Mengenal Book-Shaming, Kebiasaan yang Harus Dihentikan Anak Muda

Mengenal <em>Book-Shaming</em>, Kebiasaan yang Harus Dihentikan Anak Muda
Setiap orang memiliki selera bacaannya masing-masing dan kamu harus menghargainya. (changeincontext.com)

Pernah mendengar istilah "book-shaming"? Seperti "body-shaming"? Istilah ini merujuk pada tindakan mengolok selera bacaan orang lain. Pelaku book-shaming kerap menganggap bacaannyalah yang paling keren, paling berbobot, dan paling berkualitas. Nah, kalau kamu sering tanpa sadar melakukan tindakan ini, mulai sekarang, hentikan ya, Millens.

Inibaru.id – Pernahkah kamu mengolok-olok temanmu lantaran dia membaca jenis buku tertentu? Mulai sekarang, kamu perlu menghentikan tindakan itu ya, Millens. Seperti body-shaming, book-shaming pun nggak seharusnya dilakukan pada orang lain.

Selera bacaan nggak seharusnya jadi tolok ukur kecerdasan seseorang. Namun, banyak orang merasa cukup angkuh untuk mengolok-olok jenis buku tertentu. Hal ini bisa kamu temukan saat membaca artikel dengan judul “10 Buku yang Nggak Seharusnya Kamu Baca” atau artikel sejenis lainnya. Dalam artikel tersebut, beberapa jenis buku seolah menjadi aib bagi pembacanya lantaran dianggap “kurang berbobot”. Dengan adanya anggapan ini, orang jadi malu bahkan takut membaca buku di area publik.

Komik, novel percintaan, atau novel erotis menjadi beberapa jenis buku yang sering dianggap kurang berbobot. Buku-buku tersebut kerap dianggap nggak mengedukasi pembaca secara maksimal. Padahal, nggak semua komik jelek. Ini juga berlaku terhadap novel percintaan. Orang jadi sering menganggap bahwa Romeo and Juliet lebih berbobot ketimbang Twilight atau 50 Shades of Grey. Nggak jarang pula, mereka merendahkan karya-karya tersebut dengan kata-kata yang pedas.

Selain jadi takut membaca buku di area publik, ini juga membuat pembaca takut merekomendasikan buku yang disukainya pada pembaca lain. Akibatnya, orang itu jadi membatasi dirinya sendiri. Yang paling parah, dia membeli buku bukan untuk memenuhi kebutuhannya, namun sekadar eksistensi. Bayangin, seandainya kamu gemar membaca komik, tapi yang kamu beli justru novel detektif, ini sama saja kamu menghambur-hamburkan uang. Untuk apa membeli sesuatu yang nggak kamu sukai?

Mulai sekarang berhentilah melakukan book-shaming karena itu sama saja dengan nggak menghargai selera bacaan orang lain. Yang harus disadari semua pembaca adalah buku bagus dan buku buruk memang ada. Kalau kamu pengin meningkatkan kualitas diri, tentu kamu harus juga mengisi kepalamu dengan bacaan yang berkualitas. Lebih baik lagi, jangan pula membaca hanya untuk kesenangan. Cobalah tengok buku-buku yang kamu anggap “terlalu berat”, “membosankan”, atau “bukan selera saya”. Siapa tahu, buku-buku itu malah membuatmu kepincut dan menambah wawasanmu.

Nah, nggak malu lagi kan membaca buku di tempat umum? (IB15/E05)