Kurang Tenaga Geospasial, Pemerintah Gandeng PTN-PTN Ini

Bagi kalian yang kini tengah mendalamani kajian ilmu di bidang Geospasial jangan khawatir, karena pemerintah dalam hal ini Badan Informasi Geospasial (BIG) masih membutuhkan kurang lebih 20.000 tenaga ahli di bidang tersebut.

Kurang Tenaga Geospasial, Pemerintah Gandeng PTN-PTN Ini
Hasanuddin Z Abidin. (Foto: Badan Informasi Geospasial)

Inibaru.id – Diakui atau tidak, hingga kini Indonesia masih kekurangan begitu banyak tenaga ahli dalam bidang Geospasial.  Diperkirakan, dibutuhkan setidaknya 20.000 sumber daya manusia dengan kualifikasi tersebut. Hal tersebut tentu saja mengkhawatirkan, mengingat negara ini tengah diarahkan sebagai negara maritim yang memerlukan para ahli pemetaan tersebut.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Hasanuddin Z Abidin di hadapan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

"Kami butuh 20.000 surveyor untuk dipekerjakan dalam bidang geospasial ini," ungkap Hasanuddin seperti dikutip dari dari laman ITS, yang dilansir dari sebagaimana dilansir dari Okezone, Jumat (25/8).

Baca juga: Berharap Terobos Pasar Makanan di Eropa, Ditjen Industri Pangan Akan Ikuti Pameran ANUGA 2017 di Jerman

Ia menambahkan, ilmu terkait Geospasial ini sedang dibutuhkan di Indonesia saat ini. Sebab, ilmu ini diperlukan untuk proses pemetaan perencanaan pembangunan. Geospasial sendiri, jelas Hasanuddin, merupakan salah satu bidang geomatika yang memuat informasi dan berbagai jenis data mengenai kenampakan bumi.

Ia memaparkan, proses untuk menghasilkan Geospasial atau pemetaan ini antara lain meliputi berbagai tahapan. Mulai dari pembuatan sistem referensi, titik kontrol, pemotretan udara, toponimi peta, tata ruang dan kemudian didistribusikan melalui jaringan internet.

"Informasi geospasial membantu agar tidak banyak pemetaan di Indonesia yang tumpang tindih," imbuhnya.

Peran penting ilmu Geospasial pada visi Indonesia sebagai poros maritim dunia juga turut dipaparkan Hasanuddin. Menurutnya, ilmu ini sangat penting guna menunjang visi Indonesia tersebut.

"Seperti halnya menetapkan kebijakan tol laut. Tentu diperlukan pemetaan pelabuhan-pelabuhan dengan kondisi wilayah sekitar yang strategis dalam segi keamanan," tambahnya.

Kendati demikian, lanjut dia, hingga saat ini peran penting dalam visi besar tersebut terkendala oleh kurangnya SDM di Indonesia.

Dirinya berharap pemaparannya terkait Geospasial bisa membuka mata para mahasiswa tersebut khususnya di bidang Geomatika agar tak khawatir mengenai pekerjaan di masa depan. Pasalnya, saat ini lulusan yang berkaitan di bidang Geospasial sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Baca juga: Begini Cara Jokowi Bikin Rakyat Sekitar Perbatasan Merasakan Kehadiran Negara

Untuk menutupi kekurangan SDM tersebut, Badan Informasi Geospasial (BIG) yang menggantikan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosutarnal) sejak 2011 ini telah menggandeng sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk bekerja sama.

Di antara PTN yang telah bekerja sama itu adalah Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Institut Teknologi Nasional (ITN), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Diharapkan, dengan adanya kerja sama itu akan menelurkan bibit-bibit baru yang ahli di bidang geospasial. (OS/IB)