Menambang Bitcoin, Menggiurkan Tapi Boros Listrik

Menambang Bitcoin, Menggiurkan Tapi Boros Listrik
Banyak orang tertarik menambang Bitcoin karena mudah dan menggiurkan. (iStockphoto/Studiocasper)

Katanya nih menambang Bitcoin itu mudah dan menggiurkan. Tapi sayangnya, menghabiskan energi listrik yang nggak sedikit.

Inibaru.id – Meski menggiurkan dan nggak susah-susah amat, menambang Bitcoin boros listrik. Untuk menghasilkan mata uang kripto ini, diperlukan seperangkat komputer atau mining rig yang terdiri atas banyak kartu pengolah grafis (GPU).

New York Times pernah membeberkan betapa borosnya aktivitas penambangan Bitcoin ini lo. Disebutkan pembuatan Bitcoin bisa mengonsumsi listrik sebanyak 91 terawatt per jam per tahun. Jumlah ini diperkirakan naik lima kali lipat dari lima tahun lalu, dan hampir mencapai setengah dari total konsumsi listrik di seluruh dunia. Wow!

Bahkan, konsumsi listrik untuk proses menambang Bitcoin setiap tahunnya disebut setara dengan konsumsi listrik di Washington (saja) tiap tahun. Bayangkan, jumlah ini juga tujuh kali lipat dari total konsumsi listrik operasional Google di seluruh dunia, Millens.

Tapi, kenapa sih menambang Bitcoin bisa seboros itu?

Menambang Bitcoin: mudah dan menggiurkan

Butuh pasokan listrik yang besar untuk menambang Bitcoin. (Beritasatu/Uthan AR via Investor ID)
Butuh pasokan listrik yang besar untuk menambang Bitcoin. (Beritasatu/Uthan AR via Investor ID)

Kalau dirunut, borosnya konsumsi listrik untuk menambang Bitcoin ini dimulai dari proses yang dilakukan para penambang. Transaksi Bitcoin ini gampang banget lo. Cukup mengawalinya dengan membuka akun di platform penukar uang Bitcoin seperti Coinbase.

Nah, di platform tersebut, kamu dapat membeli Bitcoin dengan membayar melalui mata uang yang sah, seperti dollar atau rupiah. Bitcoin yang sudah kamu beli, disimpan di dalam dompet digital.

Kalau kamu mau belanja menggunakan Bitcoin, prosesnya sama kok seperti transaksi pembayaran normal. Tapi, harus melalui tahap validasi. Tujuannya, meyakinkan penjual bahwa Bitcoin milikmu asli.

Keseluruhan proses ini bakal dicatat dan diamankan ke dalam sistem Bitcoin public ledger atau dikenal dengan istilah blockchain. Di sinilah konsumsi listrik yang sangat besar dibutuhkan. Para penambang bakal berebut memvalidasi transaksi dan memasukannya ke dalam blockchain.

Penyebab penambangan Bitcoin boros listrik

Untuk mendapatkan Bitcoin ini, nggak gampang ya. Komputer yang dipakai para penambang harus mampu memecahkan soal matematika yang melibatkan serangkaian perhitungan algoritma rumit. Nah lo! Proses pemecahan itulah yang disebut dengan mining atau penambangan, Millens.

Komputer yang digunakan harus tangguh dan selalu beroperasi agar dapat menambang Bitcoin. Proses ini nggak cuma dilakukan satu atau dua orang. Ada begitu banyak orang dan perusahaan yang ada di dalam prosesnya. Sudah pasti listrik yang dipakai akan sangat besar.

Belum lagi, ada kemungkinan satu orang memasang nggak cuma satu perangkat. Ini karena, semakin banyak komputer yang dipasang, semakin besar pula peluangnya untuk mendapat kepingan Bitcoin.

Jaringan Bitcoin pun sengaja dirancang untuk membuat soal semakin sulit dipecahkan oleh penambang. Spesifikasi computer yang dipakai juga tinggi, terutama GPU agar bisa memecahkan perhitungan algoritma dan memenangkan persaingan dengan cepat.

Peserta semakin banyak, maka permainan akan semakin sulit, sehingga persaingan akan semakin ketat. Listrik yang dibutuhkan juga akan semakin banyak. Kepopuleran Bitcoin juga membuat semakin banyak orang yang ikut terjun sebagai penambang. Alhasil, kebutuhan mesin akan semakin tinggi.

Hasilkan sampah elektronik

ilustrasi - Penambangan Bitcoin turut menambah jumlah sampah elektronik. (Soloraya)
ilustrasi - Penambangan Bitcoin turut menambah jumlah sampah elektronik. (Soloraya)

Kepopuleran Bitcoin ini menyeret isu lain yaitu banyaknya sampah elektronik. Bayangkan, para penambang hanya bisa menggunakan perangkat khusus yang tangguh. Jika penambang menggunakan lebih dari satu perangkat, otomatis ia membutuhkan ruangan yang cukup luas dan menambah pendingin ruangan. Maklum, mesin dipaksa bekerja selama 24 jam.

Bukan cuma boros listrik, perangkat yang rusak bakal menjadi masalah baru. Rata-rata usia mesin yang digunakan untuk menambang Bitcoin hanya 1,5 tahun.

Dilansir dari KompasTekno dari Digiconomist, Kamis (9/9/2021), sampah elektronik dari aktivitas penambangan Bitcoin mencapai 8,21 kiloton per tahun per 7 September. Pada Juni 2021, sampah elektronik dari Bitcoin menghasilkan 15,15 kiloton.

Coba bayangkan, bagaimana penambangan Bitcoin ini berpotensi mengundang dampak negatif bagi lingkungan di masa depan.

Gimana, kamu mau ikutan menambang Bitcoin juga, Millens? (Kom/IB21/E07)