Membela Kaum Difabel dan Lansia ala 'Ketimbang Ngemis'

Mendapatkan kehidupan yang layak di negeri ini merupakan hak setiap orang. Negara pun berjanji akan memelihara tiap fakir miskin dan anak terlantar di bumi kaya ini. Namun, dalam praktiknya, tak semua yang marjinal mendapatkan haknya. Mereka pun tetap berusaha sendiri meski tertatih, dan daripada mengemis.

Membela Kaum Difabel dan Lansia ala
Nenek berjualan jajan pasar. (foto: instagram)
1k
View
Komentar

Inibaru.id - Mendapatkan kehidupan yang layak di negeri ini merupakan hak setiap orang. Negara pun berjanji akan memelihara tiap fakir miskin dan anak terlantar di bumi kaya ini. Namun, dalam praktiknya, tak semua yang marjinal mendapatkan haknya. Mereka pun tetap berusaha sendiri meski tertatih, dan daripada mengemis.

Beberapa tahun ini, sekelompok orang yang bergerak dalam gerakan Ketimbang Ngemis bergerak menyusuri penjuru Tanah Air, dimulai dari Jakarta, untuk memotret orang-orang yang keukeuh berdagang dan anti-mengemis, meskipun (maaf) mereka bisa dimaklumi andaikata mengemis.

Dalam potret yang diunggah di akun Instagram @ketimbang.ngemis itu, banyak diperlihatkan orang yang menolak mengemis meski harus tertatih dalam berjualan.

Sesuai dengan slogan “Say no to ngemis!”, Ketimbang Ngemis berusaha mencuplik kehidupan para “pejuang” itu. Mereka yang tiada lelah berusaha sendiri, tanpa bantuan pemerintah maupun belas kasihan orang, adalah bentuk kegigihan yang patut diapresiasi, menurut mereka.

Adalah Rizki Pratama, sosok pemuda asal Yogyakarta yang menginisiasi gerakan Ketimbang Ngemis ini pada Juni 2015. Kala itu, ia mengunggah seorang pedagang yang tetap berjualan meski terlihat begitu renta. Rizki yang merasa tersentuh kemudian berpesan kepada khalayak untuk membeli barang dagangannya itu, disertai lokasi di mana si pedagang itu biasa mangkal dan apa yang dijual.

Rupanya, apa yang dilakukan Rizki mendapatkan perhatian orang. Bahkan, jargon: “Belilah walau tak butuh sekali pun” kini menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas yang berbasis di media sosial ini.

Hingga kini, Ketimbang Ngemis telah menggurita di seantero Indonesia dengan membuka “cabang” di mana-mana, di antaranya Semarang, Palembang, dan Jakarta. Tiap kota biasanya memprofilkan para pejuang anti-ngemis di daerahnya masing-masing.

Mereka menyasar para pedagang dengan kebutuhan khusus atau para lansia untuk dipromosikan. Bagi Ketimbang Ngemis, para pedagang itu patut didukung keberadaannya. Tujuan mereka hanyalah satu, yakni menyebarkan semangat orang-orang yang menolak menyerah pada keadaan itu.

Mereka mengangkatnya ke tengah masyarakat agar tiap orang tahu bahwa mengemis bukan satu-satunya pilihan, dan mereka tidaklah sendirian dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini.

Tak lama, Ketimbang Ngemis yang semula bergerak di dunia maya mulai mengadakan pertemuan atau kopdar (kopi darat) di dunia nyata. Mereka pun berkomunitas dan berinteraksi dengan para pejuang anti-mengemis, di antaranya, melakukan aksi sosial.

Sebagian komunitas, baik secara individu, sekelompok, atau di bawah bendera komunitas, dalam satu kesempatan mencoba memberikan bantuan atau menginisiasi bantuan bagi para pejuang anti-ngemis itu, mulai dari sekadar membantu berjualan hingga membantu pengembangan usaha.(ADM/IB)