Meraup Untung di Pasar Malam Dugderan

Selain arak-arakan, Pasar Malam Dugderan juga ditunggu-tunggu warga Semarang. Kesempatan ini pun dimanfaatkan beberapa pedagang untuk meraup untung di Pasar Malam Dugderan.

Meraup Untung di Pasar Malam Dugderan
Pedagang di Pasar Malam Dugderan. (Inibaru.id/Faidah Umu)

Inibaru.id - Sudah menjadi tradisi bilamana menjelang Ramadan, Kota Semarang pasti menggelar Dugderan. Festival ini biasanya diisi dengan pertunjukan kesenian dan arak-arakan yang dimulai dari Balai Kota Semarang. Selain karnaval dan arak-arakan, satu hal lainnya yang identik dengan Dugderan yaitu Pasar Malam Dugderan.

Bertempat di eks Pasar Yaik Semarang atau di sekitar Pasar Johar, Semarang, pasar ini menyediakan beragam dagangan dari mulai makanan, pakaian, hingga mainan tradisional anak. Nah, yang terakhir ini nggak pernah ketinggalan. Mainan tradisional seperti gerabah dan kapal-kapalan selalu menghiasi Pasar Malam Dugderan.

Salah seorang pedagang mengatakan, berjualan mainan tradisional anak seperti itu sudah menjadi kebiasaan.

“Ini sudah dari dulu begini ya, yang dijual itu gerabah, kapal otok-otok, baju-baju, makanan, topeng-topeng seperti saat ini. Kayaknya sih memang sudah turun temurun,” ungkap seorang pedagang kapal mainan Solihin.

Kapal otok-otok di Pasar Malam Dugderan. (Inibaru.id/Faidah Umu)

Bila dilihat sih memang sederhana ya, Millens. Mereka menjual mainan tradisional yang saat ini sudah jarang ditemui. Eits, tapi jangan salah, berkat Pasar Malam Dugderan, pedagang bisa mengantongi omzet yang lumayan, lo.

Dalam sehari, Solihin bisa menjual lebih dari 30 kapal otok-otok. Dia menjual barang dagangannya dengan harga Rp 10 ribu untuk yang berukuran kecil dan Rp 15 ribu untuk yang besar. Dalam seminggu, dia sudah bisa mengantongi omzet sebesar Rp 3 juta.

Selain Solihin, Wiwid Rahayu (38) juga menjadikan Pasar Malam Dugderan sebagai sebuah kesempatan untuk menghasilkan uang. Dia menjual berbagai macam hiasan yang terbuat dari kayu dan gantungan kunci dengan beragam bentuk.

Salah seorang pedagang di Pasar Malam Dugderan. (Inibaru.id/Faidah Umu)

“Saya ambil barang-barang ini dari Klaten terus saya jual lagi di sini. Buat yang hiasan-hiasan ini saya jual Rp 50 ribu per buah terus gantungan kuncinya Rp 5 ribu saja,” ungkap perempuan asal Grobogan ini.

Omzet yang didapat Wiwid juga nggak main-main. Dia bisa mengantongi Rp 8-10 juta dalam dua minggu, lo. Wah, lumayan juga ya.

Wiwid mengaku dirinya biasa menjajakan dagangan di beberapa pasar malam di Jawa Tengah. Setelah di Dugderan, dia berencana akan meramaikan pasar malam di Kebuman pada bulan Syawal nanti.

Nggak hanya pedagng yang merasa diuntungkan dengan Pasar Malam Dugderan. Para warga pun merasa senang bila ada pasar tersebut. Di sana, mereka bisa melepas penat sekaligus bernostalgia dengan beberapa mainan tradisional yang dulu menjadi kesukaannya.

“Ini beli buat saya sama adik saya. Buat punya-punya saja sih sebenarnya. Kapal otok-otok ini mengingatkan masa-masa kecil saya. Terus saya juga nggak tahu belinya dimana lagi. Jadi mumpung nemu ya beli saja, harganya juga murah,” jelas Bayu (19) salah satu pengunjung pasar malam Dugderan.

Selain melestarikan tradisi, Dugderan nyatanya menjadi berkah bagi para pedagang di Pasar Malam Dugderan. Semoga tradisi Dugderan ini senantiasa lestari ya, Millens. (Faidah Umu/E04)