Menakar Benefit Kampung Wisata

Saat ini, tren kampung wisata semakin menggeliat. Pelbagai tempat baru bermunculan bak cendawan di musim hujan. Namun, kehadiran mereka acap kali diiringi pro-kontra, apakah menguntungkan, atau malah meresahkan masyarakatnya?

Menakar Benefit Kampung Wisata
Kampung Pelangi Semarang. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Inibaru.id – Kehadiran desa wisata memberi referensi tempat berlibur baru bagi masyarakat. Menyuguhkan pemandangan alam yang ciamik, tradisi unik, dan sosial masyarakat yang khas membuat desa wisata semakin diminati masyarakat. Kesuksesan itu kemudian ditiru desa lain dengan membuat desa wisata baru.

Nggak hanya desa wisata, sejumlah kampung tematik juga telah ada di Semarang. Kampung tematik merupakan program Pemerintah Kota Semarang yang digagas Walikota Semarang Hendrar Prihadi pada 2016 lalu. Saat ini nggak kurang dari 100 kampung tematik dari 177 kelurahan dan desa telah berdiri di Semarang. Ini seolah menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk mempromosikan kampungnya kepada khalayak.

Kepala Bidang Kelembagaan Kepariwisataan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Giarsito Sapto Putratmo mengungkapkan adanya kampung tematik diharapkan dapat meningkatkan jumlah desa wisata yang ada di Semarang.

“Kampung tematik itu embrio desa wisata yang dikembangkan Pemerintah Kota Semarang dengan menggandeng beberapa dinas seperti Disbudpar, DPU, dan Bappeda,” ujar pria yang kerap disapa Sapto itu.

Menurutnya, kehadiran desa wisata dan kampung tematik bertujuan untuk mengembangkan potensi pariwisata yang ada di wilayah desa atau kelurahan. Namun, tambah pria kelahiran Semarang itu, tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Baca juga:
Kampung-kampung yang Bersolek untuk Jadi "Wisata Digital"
Mengenal Budaya di Kampung Tematik

Dengan mengubah lingkungan menjadi lebih tertata dan pemetaan potensi yang tepat, masyarakat dapat mengumpulkan pundi-pundi uang dari adanya kampung tematik.

Ketua RW Kampung Batik Semarang Ida Purwati menuturkan, keberadaan kampung wisata di tempatnya, wilayahnya kini lebih tertata dan banyak potensi yang bisa dimunculkan.

"Setelah jadi kampung tematik, kampung batik kini lebih bersih dan tertata. Pengunjung juga banyak ke sini untuk sekadar swafoto atau membeli batik. Warga akhirnya banyak yang usaha batik, salah satunya saya,” ujar Ida.

Dia menambahkan, lingkungan kampung juga lebih diperhatikan karena uang parkir dari para pengunjung digunakan sebagai uang kebersihan. Menurut Ida, hal itu menguntungkan warga sebab kebersihan kampungnya selalu terjaga.

Namun, kendati banyak benefit yang didapatkan, Ida menuturkan, ada beberapa hal yang juga menjadi kendala warga ketika wilayah mereka menjadi tempat wisata. Dia sadar, predikat kampung tematik nggak selalu disukai warga. Sejumlah warga diakuinya merasa terusik dengan keramaian pengunjung yang datang ke kampung mereka.

“Kalau ada acara atau event gitu ada juga warga yang terganggu karena berisik," tuturnya.

Nah, kalau sudah begitu, Ida biasanya langsung memberi tahu warga bahwa untuk menjadi kampung tematik dan tempat wisata ada konsekuensi-konsekuensi semacam itu.

"Ya, kan, menjadi lokasi wisata, memang sudah konsekuensi jadi kampung tematik seperti itu,” ungkap Ida.

Kesiapan Warga

Menjadikan satu wilayah sebagai kampung wisata nggak cuma perkara menjadi terkenal atau menangguk keuntungan ekonomi di daerah tersebut. Konsekuensi tambahan semacam menerima kehadiran tamu atau terganggu privasi mereka sudah barang tentu harus dipertimbangkan.

Sadar dengan situasi ini, seorang warga Kampung Pelangi Semarang, Setianingsih, mengaku warga di tempatnya telah sadar betul terhadap situasi ini. Menurutnya, warga Randusari yang "ketempatan" Kampung Pelangi nggak ada yang keberatan jika kampungnya ramai dikunjungi turis.

“Sudah biasa ramai di sini, malah senang banyak ketemu orang dari luar daerah bahkan luar negeri. Kampungnya jadi terkenal,” bebernya.

Dia justru bersyukur kampungnya dijadikan sebagai salah satu kampung wisata tematik. Keberadaan kampung tematik diakuinya mampu meningkatkan penghasilannya yang sehari-hari berjualan. Nggak cuma dia, sejak Kampung Pelangi dibangun, banyak juga warga yang mendadak berjualan seperti dirinya. 

"Pas awal dibangun, banyak yang berjualan, tapi sekarang nggak sedikit juga yang gulung tikar karena mulai sepi," keluh Setianingsih.

Seperti dituturkannya, pengunjung Kampung Pelangi sejak 2018 ini memang bisa dibilang sangat menurun, yang juga turut mengganggu perputaran uang yang diperolehnya dari berjualan. Beruntung, dia masih bertahan, nggak seperti teman sejawatnya yang terpaksa mandek berjualan.

Baca juga:
Mengubah Potensi Wilayah Menjadi Desa Wisata
Gadis Ini Minta Kursi Roda kepada Jokowi

Disbudpar Semarang bukannya nggak pernah memprediksi kemungkinan ini. Kepala Bidang Kelembagaan Kepariwisataan Giarsito Sapto Putratmo mengungkapkan, kesuksesan kampung tematik bertumpu pada partisipasi aktif masyarakat setempat. Kreativitas dan solidaritas sangat diperlukan untuk membuat kampung tematik tetap eksis.

“Semuanya itu tergantung kepada lembaga pemberdayaan masyarakat. Maka dari itu kami bentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Kelompok ini yang fokus mencari tahu potensi desanya untuk kemudian dikembangkan dan diinventarisasi,” pungkas Sapto.

Manusia memiliki sifat dasar yang mudah bosan. Pun demikian dalam berwisata. Diperlukan inovasi-inovasi baru agar kampung tematik tetap bisa menarik minat masyarakat khususnya generasi millennial yang selalu suka hal baru. Millens, ikut terlibat dalam eksistensi kampung wisatamu, yuk! (IF,MEI/GIL)