Memotret di Pasar Nggak Boleh Sembarangan, KHP Semarang Berbagi Tips!

Memotret di Pasar Nggak Boleh Sembarangan, KHP Semarang Berbagi Tips!
Memotret pasar butuh cara juga. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pasar menyimpan banyak objek yang bia diabadikan dalam momen jepretan kamera. Namun, ternyata memotret pasar nggak boleh ngasal. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Inibaru.id - Pasar dengan berbagai aktivitas perdagangan dan interaksi masyarakat dinilai sebagai lokasi yang cocok untuk mengabadikan momen. Berbagai genre fotografi pun bisa diterapkan di sana, mulai dari foto kebudayaan, human interest, hingga street photography.

Berada di pasar, semua orang bisa bebas berkreasi dengan moncong kameranya. Nggak ada aturan atau pakem khusus. Namun, memotret momen di pasar rupanya nggak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa aturan nggak tertulis dan persiapan yang cukup matang untuk memulainya.

Hal ini sebagaimana diungkapkan fotografer senior Kota Semarang Agus Budi Santoso. Berburu foto bersama Komunitas Hunting Pasar (KHP) Semarang di Pasar Gang Baru, Pecinan Semarang, Minggu 10/1/2020), Agus mengatakan, dalam memulai "perburuan" di pasar, fotografer harus memerhatikan beberapa hal. Apa saja?

Kriteria Pasar

Nggak semua pasar bagus untuk dipotret. (Inibaru.id/ Audrian F)
Nggak semua pasar bagus untuk dipotret. (Inibaru.id/ Audrian F)

Perlu kamu tahu, nggak semua pasar bisa dijadikan tempat berburu foto. Akan lebih baik jika kita memilih pasar yang punya karakter agar ada keunikan pada hasil foto kita.

“Misal, di Pasar Gang Baru ada mbok gendong-nya. Kemudian, Pasar Kaponan juga menarik. Di sana para pedagang (sudah) nggak heran kalau ada orang motret,” ujar Agus.

Persiapkan Diri

Saat memotret pasar, kamu akan berhadapan dengan orang yang nggak dikenal dan lingkungan yang mungkin asing. Oleh karena itu persiapan diri jika terjadi sesuatu perlu dilakukan.

Agus menjelaskan, fotografer juga harus bersiap akan kemungkinan terburuk, misal didatangi preman pasar atau ada orang yang nggak suka karena kita mengambil gambar.

“Yang penting, jangan tampak panik. Siapkan alasan dan jangan pelit senyum,” jelasnya.

Di manapun me motret, Agus berpesan agar kita memahami situasi dan lingkungan. Dengan paham situasi, kita bisa terhindar dari sesuatu yang nggak diinginkan.

Kamera Hanyalah Alat

Motret pasar nggak butuh kamera yang mahal. (Inibaru.id/ Audrian F)
Motret pasar nggak butuh kamera yang mahal. (Inibaru.id/ Audrian F)

Agus juga menuturkan bahwa memotret tentang pasar tidaklah merepotkan, baik ketika mengambil gambar maupun editing. Menggunakan kamera apa pun nggak masalah, termasuk ponsel pintar sekali pun.

"Yang paling penting adalah skill," kelakarnya.

Namun begitu, dia menyarankan, untuk memotret di pasar, para "hunters" sebaiknya memakai kamera mirorrless atau gawai saja, alih-alih DSLR berlensa panjang. Ini dilakukan agar kita nggak menarik banyak orang yang bisa berimbas pada hilangnya momen dramatis yang harusnya natural.

“Orang di pasar kalau lihat kamera besar suka heboh. Kita yang mau motret malah jadi nggak tenang!” kata dia.

Kalau Bisa, Nggak Perlu Izin

Agus menambahkan, memotret di pasar sebetulnya nggak perlu izin. Jadi, sebisa mungkin, nggak perlu meminta izin pada objek yang mau kita foto karena akan membuat kita kehilangan momen atau situasi yang apa adanya alias natural. Sementara, men-setting adegan di pasar juga bukan perkara mudah.

Untuk situasi ini, dia pun menyarankan dua cara, yakni dengan "tabrak lari" atau pengalihan pandangan. Dua hal itu dilakukan dengan bertanggung jawab, bukannya nggak beretika. 

"Tabrak lari itu langsung jepret saja, lalu pergi. Sementara, pengalihan pandangan itu, misalnya, pandangan ke atas, padahal kita sedang membidik momen di depan," papar Agus.

Cari Momen Puncak

Saat motret pasar nggak harus izin, tapi perhatikan etika. (Inibaru.id/ Audrian F)
Saat motret pasar nggak harus izin, tapi perhatikan etika. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dalam dunia fotografi, ada satu situasi yang kerap disebut sebagai momen puncak, nggak terkecuali di pasar. Momen puncak umumnya akan menambah kredit foto dan membuat hasilnya kian apik.

Menurut Agus, momen puncak di pasar adalah saat melakukan pembayaran. Hal ini masuk akal, karena pasar adalah tempat untuk melakukan transaksi jual-beli.

Mulai dari Yang Terdekat

Kemungkinan terburuk di pasar, seperti disatroni preman atau dihardik orang saat memotret mereka, bisa saja terjadi. Kita memang bisa mempersiapkan semuanya, tapi kalau belum berani, jangan memaksakan diri.

Kalau kamu masih merasa gentar, Agus menyarankan untuk memulai hunting di pasar-pasar yang dekat rumah dulu saja. Kalau sudah terbiasa, barulah naik level ke pasar lain.

“Kalau sering berinteraksi dengan situasi dan lingkungan di pasar, mental juga ikut terasah,” pungkas Agus.

Nah, bagaimana? Sudah siap memotret di pasar dengan tips-tips dari KHP Semarang itu? Siapkan kameramu ya, Millens! (Audrian F/E03)