Menanti Kepulangan Prasasti Pucangan dari India

Menanti Kepulangan Prasasti Pucangan dari India
Prasasti Pucangan di India. (IG @hilmarfarid)

Prasasti Pucangan sudah disimpan di Museum Kolkata, India, selama 208 tahun. Pihak pemerintah Indonesia kemudian meminta prasasti tersebut dipulangkan ke Indonesia. Seperti apa respons pemerintah India terkait permintaan ini?

Inibaru.id – Pemerintah Indonesia sudah menghubungi Pemerintah India untuk membawa pulang Prasasti Pucangan yang sudah 208 tahun berada di negara tersebut. Ditargetkan, pada November 2023 atau bersamaan dengan KTT G20 di India, prasasti yang ditemukan di Gunung Penanggungan, Jawa Timur tersebut sudah pulang ke Tanah Air.

Prasasti Pucangan adalah peninggalan dari Raja Airlangga yang memerintah Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Prasasti ini berisi silsilah Raja Airlangga dan sejumlah peristiwa yang terjadi di kerajaan tersebut pada abad ke-11.

“Kemarin di India kita melihat langsung Prasasti Pucangan. Nantinya kita akan mengirimkan tim ahli untuk mengetahui bagaimana bisa prasasti ini sampai ke India,” ungkap Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek Hilmar Farid sebagaimana dilansir dari Detik, Rabu (7/9/2022).

Ternyata, rencana untuk mengembalikan Prasasti Pucangan ke Indonesia sudah lama, Millens. Sekitar 3 tahun lalu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di India sudah menghubungi Kementerian Kebudayaan India. Ternyata, pemerintah India menyambut baik permintaan ini karena merasa peninggalan bersejarah tersebut memang milik Indonesia.

Lantas, mengapa kita harus menunggu selama itu untuk membuat prasasti ini balik ke Indonesia? Kalau menurut Hilmar, ada banyak proses birokrasi yang perlu dilakukan seperti dokumentasi, riset, dan sejumlah kesepakatan.

“Seperti lazimnya pengembalian benda-benda dari Belanda, pengembalian Prasasti Pucangan dari India juga makan waktu,” ucap Hilmar sebagaimana dikutip dari Tempo, Rabu (7/9).

Prasasti Dalam Dua Bahasa

Sejumlah perwakilan pemerintah saat mengecek kondisi Prasasti Pucangan.  (Republika/Dok. Kemenlu)
Sejumlah perwakilan pemerintah saat mengecek kondisi Prasasti Pucangan.  (Republika/Dok. Kemenlu)

Omong-omong ya, Millens, Prasasti Pucangan cukup istimewa karena ditulis dalam dua bahasa, yaitu Sansekerta di satu sisi dan Jawa Kuno di sisi lainnya. Keberadaan dua bahasa inilah yang membuat pemerintah bekerjasama dengan pemerintah India.

“Karena dari pihak India bisa Bahasa Sansekerta, kalau dari kita bisa Bahasa Jawa Kunonya,” lanjut Hilmar.

Satu hal yang sudah diketahui, prasasti ini bisa sampai di luar negeri saat Indonesia masih di bawah penjajahan Inggris pada 1814, tepatnya pada masa kepemimpinan Thomas Raffles. Saat itu, Raffles nggak membawa prasasti ini ke negaranya, sebagaimana benda antik lainnya. Prasasti Pucangan justru diserahkan ke Gubernur Jenderal Inggris di India pada masa itu, Lord Minto di Kolkata.

Sebenarnya, Lord Minto sempat meminta prasasti ini dibawa ke Hawick, Skotlandia. Tapi, entah bagaimana ceritanya, prasasti ini justru berakhir di ruang penyimpanan Museum Kolkata, India.

Di sana, Prasasti Pucangan ditempatkan di dalam gudang, bukannya dipamerkan. Kondisinya pun masih cukup baik dan sudah berkali-kali digunakan untuk kebutuhan penelitian.

“Pihak museum (di India) punya rencana untuk memamerkannya setelah tahu arti penting dari prasasti tersebut. Mereka sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk memastikan prasasti ini aman dan utuh,” pungkas Hilmar sebagaimana dilansir dari Suara (7/9).

Jadi nggak sabar ya Millens menunggu kepulangan Prasasti Pucangan yang bersejarah ini ke Tanah Air. (Arie Widodo/E05)