Mendengar Asa Pedagang Bunga Kalisari Semarang Jelang Valentine
Seorang pedagang bunga di Pasar Bunga Kalisari sedang menunggu pembeli. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mendengar Asa Pedagang Bunga Kalisari Semarang Jelang Valentine

Hari Valentine menjadi momen untuk mencari keuntungan para penjual bunga di Pasar Bunga Kalisari Semarang. Sebagian optimistis Valentine tahun ramai pembeli, tapi sebagian lagi pesimistis. Mereka yang pesimistis menganggap gerakan mengharamkan Valentine menjadi penyebabnya.

Inibaru.id - Bunga merupakan atribut yang nggak bakal absen saat momen valentine. Benda tersebut sudah sangat identik dengan ungkapan cinta dan kasih sayang. Maka nggak heran kalau bunga cukup laris diburu. Selain simpel, harganya pun terjangkau.

Cari bunga di Kota Semarang ya di Pasar Bunga Kalisari. Terletak di Jalan Dr. Sutomo atau tepatnya persis di jalan-jalan masuk menuju Kampung Pelangi, ada puluhan kios bunga berjajar. Dagangannya serupa karena biasanya kulakan dari tempat yang sama. Nah, pada Minggu (9/2/2020) siang, saya mencoba menengok bagaimana persiapan para pedagang bunga menjelang Hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari nanti.

Menyambut Valetine, para pedagang mematok harga bunga lebih tinggi. Misalnya dari yang awalnya harga bunga Rp 5 ribu menjadi Rp 10 ribu.

Soal antusias pembeli bunga, kata sebagian pedagang yang saya temui, Valentine sekarang sudah nggak seperti 2 atau 3 tahun sebelumnya. Tahun lalu pun penjualan "lesu".

Daria sedang melayani pengunjung yang minta rangkaian bunga. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Daria sedang melayani pengunjung yang minta rangkaian bunga. (Inibaru.id/ Audrian F)

Keluhan itu dilontarkan oleh Daria. Pedagang bunga yang sudah 10 tahun lebih berjulan di Pasar Bunga Kalisari. Dia sudah berani mengambil kesimpulan kalau penjualan bunga pada tahun ini akan sepi kembali.

“Ah, paling sepi. Tahun kemarin juga sepi. Nggak kayak tahun-tahun sebelumnya. Valentine nanti mungkin juga kayak biasanya gini (jumlah pembeli), nggak ada bedanya. Wisuda-wisuda sekarang juga sepi. Saya merasa kalah sama yang menjual lewat online-online begitu,” uja Daria.

Daria bukan satu-satunya yang mengeluhkan keadaan. Pedagang lain yang bernama Maria juga dengan raut muka pasrah berkata kalau sejak tahun kemarin sepi. Dia bahkan mengkambinghitamkan adanya gerakan dari beberapa oknum yang menganggap merayakan Hari Valentine itu haram.

“Ya mungkin gara-gara orang-orang bilang Valentine haram itu. Dagangan saya yang jadi korbannya. Nggak  tahu ini lagi serba sepi. Saya sudah bisa bilang begini karena pada Hari Ibu kemarin juga sepi,” ujar Maria.

Soal lonjakan harga, Maria mengatakan petani bunga yang menaikkan harga. Mau nggak mau harga di tokonya juga harus naik. Tapi lantaran kondisi sepi, Maria terpaksa menurunkan harga kembali agar nggak merugi.

Yang nggak sependapat dengan Maria juga, Millens. Menurut mereka bisa saja tahun ini ramai karena umumnya pembeli berdatangan mendekati 14 Februari.

Febria (Berhijab) sedang melayani pelanggan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Febria (Berhijab) sedang melayani pelanggan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Seperti Febriana, Menurut saya dia cukup mujur. Bagaimana nggak, sejak seminggu sebelum mencapai Valentine saja, kios bunganya sudah ramai.

“Ya mungkin bakal lebih ramai sih. Rame-tidaknya kan tergantung bagaimana memasarkannya,” ucap Febria yang masih berusia 19 tahun.

Jadi begitu ya, Millens. Kalau kamu beli bunga Valentine-nya di sini nggak? (Audrian F/E05)

Geliat Bisnis Kala Valentine di Semarang, Semanis Apa?
Geliat Bisnis Kala Valentine di Semarang, Semanis Apa?

Valentine bukan perayaan yang hampa. Pasti butuh beberapa atribut untuk memeriahkannya, seperti cokelat, bunga dan tempat-tempat romantis untuk saling mengungkapkan rasa sayang. Dari situ, mungkin bisa diambil kesimpulan, valentine dan bisnis memang saling berkelindan.

https://www.inibaru.id/hits/geliat-bisnis-kala-valentine-di-semarang-semanis-apa