Langkah Indonesia untuk Menyudahi Konflik Myanmar

Presiden mengirim Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ke Myanmar, untuk mendesak pemerintah setempat memberikan hak warga Rakhine.

Langkah Indonesia untuk Menyudahi Konflik Myanmar
Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di jalan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, Jumat (1/9/2017). (Foto: Reuters)

Inibaru.id - Berbagai konflik yang mendera sejumlah negara di berbagai negara membuat Indonesia harus turun tangan. Negeri ini tidak bisa berpangku tangan, kecuali ingin mengkhianati Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dalam hal mewujudkan perdamaian dunia.

Apa yang tertera dalam UUD 1945 bukanlah isapan jempol semata. Indonesia berkewajiban menjadi solusi atau minimal membantu mencarikan solusi bagi penduduk dunia yang tengah mengalami ketidakadilan yang mengancam perdamaian.

Yang terkini adalah konflik yang terjadi antara penduduk muslim Rohingya di Myanmar dengan pemerintah militer negeri tersebut. Para penduduk muslim tersebut terancam terusir dari kampung halamannya di Rakhine State.

Baca juga: Indonesia yang Begitu Terbuka terhadap Para Pencari Suaka

Menanggapi konflik tersebut, Indonesia pun mencoba berkontribusi dalam penyelesaian krisis kemanusiaan di wilayah Rakhine State ini. Presiden RI Joko Widodo pada Minggu (3/9) pun mengeluarkan pernyataan untuk membantu penyelesaian konflik tersebut.

Presiden mengirim Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ke Myanmar, untuk mendesak pemerintah setempat memberikan hak warga Rakhine. Dalam sebuah pidato kenegaraan itu, Jokowi menegaskan pentingnya aksi nyata dibanding sekadar aksi mengecam pihak tertentu.

Dilansir dari GNFI, berikut ini merupakan pernyataan lengkap Presiden terkait aksi kekerasan dan krisis kemanusiaan di Rakhine State, sebagaimana dilansir Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

  1. Saya (Jokowi) dan seluruh rakyat Indonesia, kita menyesalkan aksi kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar.
  2. Perlu sebuah aksi nyata bukan hanya pernyataan kecaman-kecaman. Dan pemerintah berkomitmen terus untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan, bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil di Indonesia dan juga masyarakat internasional.
  3. Saya telah menugaskan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak termasuk Sekretaris Jenderal PBB Bapak Antonio Guterres dan Komisi Penasihat Khusus Untuk Rakhine State, Bapak Kofi Annan.
  4. Dan kemarin Menteri Luar Negeri telah berangkat ke Myanmar, untuk meminta pemerintah Myanmar agar menghentikan dan mencegah kekerasan, agar memberikan perlindungan kepada semua warga termasuk muslim di Myanmar, dan agar memberikan akses bantuan kemanusiaan.
  5. Untuk penanganan kemanusiaan aspek konflik tersebut, pemerintah telah mengirim bantuan makanan dan obat-obatan. Ini di bulan Januari dan Februari sebanyak 10 kontainer.
  6. Juga telah membangun sekolah di Rakhine State dan juga segera akan membangun rumah sakit yang akan dimulai bulan Oktober yang akan datang di Rakhine State.
  7. Indonesia juga telah menampung pengungsi dan memberikan bantuan yang terbaik.
  8. Saya juga menugaskan Menteri Luar Negeri untuk terbang ke Dhaka, di Bangladesh, dalam rangka menyiapkan bantuan kemanusiaan yang diperlukan pengungsi-pengungsi yang berada di Bangladesh. Kita harapkan minggu ini kita akan mengirim lagi bantuan makanan dan obat-obatan.

Baca juga: Konflik Rohingya Meruncing, Berbagai Lembaga Kemanusiaan di Indonesia Galang Donasi

Sekali lagi, kekerasan, krisis kemanusiaan ini harus segera dihentikan. (GIL/IB)