Media Sosial Bisa Mengakibatkan Gangguan Jiwa, Benarkah?

Media sosial disebut-sebut sebagai salah satu hal yang bisa mengakibatkan gangguan jiwa. Benarkah?

Media Sosial Bisa Mengakibatkan Gangguan Jiwa, Benarkah?
Media sosial bisa memicu gangguan jiwa. (Albcan.org)

Inibaru.id – Setiap orang leluasa mengungkapkan pendapat, gagasan, aktivitas, bahkan gaya hidupnya di media sosial. Para pengikut atau temannya di media sosial juga leluasa melihat apa yang seseorang bagikan. Mereka bisa saja mengapresiasi, tapi ada juga yang justru merundung kegiatannya.

Beberapa kasus perundungan di media sosial membuat seseorang depresi, bahkan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Pada 2013, seorang gadis bernama Hannah bunuh diri lantaran terus diejek orang nggak dikenal di jejaring sosial Ask.fm yang berbasis di Latvia.

Nggak dimungkiri, media sosial turut menjadi pemicu terjadinya gangguan jiwa. Kendati menjadi pemicu, Psikolog Monika Windriya Satyajati menegaskan media sosial bukan penyebab gangguan jiwa.

“Media sosial bukan penyebab, tapi bisa memicu kambuhnya gangguan jiwa. Semisal penggemar K-Pop depresi karena idolanya meninggal, padahal depresi itu sebenarnya sudah dia alami sedari dulu tapi nggak tertangani,” ujar perempuan yang kerap disapa Monik ini.

Selain itu, media sosial juga bisa menjadi penyebab kambuhnya gangguan jiwa yang dialami seseorang.

“Bagi penderita, memang butuh tekad yang besar membuka diri ke psikolog atau psikiater dan konsisten menjalani terapi buat mengatasi masalahnya. Inilah yang sulit. Karena pengguna nggak memiliki kontrol diri yang baik, makanya media sosial bisa memicu gangguan jiwanya kambuh,” imbuh Monik.

Sementara itu, media sosial juga nggak jarang menjadi tempat menarik perhatian. Monik menambahkan, caper alias cari perhatian melalui status nggak selalu bisa langsung dikategorikan sebagai gangguan jiwa. Caper ini tentu kembali lagi pada motif orang tersebut.

Terkadang, pengguna media sosial membuat status hanya untuk memancing orang berkomentar tanpa peduli komentar itu mengundang reaksi yang positif atau negatif. Semakin banyak orang yang berkomentar, pengguna merasa berhasil menarik perhatian.

“Biasanya ada yang nggak suka melihat unggahan tertentu. Sebenarnya unggahan itu wajar, tapi karena yang melihat punya issue tertentu dalam dirinya sedari kecil, jadi dia nggak suka. Nah, itu yang perlu digali lebih dalam lagi dari dia,” kata Monik.

Boleh-boleh saja kok pakai media sosial, asal kamu bisa mengontrol diri dengan baik, Millens. Kalau kamu merasa media sosial membuatmu merasa lelah, cobalah untuk mengurangi penggunaannya dengan melakukan kegiatan positif. Bagaimana menurutmu? (Artika Sari/E04)