Menengok Seni Mural, Antara Hobi dan Profesi

Maraknya seni mural di tengah masyarakat menarik perhatian para seniman untuk menekuni bisnis ini. Namun, ada beberapa seniman yang enggan menjadikan bisnis mural sebagai pekerjaan utamanya. Begini alasannya.

Menengok Seni Mural, Antara Hobi dan Profesi
Bisnis mural dijadikan profesi atau sekadar hobi. (Nodalcultura.am)

Inibaru.id – Saat ini, mural menjadi salah satu seni yang digandrungi masyarakat. Hal ini karena masyarakat khususnya anak muda menganggap mural sebagai latar belakang yang Instagramabel. Nggak heran bila kini mural dapat ditemui di pinggir jalan, kafe bahkan di gang-gang kampung. Kini seni mural termasuk bisnis yang menjanjikan. Kendati begitu, masih banyak perupa mural yang enggan menjadikan seni “jalanan” itu sebagai profesi.

Berbagai alasan diungkapkan para seniman yang enggan menekuni bisnis mural, salah seorang di antaranya yakni Aditya Bayu Sukoco. Adit lebih memilih menjadi seorang fotografer setelah sempat berkecimpung di dunia mural beberapa tahun lalu. Menurut Adit, penghasilan yang dihasilkan seniman mural nggak pasti karena tergantung pada proyek atau pesanan.

 “Ya, bisa dibilang mural itu proyeknya musiman. Kalau ada kafe atau restoran baru bakal ramai pesanan. Makanya, saya nggak terlalu fokus di sana,” jelas pemuda asal Wonosobo, Jawa Tengah ini.

Adit mengaku, mulai menggambar mural sejak memasuki bangku SMA. Beberapa proyek dan kegiatan mural juga kerap diikuti Adit. Namun, hal itu hanya dijadikan sebagai sarana penyalur hobi. Lantaran hobi itu, Adit akhirnya memutuskan untuk berkuliah di Jurusan Seni Rupa, Program Studi Desain Komunikasi Visual. Kendati demikian, Adit mengaku nggak memiliki tujuan untuk mengomersialkan mural buatannya dan memilih dunia fotografer.

Baca juga: Mural si Bisnis Manis Seni Lukis

Keputusan yang sama juga dipilih oleh Alfriza Nailufar Firdaus. Meskipun pernah beberapa kali terlibat pada pembutan mural dan memprediksi kepopuleran seni mural bakal bertahan lama, pemuda yang kerap disapa Al ini nggak pengin menjadikan mural sebagai profesi utamanya.

“Saya nggak ada niatan buat mengomersialkan mural. Saya lebih banyak mengerjakan mural yang nonkomersial, seperti di dinding-dinding PAUD atau di dinding jalan,” tukas Al.

Mahasiswa Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Semarang ini mengungkapkan, dirinya mulai mengenal mural sejak SMP. Dia suka menggambar karena merasa gambar buatannya bukan hanya berkesan untuk dirinya, tapi juga bisa memberikan kesan untuk orang lain.

Sementara itu, Eri Topik, salah seorang seniman mural asal Bandung meyakini kalau berkesenian khususnya seni mural memang baiknya dijadikan hobi bukan profesi.

“Kalo bagi saya, seniman itu nggak bisa disebut profesi, lebih tepatnya hanya hobi. Jadi bisa menghasilkan uang ataupun nggak, ya nggak jadi masalah. Sedang populer ataupun nggak juga nggak jadi masalah. Kalau sebagai hobi bakal lebih menyenangkan, jadi kalo dapat bayaran itu hanya nilai plus saja,” terang Erik.

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia itu juga mengungkapkan, melalui mural dia mendapatkan beberapa proyek mural yang dikomersialkan. Sektor kuliner seperti kafe yang mendominasi pesanan mural. Dia juga memprediksi jika murl bakal terus berkembang mengingat kesadaran masyarakat tentang desain dan keindahan tata ruang saat ini.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Begini Perbedaan Mural dan Grafiti

Yap, saat ini seni mural memang sedang naik daun. Ini bisa dijadikan ladang uang bagi para seniman. Namun, semua itu kembali pada diri seniman masing-masing yang memutuskan untuk mengomersialkan mural atau sekadar hobi. (MEI/IF)