Komersialisasi di Balik Konservasi Satwa Karismatik, Baik atau Buruk?

Komersialisasi di Balik Konservasi Satwa Karismatik, Baik atau Buruk?
Keseruan WTID Talk #5 dengan tajuk Perempuan dan Pariwisata: Komersialisasi di Balik Konservasi Satwa Karismatik. (Istimewa)

Women in Tourism Indonesia kembali mengadakan WTIDTalk #5. Kali ini, para perempuan ini menyoal 'Perempuan dan Pariwisata: Komersialisasi di Balik Konservasi Satwa Karismatik'. Seperti apa ya keseruan acara ini?

Inibaru.id – Nggak sedikit organisasi atau orang yang tampak memerhatikan komodo, orang utan, dan berbagai satwa karismatik di Indonesia lantaran binatang-binatang tersebut begitu populer serta menarik perhatian. Mereka melakukan konservasi. Namun, alih-alih murni melakukan usaha pelestarian, sebagian dari mereka justru melakukan komersialisasi kegiatan ini.   

Isu inilah yang kemudian diangkat Women in Tourism Indonesia (WTID) dalam sebuah webinar bertajuk “Perempuan dan Pariwisata: Komersialisasi di Balik Konservasi Satwa Karismatik” Seminar yang digelar via Zoom dan Youtube ini merupakan seri ke-5 dari WTIDTalk.

Dihadiri sekitar 100-an peserta, WTID Talk #5 digelar pada Sabtu (3/7/2021) pukul 09.00 sampai 11.30 WIB dengan menampilkan tiga narasumber dan seorang penanggap.

Ketiga narasumber itu adalah Miss Scuba International 2018 Nadhina Suryadi, Community Project Manager Wicked Diving cum Tourism Waste Management Enthusiast Marta Muslin Tulis, dan Biodiversity Specialist Rondang Siregar.

Acara yang dipandu Meira sebagai MC ini pun dimoderatori oleh Anindwitya R Monica. Sementara, tempil sebagai penanggap dalam webinar rutin ini adalah Lita Hutapea.

Menanggapi isu komersialisasi satwa karismatik, Madhina Suryadi yang mengaku telah tertarik dengan dunia bawah laut dan konservasi sejak kuliah ini menampiknya. Kecintaanlah yang membawanya turut serta dalam Komunitas Cinta Laut Indonesia dan Miss Scuba.

Nah, dari situlah dia mulai sering menjadi host di acara-acara pariwisata dan bertemu dengan bayak orang yang berpengalaman di dunia kelautan.

Menjadi bagian dari Komunitas Cinta Laut Indonesia, salah satu kegiatan yang digarisbawahinya adalah keberadaan Bank Sampah di Kepulauan Seribu. Bank Sampah ini mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar.

Dia pun berpesan kepada para perempuan untuk nggak takut memulai hal-hal positif. Meski hal-hal kecil atau ikut komunitas kecil, lambat laun hal ini akan membimbing kita untuk melakukan hal-hal yang besar.

Pembicara membagi pengalamannya tentang peran perempuan di dunia wisata Indonesia. (Istimewa)
Pembicara membagi pengalamannya tentang peran perempuan di dunia wisata Indonesia. (Istimewa)

Sementara itu, Marta Muslin Tulis dari Wicked Diving mengaku mulai aktif di NGO lingkungan karena memang tertarik dengan dunia konservasi lingkungan. Dia bercerita banyak tentang Wicked Diving yang bisa meningkatkan aspek ekonomi dari pariwisata.

Beberapa hal yang dilakukan Wicked Diving antara lain pembuatan homestay, wisata dan edukasi penyu, serta pemberian edukasi terhadap masyarakat terkait dengan konservasi penyu.

Di sisi lain, Rondang Siregar yang merupakan Biodiversity Specialist mengaku sudah tertarik dengan dunia satwa sebelum aktif di konservasi orang utan. Dia menceritakan suka duka saat aktif di dunia konservasi orang utan.

Lita Hutapea pun memberikan tanggapannya terkait dengan materi yang dibagikan para pembicara. Lita mendorong siapa saja untuk nggak khawatir untuk berkontribusi di bidang-bidang konservasi, wisata, dan lain-lain.

"Setiap perempuan bisa memulai hal-hal baik yang sesuai dengan passion-nya seperti menggambar, membuat video, dan lain-lain," pungkasnya.

Menyoal satwa karismatik sebagai "komoditas" untuk dikomersialisasikan sampai kapan pun agaknya bakal jadi diskusi panjang yang nggek bisa dibahas dalam sekali duduk. Namun, semoga komersialisasi ini nggak menjadikan para fauna itu tereksploitasi dan terganggu habitatnya. (IB09/E03)