Mengapa Perayaan Waisak Identik dengan Pelepasan Lampion?

Mengapa Perayaan Waisak Identik dengan Pelepasan Lampion?
Tradisi menerbangkan lampion di puncak perayaan Waisak tahun 2018 (Inibaru.id/Hayyina Hilal)

Salah satu rangkaian acara yang dinanti saat perayaan Hari Waisak adalah pelepasan lampion atau Lentera Puja. Sebenarnya, apa sih arti dari tradisi ini bagi umat Buddha?

Inibaru.id – Hari Waisak adalah salah satu hari raya yang dapat dibilang sangat dinanti perayaannya. Selain dinanti pemeluk agama Buddha, hari raya ini juga dinanti para wisatawan. Nggak jarang para wisatawan memadati tempat pelaksanaan ibadah pemeluk Buddha seperti Candi Borobudur atau di Vihara Dhamma Harja, Banyuwangi saat Waisak tiba.

Salah satu rangkaian acara yang dinanti para wisatawan adalah pelepasan lampion. Tiap tahun, ratusan atau bahkan ribuan lampion akan diterbangkan ke langit pada malam puncak perayaan Waisak. Para wisatawan dan fotografer biasanya menunggu momen tersebut untuk mengambil gambar dari berbagai sudut.

Lampion itu disebut sebagai Lentera Puja. Bagi pemeluk agama Buddha, pelepasan Lentera Puja itu memiliki makna tersendiri yang sakral. Hal ini diungkapkan Saka Ria Gumilang, Ketua Pemuda Patria Banyuwangi.

“Pelepasan Lentera Puja itu penanda penutupan penghayatan sebulan Dhamma. Pelepasan ini adalah simbol melepaskan hal-hal negatif dari tiap diri manusia,” jelasnya pada Selasa (29/5/2018).

Tiap lampion yang diterbangkan ditulisi doa dan harapan. Harapan yang ditulis adalah harapan untuk menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Lentera puja diterbangkan saat puncak perayaan Waisak di Candi Borobudur tahun 2018 (Inibaru.id/Hayyina Hila)
Lentera puja diterbangkan saat puncak perayaan Waisak di Candi Borobudur tahun 2018 (Inibaru.id/Hayyina Hila)

“Pada pelepasan Lentera Puja, umat Buddha berdoa agar selalu dilimpahi kesehatan, kesejahteraan, dan berkah,” imbuh Saka.

Api yang ada pada Lentera Puja itu juga memiliki arti tersendiri. Bagi umat Buddha, api diartikan sebagai semangat dalam diri dalam menjalani kehidupan sekaligus mengharapkan petunjuk.

Selain itu, hal unik lainnya dalam perayaan ini adalah pelepas lampion menggunakan busana yang berbeda-beda. Bagi yang memakai busana berwarna putih, itu melambangkan kesucian. Sementara, bagi yang memakai busana hitam, melambangkan keberanian.

Saking ikoniknya pelepasan lampion Lentera Puja, pihak vihara biasanya menyediakan lampion bagi para wisatawan. Hal ini dilakukan juga di Candi Borobudur. Wisatawan hanya diminta membayar sumbangan agar bisa turut melepas lampion.

Sayang, tahun ini Hari Waisak nggak dirayakan secara besar-besaran seperti biasa demi mencegah penularan virus Covid-19. Kita pun nggak bisa lagi menikmati tradisi pelepasan lampion yang sangat indah ini.

Meski nggak bisa merayakan Waisak seperti biasa, semoga Waisak tahun ini tetap bermakna ya, Millens! Selamat merayakan Hari Waisak. (Ber/IB03/E07)