Menag Berjanji Tanggung Biaya Sekolah Anak Korban Pembakaran Hidup-Hidup

Prihatin dengan keluarga korban terduga pencurian amplifier yang dibakar hidup-hidup, Menteri Keagamaan Lukman Hakim Syaifuddin berjanji akan menanggung biaya sekolah anak korban.

Menag Berjanji Tanggung Biaya Sekolah Anak Korban Pembakaran Hidup-Hidup
Menag, Lukman Hakim Syaifuddin dan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, berkujung ke rumah korban pembakaran hidup-hidup. (Foto: Today.line.me)

Inibaru.id - Korban penghakiman jalanan yang mengakibatkan kematian terhadap terduga pencurian amplifier, Muhammad Al Zahra, mendapatkan empati dari berbagai kalangan. Setelah para tetangga yang menyempatkan diri mengunjungi keluarga korban, kini giliran Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyambangi kediamannya.

Sebagaimana dikutip Dream.co.id, Lukman mengunjungi rumah keluarga Joya, panggilan akrabnya selama hidup, di Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Lukman pun berbincang dengan istri almarhum Zahra, Siti Zubaedah, yang tengah mengandung.

Sebelumnya dikabarkan, Joya diduga mencuri amplifier Mushala Al Hidayah, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Berdasarkan keterangan polisi, korban yang kabur kemudian dikejar masa hingga tiba di tepi sungai.

Ia kemudian menceburkan diri ke sungai. Nahas, begitu tiba di seberang sungai, Joya justru menjadi bulan-bulanan masa. Ia ditangkap dan dihakimi massa, hingga akhirnya berujung dibakar dalam keadaan hidup-hidup.

Baca juga: Niat Suruh Siswanya Salat Dzuhur, Guru Ini Justru Kena Vonis 3 Bulan Penjara

Video amatir detik-detik pembakaran itu menjadi viral di media sosial dengan tajuk berbeda-beda, tapi pada intinya informasi tersebut mengabarkan, Joya adalah korban salah tangkap yang berujung pada pembakaran setelah dipukul beramai-ramai.

Di hadapan Zubaedah, Lukman berjanji akan menanggung biaya pendidikan putra mendiang Joya.

"Insya Allah, jika keluarga almarhum mengizinkan, saya akan menanggung biaya pendidikan anak almarhum," ujar Lukman, dikutip dari kemenag.go.id, Senin (7/8), sebagaimana dilansir dari Dream.co.id.

Lukman juga menyampaikan duka mendalam atas musibah yang dialami Joya. Dia berharap, peristiwa semacam itu tidak akan terulang lagi dikemudian hari.

“Saya sangat berharap tindakan ini bisa diproses secara hukum dan kita semua bisa sama-sama mengambil pelajaran atas musibah yang menimpa keluarga Siti Zubaedah,” tegas Lukman.

Bersamaan dengan Lukman, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, juga berkunjung ke kediaman Zahra.

Baca juga: Bahas Janda Cantik Saat Mikrofon Masih Menyala, Imam dan Jamaah Bikin Geger Satu Kampung.

Peristiwa yang terjadi pada 2 Agustus 2017 itu saat ini tengah ditangani pihak kepolisian. Hingga kini polisi sudah memeriksa sejumlah saksi terkait kasus tersebut. Dua di antaranya bahkan telah ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya berinisial Su (40) dan Ma (39), sebagaimana dikutip dari Warta Kota. Kapolres Metro Bekasi Komisaris Besar Asep Adisaputra mengatakan, pihaknya telah memeriksa sembilan saksi lain yang berada di lokasi kejadian.

“Kedua tersangka ini ikut memukul korban dengan tangan kosong,” kata Asep di kantornya, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, pada Senin (7/8) petang.

Kepada polisi, tersangka Su dan Ma mengaku menganiaya Joya saat keluar dari kali.

Kepala Satuan Reskrim Polrestro Bekasi AKBP Rizal Marito menambahkan, kedua tersangka telah menyesali perbuatannya. Kendati demikian, hukum akan tetap ditegakkan. Sementara itu, pihak Polrestro Bekasi hingga kini juga masih memburu lima tersangka lainnya yang berperan sebagai penyiram bensin hingga yang menyulutkan api ke tubuh korban, juga yang memukul korban dengan benda tumpul.

Menurut Rizal, polisi telah mengantongi identitas dan persembunyian para tersangka. Dia berharap agar tersangka bisa segera ditangkap.

"Kami juga minta agar tersangka menyerahkan diri karena perbuatannya sangat merugikan bahkan menghilangkan nyawa orang lain," tegasnya. (OS/IB)