LAPAN Berikan Penjelasan Ilmiah Terkait Fenomena Bulan Bercincin

LAPAN Berikan Penjelasan Ilmiah Terkait Fenomena Bulan Bercincin
Fenomena bulan bercincin. (Flickr/lenzmoser)

Warganet ramai membahas fenomena bulan bercincin yang bisa dilihat di sebagian wilayah di Indonesia. Peneliti LAPAN mengatakan jika hal itu terjadi karena peristiwa perigee, sedangkan peneliti Observatorium Bosscha mengatakan itu sebagai fenomena halo bulan. Seperti apa penjelasannya ya?

Inibaru.id – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memberikan penjelasan terkait fenomena bulan bercincin yang terlihat di Jawa Timur pada Selasa (2/6/2020). Gambar fenomena bulan bercincin yang sangat unik ini sempat menghebohkan warganet. Peristiwa ini persis seperti yang terjadi pada matahari di saat siang.

Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto menyatakan, kejadian tersebut berlangsung saat kondisi perigee atau ketika bulan berada dalam kondisi dekat dengan bumi. Saat peristiwa ini terjadi, bulan nampak lebih besar dari waktu-waktu biasanya.

“Bulan berada di dekat perigee berarti ia akan tampak lebih besar dari ukuran rata-rata,” katanya.

Lapan menyebut fenomena bulan bercincin sebagai sesuatu yang normal. (Flickr/

Paul Williams)
Lapan menyebut fenomena bulan bercincin sebagai sesuatu yang normal. (Flickr/ Paul Williams)

Dia menjelaskan pula terkait fenomena halo yang terjadi di atmosfer. Ini terjadi saat ada kristal es yang terbentuk di atas ketinggian tertentu. Kristal ini membiaskan cahaya terang seperti dari matahari atau bulan dan menyebabkan munculnya halo yang disebut warganet sebagai cincin.

Hanya, Rhorom menegaskan bahwa fenomena bulan perigee dan halo merupakan dua peristiwa yang nggak sama. Keduanya nggak ada hubungan sebab-akibat. Satu hal yang pasti, fenomena halo bulan atau bulan bercincin nggak sering terjadi.

Sementara itu, Ahli Peneliti Observatorium Bosscha Yanty Yulianty menyebut fenomena bulan yang dilingkari cahaya ini sebagai fenomena halo.  Menurutnya, secara ilmiah halo bulan nggak berkaitan dengan bulan perigee.

Fenomena halo bulan terjadi saat cahaya dari bulan mengalami pembiasan (refleksi) oleh kristal es yang berbentuk heksagon. Proses ini terjadi di suatu lapisan awan pada ketinggian tertentu. Awan ini biasanya adalah awan Cirrus yang memang posisinya sangat tinggi di atmosfer.

Fenomena bulan bercincin disebut sebagai halo bulan. (Flickr/

John Flannery)
Fenomena bulan bercincin disebut sebagai halo bulan. (Flickr/ John Flannery)

Pembiasan cahaya inilah yang menciptakan cahaya melingkar di sekitar sumber cahaya. Dalam hal ini bulan. Bulan pun terlihat seperti bercincin dan sangat indah. Fenomena ini juga sama persis terjadi pada matahari di siang hari.

"Dalam hal ini mediumnya kristal es, sinar cahaya bulan mengalami pembelokan. Hasil pembiasannya yang kita lihat sebagai halo," lanjutnya.

Fenomena halo bulan dipengaruhi oleh faktor cuaca sehingga jarang bisa diprediksi. Berbeda dengan fenomena perigee yang waktunya bisa diprediksi.

Kamu sudah pernah melihat langsung fenomena bulan bercincin ini, belum Millens? (Det/MG26/E07)