Memimpikan Tempat Wisata Kota Semarang yang Ramah Penyandang Disabilitas

Memimpikan Tempat Wisata Kota Semarang yang Ramah Penyandang Disabilitas
Penyandang disabilitas saat menjelajahi Kota Lama. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mengadakan event meriah di tempat wisata untuk menghibur warga Kota Semarang memang penting. Tapi akan lebih oke jika ditunjang dengan sarana prasarana. Bagaimana bisa penyandang disabilitas menikmati acara jika nggak ada fasilitas yang mendukung?

Inibaru.id - Mumpung Pemerintah Kota Semarang habis meluncurkan kalender event 2020 dan masih dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional, yuk ngomongin infrastruktur yang mempermudah akses teman-teman penyandang disabilitas di objek wisata Kota Semarang. Mereka juga berhak menikmati tempat wisata sebagaimana orang lain kan?

Kalau kamu sempat jalan-jalan ke Kota Lama beberapa bulan terakhir ini, kamu bakal dibuat takjub dengan penampilannya. Pascarevitalisasi, Kota Lama makin cantik dan apik saja ya. Mau ambil foto yang kece jadi seru. Sayangnya, beberapa penyandang disabilitas kurang bisa menikmati keindahan ini. Padahal hak mereka juga sudah dijamin UUD 1945, UU No 8/2018 tentang Penyandang Disabilitas, Permen PUPR No 14 / 2017 tentang Kemudahan Bangunan Gedung dan Tempat Layanan Umum, dan Convention on The Rights of Persons with Disabilities (CRPD).

Harus diakui, pemerintah kota sudah tampak berusaha melengkapi fasilitas untuk penyandang disabilitas. Tapi belum cukup. Lihat saja pagar-pagar kecil pembatas trotoar. Jaraknya terlalu sempit sehingga pengguna kursi roda nggak bisa melewatinya. Rujukan tempat wisata lain yang belum ramah difabel adalah Museum Ranggawarsita. Nggak ada fasilitas audio yang dibutuhkan tunanetra.

Lain cerita kalau di Masjid Agung Jawa Tengah, fasilitas fisiknya mungkin lumayan. Seperti toilet yang mudah digunakan difabel.

Para penyandang disabilitas saat mengikuti Sekolah Telusuri. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hendrar Prihadi, Wali Kota Semarang selepas membuka peluncuran kalender event Kota Semarang memberikan keterangan terkait infrastruktur bagi penyandang disabilitas.

“Kami terus berbenah. Satu demi satu akan kami lengkapi, termasuk untuk kawan-kawan disabilitas. Kami tahu sekali, keberadaan mereka juga sangat penting seperti semua orang Semarang pada umumnya,” ujar Hendi, Jumat (7/12).

Menyambung pernyataannya tersebut, Hendi juga menuturkan kalau sejauh ini Pemerintah Kota Semarang sudah berusaha menyediakan infrastruktur untuk memudahkan penyandang disabilitas dalam beraktivitas di tempat umum atau wisata.

“Kalau di tempat aset pemerintah Kota Semarang kami sudah coba melengkapi, misalnya toilet yang ramah terhadap teman-teman disabilitas. Sementara di tempat-tempat wisata milik swasta kami sudah kirimkan surat-surat imbauan supaya ada fasilitas yang mampu melayani teman-teman disabilitas,” tambah Hendi.

Hm, semoga pemerintah kota dan seluruh elemen dapat bersinergi biar nggak ada lagi marginalisasi terhadap penyandang disabilitas ya, Millens. Terlebih lagi Kota Semarang telah mendeklarasikan diri sebagai kota inklusi, di mana perbedaan perlakuan ditiadakan. Selamat Hari Disabilitas Internasional. (Audrian F, Isma Swastiningrum/E05)