Bercerita Lewat Gambar, Kenapa Nggak?

Bercerita Lewat Gambar, Kenapa Nggak?
Ayub, dosen sekaligus komikus lepas di beberapa penerbit. (Inibaru.id/Artika Sari)

Ada banyak cara untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, salah satunya dengan media komik. Itulah yang dipikirkan beberapa komikus Semarang berikut.

Inibaru.id – Sejak dulu, komik adalah salah satu media hiburan yang digandrungi anak-anak. Gambar dan cerita yang disuguhkan memanjakan mata dan imajinasi anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Saking sukanya dengan komik, beberapa dari mereka bahkan bercita-cita menjadi seorang komikus.

Hal itulah yang mengantarkan Yuswanto menjadi komikus seperti sekarang ini. Ketertarikan Yuswanto terhadap komik bermula saat dia membaca komik Dragon Ball. Yuswanto yang saat itu masih duduk di kelas 3 SD lantas mulai berlatih menggambar. Bakat lelaki asal Semarang itu kian terasah ketika berhasil memenangi beberapa perlombaan menggambar tingkat kota.

Sebelum menjadi komikus lepas, Yuswanto sempat bekerja di media. (Inibaru.id/Artika Sari)

“Ini bidang yang paling saya sukai, karena itu saya juga sampai menjadikannya mata pencaharian saya,” ujar lelaki 30 tahun itu.

Yuswanto juga mengungkapkan, dirinya bisa menyampaikan pesan pada setiap karyanya. Lewat karakter yang ada di dalam komik, dia bisa menyisipkan nilai-nilai kehidupan.

“Menurut saya, komik adalah media yang efektif untuk berbagi pengalaman serta mengedukasi pembaca, khususnya yang berkaitan dengan agama.”

Senada dengan Yuswanto, Ayub pun memiliki alasan serupa. Dia mulai menekuni tertarik terjun ke dunia komik kala membaca karya Akira Toriyama itu.

Dosen yang mengajar mata kuliah Ilustrasi dan Animasi di Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) di Stikom Semarang ini perlahan mulai serius belajar membuat komik saat berkunjung ke Papilon Studio pada 2008 silam. Menurut Ayub, komik adalah media yang cepat untuk menyampaikan pesan pada pembaca.

“Selain itu, komik juga bisa dibikin sendiri. Menurut saya, komik yang paling berkesan adalah Dragon Ball. Komik yang baik ya seperti itu. Setiap goresannya mewakili perjuangan komikusnya,” tutur Ayub.

Semarang memiliki segudang komikus bertalenta, nggak sedikit juga yang menjadi komikus untuk komik-komik luar. (Inibaru.id/Artika Sari)

Ayub menambahkan, Semarang memiliki banyak talenta di bidang industri komik. Sayang, hambatan terbesar yang masih dihadapi komikus lokal adalah kurangnya dukungan dari pelbagai pihak, khususnya pemerintah.

“Menurut saya, supaya komik lokal bisa berkembang, pemerintah sebaiknya membuat undang-undang tentang pembatasan komik impor. Dengan dibatasinya peredaran komik impor, ini akan memberi kesempatan untuk mengangkat komik lokal supaya disukai pembaca di negeri sendiri,” tambah warga Pedurungan ini.

Kendati begitu, komik lokal pun sekarang sudah mulai diminati masyarakat. Ini dibuktikan dengan banyaknya komik lokal yang dipajang di rak-rak toko buku.

Berawal dari hobi dan berlanjut sebagai mata pencaharian memang asyik ya, Millens. Semoga komikus-komikus ini bisa semakin mengembangkan industri komik lokal. Tentu saja, dukungan dari masyarakat sangat diharapkan agar komik-komik itu dapat mendunia. (Artika Sari/E04)