik Semarang ke Nusantara.

Semenjak ditetapkan sebagai kampung tematik khusus batik pada 2016 silam, Eko mengaku semakin banyak warga yang berjualan batik di kampungnya. Ini dapat mengangkat perekonomian masyarakat.

“Dulu pas 2007 ya hanya saya yang memproduksi batik, tapi sekarang ada sekitar 13 orang yang berjualan batik. Omzet keseluruhan juga bertambah berkat predikat itu,” ujar Eko.

Hal ini juga ditegaskan kembali Ida Purwati, Ketua RW 2 Desa Rejomulyo, Semarang Timur, Semarang.

“Sejak ditetapkan sebagai kampung tematik, perekonomian masyarakat bisa terangkat, kampung juga lebih bersih,” ungkap Ida.

Tradisi dan Kuliner

Selain Kampung Batik, ada pula Kampung Jawi yang terletak di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Kampung ini menyuguhkan kebudayaan Jawa lewat kesenian, tradisi, dan kuliner khas Jawa.

“Pada 2011 lalu saya khawatir dengan kebudayaan Jawa yang sedikit demi sedikit hilang akibat masuknya era digital. Saya lantas tergerak untuk mengajak anak muda berlatih rebana dan karawitan hingga akhirnya pada 2017 kampung ini resmi dijadikan Kampung Jawi oleh Walikota (Hendrar Prihad),” tutur Siswanto, Ketua RW 1 Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, Semarang.

Menurut pria yang kerap disapa Sis itu, saat ini Kampung Jawi sudah ramai dikunjungi masyarakat. Puncak kunjungan wisatawan umumnya terjadi pada Minggu karena ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan pada hari itu.

“Setiap Minggu, ada Pasar Jaten di sini. Isinya ya makanan tradisional. Kami juga ada latihan karawitan untuk anak-anak usia sekolah dasar pada siangnya,” ujar Siswanto.

Kendati demikian, mengembangkan dan melestarikan kebudayaan bukanlah hal yang mudah bagi Siswanto. Dia harus merancang strategi yang tepat agar Kampung Jawi tetap eksis di tengah masyarakat. Begitu pula yang dirasakan Eko untuk terus mengembangkan batik Semarang di Kampung Batik.

Hayo, siapa nih yang sudah pernah ke Kampung Batik atau Kampung Jawi? Selain menyediakan spot foto yang menarik, kamu juga dapat mengenal lebih jauh tentang budaya Jawa lo, Millens. Jadi, nggak ada ruginya berkunjung ke sana. (IF/GIL)