Menerapkan Puasa Khawasil Khawwas ala Imam Al Ghazali di Tengah Wabah Covid-19

Menerapkan Puasa Khawasil Khawwas ala Imam Al Ghazali di Tengah Wabah Covid-19
Konsep puasa khawasil khawwas yang agak njelimet, ternyata bisa dipraktikkan secara sederhana selama wabah. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Konsep pemurnian hati puasa khawasil khawwas milik Imam Al Ghazali ternyata dapat diterapkan pada hal-hal sederhana yang kita lakukan selama wabah Covid-19 ini.

Inibaru.id – Bulan Ramadan kali ini kita berada di kondisi yang agak “spesial” ya, Millens. Puasa saat ini harus kita jalani dalam kondisi wabah Covid-19 yang cukup mengubah kebiasaan sebelumnya. Hal ini membuat kita harus menjalankan puasa dengan kebiasaan yang baru ataupun ada yang nggak bisa lagi dilakukan.

Saya sempat membincarakan soal puasa khawasil khawwas dengan Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, ketua Ranting Istimewa Muhammadiyah di Queensland, pada Jumat (15/5). Puasa khawasil khawwas berarti menjaga hati dan pikiran dari hal-hal yang dapat merusak kemurnian kita kepada Allah dengan cara menahan hawa nafsu. Hal ini berarti dengan berpuasa khawasil khawwas, kita diajak untuk menjadi masyarakat yang nggak zalim ke sesama dan nggak merusak alam tempat kita hidup.

Dengan kondisi wabah Covid-19 seperti ini, saya agak penasaran: bagaimana cara kita bisa melaksanakan puasa khawasil khawwas di tengah wabah Covid-19 ini?

“Kita bisa berefleksi, misalnya: jangan-jangan wabah Covid-19 terjadi karena perilaku manusia yang begitu ekspansif menggerus habitat makhluk hidup lain dengan dalih urbanisasi atau industri?” tulis Umar dalam surat elektronik.

Salat tarawih dilaksanakan dengan menerapkan physical distancing. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)<br>
Salat tarawih dilaksanakan dengan menerapkan physical distancing. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Menurut Umar, di tengah Covid-19 ini, berpuasa khawasil khawas menjadi sangat relevan. Dengan keadaan physical distancing dan berpuasa, kita bisa mengoreksi kehidupan kita sendiri. Utamanya dengan tujuan puasa khawasil khawwas yang menjauhkan kita dari tindakan zalim ke sesama dan nggak merusak alam.

Dari konsep nggak zalim ke sesama dan menahan nafsu, kita bisa menerapkannya dengan kondisi di tengah wabah ini. Umar memberikan contoh sederhana, yaitu physical distancing. Menurut Umar, menerapkan physical distancing – bagi yang mampu – merupakan contoh dari menahan nafsu kita untuk bepergian yang tidak terlalu penting, juga membuat kita menjaga sesama dengan turut memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Puasa berarti menahan diri untuk keluar rumah (bahkan termasuk tidak ke tempat ibadah) karena itu berarti membawa ke-mudharat-an/kerugian bagi masyarakat,” tulis kandidat doktor bidang Politik dan Hubungan Internasional di University of Queensland, Australia ini.

Menjadi kritis di tengah arus informasi yang kencang selama wabah ternyata termasuk praktik puasa <i>khawasil khawwas</i> yang bisa kita praktikkan. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Menjadi kritis di tengah arus informasi yang kencang selama wabah ternyata termasuk praktik puasa khawasil khawwas yang bisa kita praktikkan. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Menahan nafsu juga bisa diaplikasikan dalam banyak hal, seperti menerima dan menyebar informasi. Di tengah kondisi wabah seperti sekarang ini, pengetahuan dan informasi menjadi sangat penting. Namun, bukan berarti kita menerima dan mengamini seluruh informasi secara buta.

Informasi yang kita terima harus dipilah dan diuji validitasnya. Salah satunya adalah dengan menerima informasi yang sudah terverifikasi dan diproduksi oleh orang-orang yang memang memahami dan berpengetahuan soal masalah itu.

“Ikuti anjuran orang-orang yang berilmu dan berpengetahuan ketika wabah,” tulis Umar.

Jadi, kalau kita hendak mengamalkan puasa khawasil khawwas di tengah wabah Covid-19 ini, jangan hanya memikirkan diri sendiri dan asal menerima informasi ya, Millens. (Gregorius Manurung/E05)