Masjid Raya Djienne dan Tradisi Melabur Bangunan dengan Lumpur di Mali

Masjid Raya Djienne dan Tradisi Melabur Bangunan dengan Lumpur di Mali
Masjid Djenne. Masjid ini 'mandi' lumpur setahun sekali. (Flickr/annedavid2012)

Beda dengan masjid-masjid di Indonesia yang sebisa mungkin bersih dari lumpur, di Masjid Djenne, Mali, justru ada festival yang membuatnya 'mandi' lumpur setiap tahun. Apa alasannya, ya?

Inibaru.id – Masjid biasanya dianggap sebagai tempat yang bersih dan bebas dari berbagai macam kotoran, termasuk lumpur. Namun, ini berbeda dengan Masjid Djenne. Setiap tahun, masyarakat setempat justru memadikan masjid terkenal di Mali ini dengan lumpur.

Perlu kamu tahu, beberapa bangunan masjid di Mali diketahui menggunakan lumpur atau tanah liat untuk membangunnya. Selain Masjid Djinguereber di Timbuktu, Masjid Djienne juga berbahan dasar lumpur.

Konon, Masjid Djienne telah berdiri sejak 1901. Sebetulnya, bahan rangka bangunan masjid yang ada di selatan Mali ini adalah kayu. Namun, seluruh bangunannya dilapisi dengan lumpur basah yang dibiarkan mengering dengan sendirinya.

Dinding Masjid Djenne terbuat dari lumpur. (Flickr/300tdorg)
Dinding Masjid Djenne terbuat dari lumpur. (Flickr/300tdorg)

Ukuran masjid ini cukup besar dengan panjang mencapai 91 meter dan tinggi 20 meter. Kalau kamu perhatikan, bentuk bangunannya sangat unik, mirip istana pasir di pinggir pantai, tapi dengan ukuran yang sangat besar.

Karena terbuat dari lumpur, dinding masjid ini bisa retak atau terkikis. Nggak ingin masjid bersejarah itu rusak atau bahkan hancur, masyarakat setempat pun melakukan perbaikan setiap tahun. Mereka melapisi dinding masjid dengan lumpur baru untuk menghilangkan retakan dan memperkuatnya.

Menjadi Tradisi Tahunan

Kegiatan melabur masjid dengan lumpur ini pun menjadi tradisi tahunan sekaligus atraksi wisata yang menarik perhatian turis asing. Tradisi ini bernama Le Crepissage yang secara harafiah berarti pemelesteran.

Biasanya, tradisi ini dilakukan saban April, saat musim hujan tiba. Pada malam hari menjelang masjid dilabur dengan lumpur, warga sekitar bernanyi dan menari dalam festival La Nuit de Veilla.

Ada setidaknya 80 pakar bangunan yang dilibatkan dalam pemelesteran masjid tersebut. Setiap ahli ini membimbing sejumlah tim yang dibagi secara terpisah di berbagai bagian masjid. Setiap tim kemudian membawa lumpur basah dengan dalam wadah khusus untuk melapisi "wilayah kerja"- nya.

Proses pelumuran dinding Masjid Djenne dengan lumpur. (Flickr/ralf-steinberger)
Proses pelumuran dinding Masjid Djenne dengan lumpur. (Flickr/ralf-steinberger)

Proses pelumuran masjid ini dilakukan setelah Subuh dan selesai pada pukul 09.00. Pada siang hari, lumpur pun mengering. Hal ini menandakan bahwa perbaikan masjid selesai dilakukan.

Menariknya, tim yang melakukan pelumuran lumpur paling gesit dengan hasil terbaik berhak atas hadiah sebanyak 50 ribu CFA Francs atau sekiar Rp 1 juta. Terkesan nggak seberapa, namun sangat berharga bagi warga Djenne yang berpenghasilan lebih rendah dari Rp 15 ribu setiap hari.

Kapan lagi, Millens, bisa melihat masjid “mandi” lumpur? Yuk, kapan kita bisa berkunjung ke Masjid Djenne? (Det/IB09)