Komentar Psikolog Soal Marak Orang Mengamuk Saat Ditilang

Komentar Psikolog Soal Marak Orang Mengamuk Saat Ditilang
Adi Saputra tengah meluapkan amarahnya dengan mempreteli motor karena ditilang. (Instagram/@lambe_turah)

Menanggapi kasus banting motor karena nggak terima ditilang, ahli psikolog sebutkan pelaku punya pribadi tempramental yang mudah terpicu emosi. Yuk! simak penjelasan lengkapnya.

Inibaru.id – Aksi orang mengamuk karena ditilang polisi saat ini tengah viral di media sosial. Bukan hanya aksi menghancurkan kendaraan bermotornya sendiri, pelaku juga terang-terangan membakar STNK. Adi Saputra bukanlah yang pertama melakukan kejadian ini, tapi masih ada yang lain.

Kejadian ini pun menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan mengapa kejadian ini bisa sampai terjadi.

Menanggapi hal ini, seorang ahli psikolog sekaligus staf pengajar di Universitas Indonesia (UI) Dr. Rose Mini Agoes Salim pun angkat bicara. Menurutnya, kejadian tersebut diakibatkan oleh pribadi seseorang yang mudah sekali terpicu emosi.

"Tapi yang lebih jelas lagi menurut saya, dia enggak punya anger management," kata Romi, seperti ditulis Kompas.com, Jumat (8/2/2019).

Ledakan emosi yang dialami Adi tersebut bisa jadi dipicu oleh banyak hal. Misalnya karena malu ditilang di depan kekasihnya, kesal, atau bisa juga karena dia tahu bahwa dirinya salah, tapi enggan mengakuinya. Tanpa sadar, dia menghancurkan miliknya untuk menutupi rasa takut dengan polisi.

"Ini namanya self destructive, menghancurkan diri sendiri. Kadang ada orang marah dia tidak menonjok orang lain tapi memukul dirinya atau menghancurkan apa yang dia miliki," jelas Romi.

Romi juga mengatakan orang yang meluapkan emosi seperti kasus Adi, disebabkan karena nalarnya nggak berjalan dan hanya menggunakan emosinya. Saat-saat seperti itu, orang yang marah nggak dapat berpikir dengan tenang dan nggak memikirkan dampak ke depan. Misalnya membakar STNK yang menyebabkan kendaraannya nggak lagi memiliki surat-surat.

Kendati demikian, orang lain juga nggak tahu apakah sebelum peristiwa itu terjadi, pria tersebut sudah menyimpan rasa marah atau emosi yang nggak terlampiaskan hingga akhirnya meluap saat ditilang.

"Jadi bisa saja sebelumnya sudah ada emosi-emosi yang diredam, kemudian penilangan itu jadi seperti pelatuk yang akhirnya keluarlah semuanya (amarah)," kata Romi menduga.

Dari kasus ini Romi mengingatkan, marah adalah hal yang wajar untuk semua orang. Namun, seseorang juga memiliki tugas untuk mengolah dan mengenali emosi tersebut. Terutama belajar untuk mengatur reaksi yang sesuai dengan stimulus.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatur emosi adalah berpikir dengan nalar, mempertimbangkan dampak yang akan terjadi sebelum melakukan sesuatu. Melatih kesabaran ketika marah juga hal yang penting ya, Millens. (IB07/E05)