Mempertanyakan Nalar Para Penyambut Saipul Jamil

Mempertanyakan Nalar Para Penyambut Saipul Jamil
Penyambutan meriah Saipul Jamil saat keluar dari penjara usai dihukum karena kasus pelecehan seksual. Ironis? (Okezone/MPI/ Faisal Rahman)

Jika di luar negeri artis yang (pernah) terjerat kasus pelecehan seksual bakal diboikot di seluruh saluran media dan harus terseok-seok untuk mengambil hati penonton, tampaknya hal ini nggak berlaku di Indonesia. Masih saja ada fans fanatik yang menyambut mereka dengan suka ria. Seperti yang baru-baru ini terjadi pada Saipul Jamil. Selepas menjalani masa hukuman atas kasus pelecehan seksual anak di bawah umur, menurut sejumlah keterangan, dia sudah disodori banyak kontrak di dunia hiburan. Bingung? Sama!

Inibaru.id – Entah kebaikan apa yang pernah dilakukan Saipul Jamil pada negara ini, sampai-sampai kebebasannya dari hotel prodeo membuat girang sebagian orang di Indonesia tercinta. Padahal, dia adalah mantan narapidana kasus pelecehan seksual anak di bawah umur alias seorang pedofilia.

Saat keluar dari penjara pada Kamis (2/9) kemarin, dia justru disambut bak pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang. Bravo!

Lelaki berusia 41 tahun bernama asli Jamiluddin Purwanto ini keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur dengan wajah semringah. Nggak hanya disambut meriah dengan kalungan bunga dan sorot media, kabarnya Saipul bakal dengan mudah kembali ke dunia hiburan karena sudah mendapatkan sejumlah tawaran.

Rekan-rekan sesama selebritas menyebut Saipul pantas untuk kembali ke dunia hiburan karena sudah menjalani hukumannya. Namun, warganet berkata lain. Banyak pihak yang mencibir sambutan pedangdut ini saat keluar dari penjara. Apalagi, kasus yang menimpanya nggak main-main, pedofilia.

Seruan boikot pun menggema di media sosial. Banyak yang nggak rela kalau sampai pelaku pelecehan seksual kembali menjadi public figure. Bisa jadi ke depannya banyak yang kemudian menganggap remeh kasus pelecehan yang sangat amoral ini karena toh, ada pelaku yang tetap bisa hidup mewah menjadi selebritas.

Salah seorang yang getol memboikot Saipul adalah seksolog Zoya Amirin. Dia menyarankan untuk meng-cancel sang pedangdut.

“Saatnya cancel culture yang tepat sasaran! Cancel pelaku pedophilia di Televisi Nasional #CancelPedhopiliadiTVNational,” seru Zoya di akun Instagramnya @zoyaamirin, Kamis (2/9).

Saipul Jamil menyelesaikan masa 5 tahun penjara karena kasus pelecehan seksual anak di bawah umur. (klikkoran.com)
Saipul Jamil menyelesaikan masa 5 tahun penjara karena kasus pelecehan seksual anak di bawah umur. (klikkoran.com)

Selain jengkel dengan kembalinya pelaku pelecehan seksual di televisi Indonesia, banyak orang yang menyayangkan hal ini bisa melukai perasaan korban yang tentu bakal merasa nggak adil karena melihat pelaku tetap diperlakukan istimewa oleh banyak pihak.

“Cuma di Indonesia mantan napi, kasus cabul lagi, pas bebas malah tv berebut ngundang. Apa kabar korbannya Saipul Jamil lihat nih orang nongol di tv,” tulis akun @jl_manoban bersungut-sungut.

Pelecehan Seksual Dianggap Remeh di Indonesia?

Meski untuk kasus yang berbeda, yakni kasus pelecehan seksual di KPI Pusat, apa yang diungkap Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara bisa jadi gambaran penanganan pelecehan seksual yang memang masih dianggap remeh di Indonesia. Padahal, korban nggak hanya mengalami kerugian fisik, melainkan juga mental.

Banyak korban yang merasa harkat dan martabatnya menjadi lebih rendah. Mereka juga mengalami trauma yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Apalagi jika tahu pelakunya seperti nggak tersentuh dan tetap bisa hidup dengan normal saat dirinya kesulitan untuk kembali hidup normal usai hancur berkeping-keping.

Eh, kamu masih nge-fans sama Bang Ipul, Millens? Yuk, jangan kasih panggung kepada pedofilia sebagai cara berempati pada para korban. (Sin, Tem, Asum/IB09/E05)