Lika-liku Waria; Nggak Dianggap Keluarga Tapi Bahagia Jadi Diri Sendiri

Lika-liku Waria; Nggak Dianggap Keluarga Tapi Bahagia Jadi Diri Sendiri
Anggota Perwaris berkumpul dua minggu sekali. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menjadi waria mungkin adalah pilihan sulit. Lalu bagaimana kesaksian para waria ini dalam melakoni kehidupan sulit mereka?

Inibaru.id - Hingga kini, sebagian orang masih memandang waria dengan sebelah mata. Nggak jarang kehadiran mereka sering ditolak di masyarakat. Eh, kamu tahu nggak kalau di Kota Semarang terdapat satu organisasi yang menghimpun para waria? Namanya, Persatuan Waria Semarang (Perwaris).

Lantaran penasaran, saya meminta izin mengikuti pertemuan rutin Perwaris di kesekretariatan Pewaris yang terletak di Jalan Randusari Sapen 1/173. Beberapa anggota hadir. Mereka memiliki berbagai profesi, mulai dari penyanyi, pegawai salon, hingga notaris. Dari sana mereka mengungkapkan seperti apa suka duka hidup yang mereka pilih.

Pengakuan terlontar dari mulut Yesi Arista. Awal memutuskan menjadi waria membuatnya bimbang dan malu. Bahkan dia sempat nggak diterima di keluarganya.

“Awalnya ya merasa malu. Nggak diterima keluarga. Tapi lambat laun karena saya bekerja keras buat usaha kecil-kecilan, akhirnya lambat laun mulai diterima,” ujar Yesi.

Pertemuan rutin Perwaris yang berlangsung cukup hangat. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Pertemuan rutin Perwaris yang berlangsung cukup hangat. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hal senada diungkapkan oleh Ferdina Hani. Dia mengeluh kesulitan mencari kos. Menurutnya, masyarakat sudah antipati meski belum mengenal dirinya.

“Kalau saya sering banget menjadi bahan bullying dan stigma. Sering juga jadi diskriminisasi ormas maupun masyarakat. Tapi senangnya kalau bisa kumpul bersama teman-teman Perwaris ini. Menambah relasi juga,” terang Ferdina.

Seperti yang sudah dikatakan di atas tadi, menjadi waria merupakan sebuah pilihan. Mungkin hal itulah yang mendasari hati seorang Ria Ardana. Dia mengambil keputusan menjadi waria. Saya sulit membayangkan bagaimana reaksi keluarga Ria. Pasalnya keluarganya merupakan anggota kepolisian.

“Dengan menjadi waria saya bisa merasa menjadi diri sendiri. Berkarya dengan cara sendiri. Meskipun tetap saja di lingkungan kerja akan ada banyak tekanan,” jelasnya.

Sementara Madam Gildha, mengaku mendapat banyak untung dari menjadi waria. Tuntutan profesi membuatnya menjadi seseorang yang serba bisa.

“Saya pribadi cenderung menikmati karena mendapatkan banyak materi dari menjadi waria. Salah satunya adalah dari profesi saya saat menjadi MC,” pungkasnya.

Entah kamu setuju atau nggak dengan keputusan mereka menjadi waria, kamu nggak boleh seenaknya memperlakukan mereka ya. (Audrian F/E05)